Coronavirus Mengajarkan Bahwa Bumi adalah Masjid

Beribadah shalat berjamaah di masjid adalah tradisi yang terus menerus diajarkan di rumah, lembaga pendidikan dan ruang publik muslim. Bagi laki-laki muslim, jika mungkin, dia akan pergi shalat di masjid setidaknya untuk tiga waktu, yakni shalat shubuh dan maghrib saban hari, serta shalat Jumat yang dilakukan seminggu sekali.

Tapi di tengah wabah pandemi Coronavirus, makna shalat “berjamaah” itu bergeser. Begitupula nasihat imam shalat, “mari rapatkan barisan demi kesempurnaan shalat”. Dan yang lebih penting lagi, kata “masjid” juga harus dimaknai ulang.

Nabi Muhammad SAW berkata:

Dimanapun kamu berada saat waktu shalat tiba, kerjakanlah shalat. Sebab, bumi ini adalah masjid

(Shahih Muslim, buku IV, hadits 1057).

Hadits itu mengajarkan bahwa bumi adalah masjid. Di manapun setiap jengkal tanah di muka bumi, karena ia merupakan “masjid” yang artinya “tempat bersujud”, maka ia harus senantiasa dimuliakan. Seorang muslim dianjurkan memuliakan dan memakmurkan “masjid”.

Bumi Sebagai Masjid

Apakah kita sudah memuliakan bumi sebagai “masjid”? Apakah kita memuliakan ekosistem di muka bumi ini sebagai wujud kita bersujud mengagungkan kekuasaan-Nya? Pertanyaan itulah yang harus kita jawab tatkala kita mulai merasa kehilangan kesempatan shalat berjamaah di masjid dan mushala. Ini baru suatu peringatan yang belum seberapa bagi orang beriman dan berakal.

Baca Juga: Jasser Auda: Bapak Maqasid Kontemporer

Apakah kita pada suatu waktu, akibat kerakusan dan kegagalan merawat bumi, maka bumi sebagai “masjid” yang sesungguhnya tidak dapat lagi menjadi sarana bagi kita mengabdikan rasa terima kasih dan memohon perlindungan pada Tuhan? Apakah kita siap jika Allah mencabut nikmat kita atas bumi ini, akibat sikap-sikap mementingkan diri sendiri, menindas makhluk lain, merusak eksistensi kehidupan alam ini?

Tatkala menciptakan manusia, Allah memerintahkannya menjadi “khalifah” di muka bumi. Sebab, bumi adalah “ladang” beramal bagi mereka. Allah tidak berharap apapun dari ketaatan manusia. Tapi Allah menciptakan desain kekuasaannya. Tatkala manusia merusak bumi, maka akibatnya akan mereka tanggung sendiri.

Jika mereka beriman pada desain kekuasaan Allah, mereka akan berupaya sabar dan tawakal dalam upaya-upaya perawatan bumi yang tak kenal lelah. Jika mereka dzalim pada diri sendiri dan alam, maka mereka hanya mendatangkan kesulitan bagi dirinya sendiri.

Manusialah yang Menjadi Sebab

Ada baiknya, di tengah wabah pandemi Coronavirus ini, kita sadar bahwa perilaku kitalah sebagai manusia yang menjadi sebab kita mulai akan kehilangan kenikmatan dalam beribadah. Sebab hakikat beribadah adalah saling tolong menolong dalam kebaikan dan mencegah kerusakan ekosistem yang semakin parah.

Kita diajarkan untuk berjamaah, bukan berdiri dalam pengertian fisik di balik tembok beton masjid. Tapi berdiri bersama-sama sebagai bagian yang saling terkait dalam ekosistem kehidupan untuk mulai bergerak menyeimbangkan ketimpangan.

Baca Juga: Nurcholish Madjid: Martir Pembaharuan Islam

Kita diajarkan “lurus dan rapat shaf” bukan lagi sekedar khidmat dalam shalat di masjid berpendingin AC. Tapi, mengeratkan kebijaksanaan sebagai tonggak utama kehidupan kita menghadapi pandemi.

Merapatkan shaf itu artinya mengikatkan dan menanamkan kembali kesadaran bahwa kita sesungguhnya bukan determinan kehidupan ini. Kita manusia adalah bagian kecil dan sangat kecil. Pada makhluk tak kasat mata pun, ekonomi dan politik yang kita bangun berabad-abad bisa goyah.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita. Allah maha menolong dan maha pemberi petunjuk bagi orang yang bersungguh-sungguh membaca tanda di antara perpindahan siang dan malam. di antara musibah dan kesenangan. di antara terang dan gelap.

What's your reaction?
2So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment