Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Dar al-Ahdi wa al-Syahadah: Konsep Yang Baik, Namun Belum Cukup

AdminKS by AdminKS
April 21, 2020
in Narasi
0
indonesia
119
SHARES
701
VIEWS

Oleh: M. Khusnul Khuluq

Bagaimana relasi agama dan negara adalah pertanyaan yang cukup menjengkelkan. Terutama bagi negara yang tidak secara tegas memposisikan dirinya. Apakah sebagai negara teokrasi seutuhnya atau sekuler sepenuhnya.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Akhir-akhir ini, Muhammadiyah sedang menata posisinya dalam konteks bernegara. Termasuk juga untuk menjawab pertanyaan bagaimana relasi antara agama dan negara. Kemudian, ide Dar al-Ahdi wa al-Syahadah menjadi salah alternatif yang menurut Muhammadiyah punya kemungkinan paling baik.

Apakah Bisa Diterima Semua Kalangan?

Dari segi peristilahan, cukup baik penerimaannya. Termasuk di kalangan akar rumput. Bukan istilah ilmiah yang susah dipahami. Mungkin karena memakai diksi berbahasa arab. Namun, apakah dari segi substansial dapat diterima semua kalangan? Mungkin.

Dar al-Ahd wa al-Syahadah artinya negara kesepakatan dan persaksian. Disebut kesepakatan karena negara ini adalah buah tangan dari kesepakatan para tokoh republik awal. Kemudian, disebut persaksian karena mendorong umat muslim turut serta dalam pembangunannya dan menyaksikan segala kemajuannya.

Baca Juga: Negara Pancasila, Negara Perjanjian dan Kesaksian (Darul Ahdi dan Darus Syahadah)

Persaksian bisa juga dimaknai sebagai ladang untuk berjuang. Bagaimana Kita ikut andil dalam pembangunan negeri ini adalah salah satu bentuk jihad. Dalam hal ini, jihad tidak hanya dimaknai perang dengan pedang, tapi juga memperbaiki kondisi republik ini adalah jihad.

Sebagai Strategi Politik Akomodatif

Saya bisa pahami mengapa organisasi akbar sekelas Muhammadiyah mengusung konsep Dar al-Ahdi wa al-Syahadah. Selain untuk menentukan sikapnya dalam bernegara, konsep Dar al-Ahdi wa al-Syahadah juga sebagai sebuah strategi politik akomodatif.

Kita mesti mengakui bahwa republik ini tidak sepenuhnya teokrasi. Juga tidak seutuhnya sekuler. Tapi berdiri antara keduanya. Republik ini adalah “sawah” yang sangat subur untuk segala benih. Baik teokrasi ataupun sekularisme mampu tumbuh subur. Keduanya punya basis yang kuat dari banyak kalangan. Itu yang membuat keduanya tumbuh subur.

Memang, negara ini tidak mengambil bentuk negara teokrasi. Namun, semangat teokrasi sangat kuat. Selain itu, tidak dipilihnya teokrasi juga memberi ruang bagi banyak orang untuk merasa memiliki dan selanjutnya juga ikut andil dalam pembangunan republik ini.

Karena itu, Dar al-Ahdi wa al-Syahadah sebagai alternatif yang dipilih oleh Muhammadiyah adalah bentuk strategi politik akomodatif. Yakni bagaimana mengakomodasi kemajuan-kemajuan negara sekuler. Juga mengakomodasi keunggulan-keunggulan negara teokrasi.

Potensi Konsep Dar al-Ahdi wa al-Syahadah

Sejauh mana potensi konsep Dar al-Ahd wa al-Syahadah dalam membangun peradaban global? Potensi penuh konsep Dar al-Ahd wa al-Syahadah adalah membuat republik ini kuat dan sejahtera. Dengan dimotori oleh orang-orang Muhammadiyah tentunya. Juga umat muslim pada umumnya.

Artinya, dalam konteks peradaban global, konsep ini masih sangat kurang memadai. Karena konsep Dar al-Ahdi wa al-Syahadah hanya bergerak pada wilayah domestik. Belum melangkah ke level global.

Karena itu, betul jika dikatakan bawa konsep ini adalah konsep yang cukup baik. Namun, ide itu belum cukup untuk membangun peradaban pada level global.

Baca Juga: Coronavirus Mengajarkan Bahwa Bumi adalah Masjid

Dalam konteks peradaban global, Muhammadiyah masih perlu membangun ide-ide seperti Dar al-Ahdi wa al-Syahadah dan sejenisnya. Yang dapat dijadikan jargon untuk naik ke level global. Untuk ikut andil dalam membangun peradaban global.

Penulis adalah aktivis dalam Human Right Defender.

Terkait

Tags: Dar al-Ahdi wa SyahadahGlobalnegara islam
Previous Post

Melebarkan Jarak Shaf Shalat Jamaah Saat Corona itu Bid’ah atau Darurat?

Next Post

Dua Varian Islam dalam Isu Corona

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Munculnya wabah COVID-19 atau lebih dikenal dengan virus Corona dewasa ini semakin meresahkan semua lapisan. Munculnya berbagai sikap

Dua Varian Islam dalam Isu Corona

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.