Anomali Partai Allah dan Do’a Gus Dur

Oleh: Nurbani Yusuf

Beberapa tahun lalu saya merasakan apa yang pernah dirasakan Gus Dur saat diimpeacment. Di tengah kesedihan yang sangat itu, Gus Dur mendoakan kepada yang telah menzaliminya menjadi gelandangan politik dan bakal menyaksikan kehancuran partainya di usia tuanya”.

Seperti kutukan Dewi Amba kepada Bhisma pada perang Barata Yudha—Saya tak tau siapa yang dimaksud Gus Dur dengan orang yang telah menzaliminya itu. Dan saya juga tak mau berspekulasi tentang tuah doa Gus Dur yang dianggap wali penuh Karamah. Tapi saya percaya kepada junjungan ku Nabi saw bahwa doa orang yang dizalimi itu di ijabah.

Sebab itu saya tak mau berdoa yang buruk buruk di saat terpuruk. Ada saat ketika dikhianati, difitnah dengan berbagai berita buruk yang belum di-tabayyun-kan, dan yang lebih menyakitkan dilakukan oleh teman yang paling dekat. Komplet sudah.

Saat ditanya apakah Gus Dur memaafkan terhadap orang yang membuatnya lengser? Gus Dur menjawab: ‘memaafkan sih iya, tapi tidak akan melupakan’. Dengan mimik sangat serius, mungkin karena ia sangat sedih dan tak bisa melupakan peristiwa itu. Sampai di situ saya sangat paham, dan Gus Dur perlu belajar kepada saya karena saya bisa memaafkan dan melupakan menjadi satu paket.

***

Masih ingatkah dengan doanya para ulama, ustadz, habib dengan tidak menyebut nama dan doa doa ribuan jamaah di tanah haram yang berisi laknat, kutukan dan ancaman ? Tuhan tidak tidur dan mengijabah doa-doa.

Bukankah Kita akan mendapatkan bagian dari doa-doa itu. Malaikat akan mengaminkan dan mendoakan yang semisal. Karena itu jangan pernah main-main dengan doa. Semua doa bakal dikabulkan. Jangan mendoakan keburukan. Semua bakal berpulang.

Sholawat Asghil, doa agar orang zalim bertengkar sendiri dengan orang zalim yang lainnya. Sepertinya ini sedang terjadi.

‎ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠﻰَ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ، ﻭَﺃَﺷْﻐِﻞِ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺑِﺎﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ
‎ﻭَﺃَﺧْﺮِﺟْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻨِﻬِﻢْ ﺳَﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﻭَﻋﻠَﻰ ﺍﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﺃَﺟْﻤَﻌِﻴﻦ

“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad. Sibukkanlah orang-orang zalim agar mendapat kejahatan dari orang zalim lainnya. Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka. Berikanlah shalawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau.”

 

Sebagai sesama muslim kita salingmengingatkan dengan sabar dan kasih sayang—tak perlu saling melaknat dan mendoakan keburukan, semua bakal berpulang-jadi maafkan dan balas kejahatannya dengan kebaikan yang lebih baik 

Penulis merupakan Anggota dalam Komunitas Padhang Makhsyar

What's your reaction?
3So Happy2Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment