Drama telah menjadi cermin bagi masyarakat untuk memahami dan menginterpretasikan realitas sosial. Teori sosiologi Dramaturgi, yang diusung oleh Erving Goffman, merupakan salah satu konsep yang menarik untuk memahami perilaku sosial manusia. Teori ini menggambarkan interaksi sosial sebagai sebuah pertunjukan drama di atas panggung. Yang mana individu memainkan peran yang berbeda tergantung pada konteks sosialnya.
Dalam konteks kasus kriminalitas di Indonesia, penerapan teori sosiologi Dramaturgi dapat memberikan wawasan yang berharga tentang motif dan faktor-faktor yang mendorong individu untuk terlibat dalam tindakan kriminal. Pada tulisan ini akan menggali lebih dalam tentang teori ini dan menerapkan pemahamannya dalam kasus-kasus kriminalitas di Indonesia.
Teori sosiologi Dramaturgi mengajukan konsep bahwa interaksi sosial dapat kita pahami melalui analogi dengan pertunjukan drama di atas panggung. Erving Goffman menggambarkan individu sebagai aktor yang memainkan peran yang berbeda tergantung pada konteks sosialnya. Pada teori Dramaturgi ini ada dua konsep yang sangat terkenal dan konsep ini selalu digunakan dalam drama, pertunjukan dan juga dalam interaksi kepada masyarakat.
Yang pertama, ialah konsep “front stage”. Mengacu pada lingkungan sosial di mana individu berinteraksi dengan publik dan memainkan peran yang masyarakat umum harapkan. Pada konsep “front stage” ini menuntut suatu individu memiliki sikap yang baik di mata masyarakat seolah olah tidak ada apa-apa sehingga menurut pandangan orang lain individu ini adalah seorang yang baik dan ramah.
Di sisi lain, ada konsep “back stage”. Dalam konsep ini suatu individu dituntut untuk bisa lebih bebas dalam mengekspresikan diri mereka tanpa perhatian publik. Dalam konteks kasus kriminalitas, teori sosiologi Dramaturgi menunjukkan bahwa individu dapat terlibat dalam tindakan kriminal di “back stage” kehidupan mereka. Yang mungkin akan tidak terlihat oleh masyarakat umum.
Penerapan Teori dalam Konteks Kasus Kriminalitas di Indonesia
Kriminalitas merupakan masalah yang kompleks dan sering menjadi fokus utama dalam lingkup masyarakat Indonesia. Dengan menerapkan konsep teori Dramaturgi, kita dapat memahami faktor-faktor apa saja yang mendorong individu untuk terlibat dalam tindakan kriminal. Dalam hal ini kita dapat menggunakan konsep “back stage”. Karena orang lain tidak tahu apa yang malatarbelakangi seseorang tersebut melakukan kriminalitas padahal dalam pandangan orang lain individu itu adalah orang yang baik.
Contohnya yaitu bisa karena tekanan ekonomi yang dapat menjadi pemicu utama bagi seseorang untuk mencari cara-cara ilegal dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. Ketidaksetaraan sosial juga dapat mempengaruhi perilaku kriminal. Di mana individu yang merasa terpinggirkan atau tersudutkan dapat mencari cara untuk mendapatkan keadilan dengan cara yang salah. Selain itu, pengaruh lingkungan, seperti kelompok teman sebaya atau lingkungan yang memfasilitasi perilaku kriminal, juga dapat menjadi faktor yang signifikan.
Kasus-kasus kriminalitas yang terjadi di Indonesia dapat dijelaskan melalui perspektif teori Dramaturgi. Sebagai contoh, perampokan bersenjata di jalanan kota besar. Mungkin saja merupakan hasil dari tekanan ekonomi yang tinggi dan kurangnya kesempatan bagi para pelaku untuk mencari pekerjaan yang layak.
Karena di Indonesia ini untuk mencari pekerjaan yang layak sangat susah, dan kebutuhan ekonomi juga yang sangat tinggi yang pada akhirnya mereka mungkin merasa terpinggirkan oleh masyarakat dan mencari cara untuk mencapai keadilan atau kekayaan dengan cara yang salah. Selain itu, pengaruh dari lingkungan sekitar, seperti kelompok-kelompok kriminal atau komunitas yang memfasilitasi tindakan ilegal, juga dapat memperkuat motif untuk terlibat dalam tindakan kriminal.
Pendekatan Holistik dalam Mengatasi Masalah Kriminalitas
Dalam menghadapi masalah kriminalitas, pendekatan yang holistik dan berbasis masyarakat menjadi kunci. Langkah-langkah preventif yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga masyarakat, dan individu terkait dapat membantu mengatasi akar permasalahan yang mendorong terjadinya tindakan kriminal. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah melalui penguatan jaringan sosial dan menciptakan peluang yang adil bagi semua individu.
Misalnya, program-program pelatihan kerja dan pendidikan yang memungkinkan individu untuk meningkatkan keterampilan mereka dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Hal tersebut dapat membantu mengurangi tekanan ekonomi yang mungkin mendorong seseorang untuk terlibat dalam tindakan kriminal. Selain itu, pembentukan komunitas yang mendukung dan mempromosikan nilai-nilai positif serta memberikan dukungan sosial kepada anggotanya juga dapat membantu mencegah terjadinya tindakan kriminal.
Selain itu, penting juga untuk memperkuat sistem penegakan hukum dan keadilan yang adil bagi semua individu. Dengan menegakkan hukum secara konsisten dan memberikan sanksi yang sesuai kepada pelaku kejahatan, masyarakat dapat merasa lebih aman dan percaya bahwa keadilan akan terealisasi.
Namun demikian, pendekatan ini juga harus dapat seimbang dengan upaya rehabilitasi dan reintegrasi bagi mereka yang telah terlibat dalam tindakan kriminal, dengan tujuan untuk mencegah terulangnya perilaku kriminal di masa yang akan datang. Dengan pendekatan ini dan cara-cara yang telah tertulis, mungkin bisa menjadi pandangan para lembaga pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk turut serta mengurangi kriminalitas yang ada di Indonesia.
Kesimpulan
Teori sosiologi Dramaturgi memberikan kerangka kerja yang berguna untuk memahami perilaku kriminalitas dalam konteks sosial yang lebih luas. Dengan menerapkan konsep ini dalam konteks kasus-kasus kriminalitas di Indonesia, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang motif dan faktor-faktor yang mendorong individu untuk terlibat dalam tindakan kriminal.
Melalui pendekatan holistik dan berbasis masyarakat, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif dalam mencegah dan mengatasi masalah kriminalitas. Dengan tujuan untuk menciptakan masyarakat yang lebih aman dan beradab bagi semua individu. Dengan penerapan pendekatan holistik nicaya akan terjadi penurunan angka kriminalitas oleh tekanan ekonomi dan ketidaksetaraan sosial yang ada.
Penulis: Akbar Athian Rosyid (Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya)