Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Fenomena Pengajar Joget TikTok Tidak Pada Tempatnya!

Ihwanun Nafi by Ihwanun Nafi
April 8, 2025
in Esai, Narasi
0
Fenomena Pengajar Joget TikTok Tidak Pada Tempatnya!
33
SHARES
195
VIEWS

Oleh: Ihwanun Nafi’ (Penulis Media Keislaman)

Aplikasi TikTok tentu sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan orang. Dari anak-anak hingga orang dewasa, banyak yang mengenal bahkan aktif menggunakannya. TikTok hadir sebagai wadah ekspresi kreatif, tempat orang bisa membuat video pendek yang menarik dan menghibur, lengkap dengan berbagai fitur suara, filter, dan efek visual. Tak heran jika TikTok menjadi salah satu aplikasi paling populer di dunia saat ini.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Namun, yang menjadi sorotan adalah ketika penggunaan aplikasi ini tidak dilakukan dengan bijak, terutama oleh kalangan yang seharusnya menjadi panutan, yakni para pendidik. Di era digital ini, muncul fenomena para guru atau pengajar yang membuat konten TikTok berupa joget-joget di dalam kelas saat jam pelajaran berlangsung. Bukan hanya satu atau dua kasus, tetapi sudah mulai menjadi tren yang bisa ditemukan di berbagai media sosial. Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan besar: ke mana arah pendidikan kita saat ini?

Refleksi untuk Pengajar

Perlu ditegaskan bahwa tulisan ini tidak bertujuan untuk menyudutkan atau menjatuhkan profesi guru, melainkan sebagai bahan refleksi bersama agar kita tidak kehilangan arah dalam menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai pendidik. Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, dipercaya ucapannya dan diteladani perbuatannya. Oleh karena itu, segala tindakan guru, baik di dalam maupun di luar kelas, akan menjadi contoh bagi peserta didik.

Dalam konteks ini, penggunaan TikTok oleh guru bisa saja menjadi sesuatu yang positif apabila diarahkan dengan tepat. Misalnya, jika guru memanfaatkan TikTok untuk menyampaikan materi pelajaran dengan cara yang kreatif dan menyenangkan, tentu itu merupakan bentuk inovasi dalam dunia pendidikan. Banyak guru yang sukses membuat konten edukatif di TikTok dan berhasil meningkatkan minat belajar siswa. Namun, masalah muncul ketika aplikasi tersebut disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak relevan dengan dunia pendidikan, apalagi dilakukan di waktu dan tempat yang tidak tepat.

Bayangkan, seorang guru berjoget di depan kamera ponsel di tengah pelajaran, sementara siswa-siswinya menonton atau bahkan direkam tanpa konteks pembelajaran. Situasi ini bisa menciptakan persepsi negatif terhadap guru tersebut dan menurunkan wibawanya di mata siswa. Lebih jauh lagi, tindakan seperti itu bisa merusak citra profesi guru secara umum, yang selama ini dihormati dan dimuliakan.

Kita memang tidak bisa menolak perkembangan zaman. Dunia terus bergerak maju, dan teknologi terus berinovasi. Aplikasi seperti TikTok hanyalah salah satu hasil dari perkembangan tersebut. Seperti halnya teknologi lain, TikTok bersifat netral. Yang menentukan dampaknya adalah cara kita menggunakannya. Maka dari itu, justru di tengah derasnya arus teknologi, guru dituntut untuk memiliki kebijaksanaan dalam menyikapi perubahan. Tidak cukup hanya sekadar mengikuti tren, tetapi juga perlu memilah dan menempatkan diri dengan tepat.

Menjunjung Nilai dan Etika

Dalam budaya Jawa, ada pepatah bijak yang berbunyi, “Wong Jowo ojo lali jawane,” yang berarti orang Jawa jangan melupakan nilai-nilai kejawaan yang menjunjung tinggi etika, sopan santun, dan kebijaksanaan. Nilai-nilai ini seharusnya melekat dalam pribadi seorang guru, apa pun latar belakang budayanya. Guru sepatutnya menjadi simbol integritas dan tanggung jawab moral. Jika guru saja larut dalam euforia media sosial tanpa memperhatikan waktu dan tempat, bagaimana kita bisa berharap siswa memiliki sikap yang benar terhadap penggunaan teknologi?

Penting untuk disadari bahwa media sosial bisa menjadi alat pembelajaran yang luar biasa jika dimanfaatkan dengan benar. Sudah banyak contoh guru yang membuat video edukatif, kuis interaktif, atau penjelasan materi dalam bentuk kreatif yang menarik perhatian siswa. Mereka menjadikan TikTok sebagai media penyampaian yang efektif dan relevan dengan zaman. Namun, tetap ada batasan yang harus dijaga. Profesionalisme seorang pendidik tidak boleh dikompromikan hanya demi “like” atau viral sesaat.

Peran guru bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan nilai-nilai kehidupan. Tanggung jawab ini tidak ringan dan tidak bisa diabaikan. Maka dari itu, sangat penting bagi setiap pengajar untuk merefleksikan tindakannya—apakah sudah sejalan dengan etika profesi? Apakah sudah mencerminkan sikap dewasa dan bertanggung jawab sebagai pendidik? Apakah sudah memberi contoh yang baik bagi para siswa?

Jika saat ini kita melihat banyak guru yang mulai kehilangan arah dalam menggunakan media sosial, maka saatnya kita mengingatkan dan saling menasihati. Kritik bukan berarti membenci. Justru dengan kritik yang membangun, kita bisa menyadarkan satu sama lain untuk kembali ke jalur yang benar. Dunia pendidikan membutuhkan sosok-sosok guru yang bukan hanya cerdas dalam ilmu, tetapi juga bijak dalam bersikap.

Kesadaran kolektif sangat diperlukan dalam menyikapi fenomena ini. Para guru perlu memahami bahwa menjadi pendidik bukan hanya soal mentransfer pengetahuan, tetapi juga tentang membangun kepercayaan, menjadi teladan, dan menjaga marwah profesi. Menghibur diri tentu boleh, tetapi ada waktu dan tempatnya. Jangan sampai kita sendiri yang merusak kepercayaan yang telah diberikan masyarakat kepada profesi guru.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan bergantung pada kualitas para pendidiknya. Jika para guru mampu menggabungkan teknologi dengan nilai-nilai profesionalisme, maka kita bisa menciptakan sistem pendidikan yang adaptif, modern, namun tetap bermartabat. Mari kita jaga bersama integritas profesi guru, demi terciptanya generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter dan etika yang kuat.

Semoga tulisan ini menjadi bahan refleksi kita bersama dan membawa manfaat untuk kemajuan dunia pendidikan Indonesia.

Terkait

Tags: MuhammadiyahpendidikanPengajarTrend Tik Tok
Previous Post

Mahasiswa Sebagai Brahmana: Refleksi Peran Intelektual dalam Ranah Sosial

Next Post

Fenomena ‘Cancel Culture’: Dampak Terhadap Toleransi Beragama di Masyarakat

Ihwanun Nafi

Ihwanun Nafi

Next Post
Fenomena ‘Cancel Culture’: Dampak Terhadap Toleransi Beragama di Masyarakat

Fenomena 'Cancel Culture': Dampak Terhadap Toleransi Beragama di Masyarakat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.