Jangan baper orang China akan pindah ke Indonesia sebab di sana lebih makmur dan sejahtera ketimbang negara kita.
Dalam Masnavi, Jalaluddin Rumi berkata : “hatimu adalah rimba raya. Kadang-kadang serigala berkuasa, kadang babi liar, maka hati-hatilah bernafas”. Hati kita riuh rendah. Kadang lembut dan pemurah seperti Yusuf as kemudian berbalik jahat seperti Firaun. Kadang memuji, kemudian mengumpat, mencinta dan mendendam bergantung siapa yang sedang berkuasa di hati.
baca juga: Iqra’ Bukan Sekedar Membaca
Pada Tiongkok yang sama-sama kita benci itu, saya akan tuliskan kebaikan dan pujian. Bukankah teramat sulit melihat kebaikan pada orang yang kita benci dan melihat kekurangan pada orang yang kita cintai?
Sayidina Ali karamallahu wajh berkata : “jangan jelaskan siapa dirimu sebab orang yang benci tak akan percaya, sedang orang yang mencintaimu tak butuh itu”. Tak jelas siapa yang berkata: “tuntutlah ilmu sampai negeri China”. Semula dibilang itu sabda Nabi saw, tapi kemudian dibatalkan dan dibantah ramai-ramai karena bersangkut dengannya yang sudah kadung dianggap musuh bersama. Atau hanya karena kebetulan hadits itu tak sesuai dengan selera dan menyinggung ras tertentu.
Keunggulan Penduduk China
Setelah Uni Sovyet ambruk dicabik-cabik glastnots dan prestroika, Amerika menjadi negara adidaya sendirian tanpa tanding. Tapi China merangsak maju bersaing dan perlahan mulai mengalahkan. 1,7 milyar penduduknya terbesar di dunia. Suku bunga bank di China lebih rendah dibanding bank mu‘amalat dan bank-bank syariah lain yang kita banggakan. China tumbuh dengan kekuatan berbasis umat bukan sebaliknya. China juga dikenal suka membantu bahkan terhadap negara-negara kompetitornya. Politik luar negerinya juga lebih sopan dibanding Amerika dan sekutunya.
China adalah ras dominan yang terdidik, ulet, pekerja keras, produktif, terampil, dan mau dibayar murah. Bandingkan dengan SDM di negara-negara timur-tengah dan Islam lainnya yang terus berselisih, egois, dan berebut depan. Pendidikan rendah, stag dan mahal.
Ada sekitar 400 juta penduduk kelas menengah di China bahkan mengalahkan Amerika dan Eropa. Tesis Huntington tentang benturan peradaban masih sangat relevan. China bakal digdaya menguasai, sumber daya manusia dan sumber daya alam berlimpah, militer kuat, ekonomi mapan, dan geo politik strategis. Artinya Tiongkok adalah kekuatan alternatif sebagai balance kekuatan barat.
baca juga: Anomali Partai Allah dan Doa Gus Dur
Tapi bukan China yang jadi masalah. Ini soal hati siapa lebih dominan dan berkuasa. Melihat kebaikan pada orang yang dibenci itu soal yang hendak saya tuliskan. Melihat kebaikan pada orang yang kita benci apalagi memberi pujian. Itu yang hendak saya latihkan. Adalah sebentuk ridha dan kerelaaan hati melihat kekurangan sendiri sambil memuji kebaikan lawan. Tapi ini soal sulit dalam beragama, percayalah. Yang kita lihat dari orang yang kita benci hanyalah keburukan, dan itu pertanda kurang baik.
Bukankah nabi saw telah memberi uswah dan kita bangga menjadikan al Quran sebagai jalan hidup?
editor : Yusuf R Y