Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kaum Muslimin Yang Kehilangan Nilai Kehidupan

Azhar Ardiansyah Al Aziz by Azhar Ardiansyah Al Aziz
April 7, 2025
in Esai, Narasi
0
Kaum Muslimin Yang Kehilangan Nilai Kehidupan
24
SHARES
140
VIEWS

Oleh: Azhar Ardiansyah Al Aziz (Kader PK IMM Pesma KH Mas Mansur UMS)

Indonesia menjadi negara muslim terbesar didunia, hal ini menjadi tolak ukur besar bagaimana mayoritas muslim berkuasa dalam suatu sistem pemerintahan terutama di indonesia. Sejauh ini dari pandangan subjektif penulis kiranya indonesia belum benar-benar menjadi negara religius progresif sepenuhnya akhirnya tidak ada nilai inovatif dan kreatif. Kita melihat per detik ini bagaimana agama sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan kepada masyarakat yang notabene taklid buta terhadap seorang tokoh.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Masyarakat seakan-akan tidak berdaya mendengar dawuh kyai atau ustadz yang memberikan pemahaman menyimpang dari agama islam tentunya, sepertinya penanaman etika yang menjadi doktrin bagaimana menanyakan sesuatu dalam agama dianggap suatu penghinaan terhadap keimanan padahal kita ingin memvalidasi suatu dogma. Sedikit menjelaskan bagaimana agama menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan contoh, garam ruqyah, air kobokan habib, jubah bekas pemakaian ustadz, dan pelelangan lainnya. Ketika suatu barang dengan harga jual rendah/normal disandingkan dengan agama seakan akan barang ini memiliki nilai lebih atau mengandung keberkahan didalamnya maka harga jualnya menjadi tinggi.

Islam sebagai agama pembebas memiliki makna bahwa ajaran Islam hadir untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan, baik dalam aspek spiritual, sosial, politik, maupun ekonomi. Konsep ini bisa dilihat dari berbagai perspektif:

Pembebasan dari Kemusyrikan dan Kebodohan, islam mengajarkan tauhid (keesaan Allah) sebagai landasan utama kehidupan manusia. Sebelum Islam datang, banyak masyarakat hidup dalam kepercayaan yang penuh takhayul dan penyembahan berhala. Islam membebaskan manusia dari keyakinan yang menyesatkan dan mengajak mereka pada pemahaman yang rasional serta berbasis wahyu.

Pembebasan dari Penindasan Sosial, sebelum masuknya Islam, masyarakat Arab (dan banyak peradaban lain) terjebak dalam sistem sosial yang tidak adil, termasuk perbudakan, ketidakadilan gender, dan eksploitasi kaum miskin. Islam menegakkan keadilan sosial, memuliakan kaum perempuan, dan mengajarkan persaudaraan universal tanpa membedakan ras, suku, atau status sosial.

Pembebasan dari Ketimpangan Ekonomi, islam melarang riba, eksploitasi ekonomi, dan menganjurkan konsep zakat serta infaq sebagai bentuk distribusi kekayaan yang adil. Dengan sistem ekonomi Islam, kekayaan tidak hanya menumpuk pada segelintir orang (kapitalis), melainkan didistribusikan untuk kesejahteraan bersama.

Pembebasan dari Kekuasaan yang Zalim, islam menolak segala bentuk kezaliman dan mendorong umatnya untuk menegakkan keadilan. Banyak ajaran Islam yang menekankan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran), yang berarti melawan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan dalam kehidupan bernegara maupun bermasyarakat.

Pembebasan dari Hawa Nafsu dan Keburukan Diri, selain pembebasan dalam aspek sosial dan ekonomi, Islam juga membimbing manusia untuk membebaskan dirinya dari hawa nafsu yang merusak, seperti keserakahan, kesombongan, dan kebencian. Ajaran Islam seperti shalat, puasa, dan dzikir membantu manusia mencapai ketenangan jiwa dan kehidupan yang lebih bermakna.

Sedikit meluruskan tentang kecacatan pemahaman sebagian dari mayoritas kaum muslimin mengenai takdir. Seperti apa yang kita ketahui bahwasannya takdir dibagi menjadi 2 bagian. Dikutip dari buku 13 Cara Nyata Mengubah Takdir, Jamal Ma’mur Asmadi dkk., (2010), takdir adalah bentukan kata dari qadar. Qadar atau kadar adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Takdir dalam Islam adalah salah satu yang wajib diimani oleh setiap muslim. Allah ta’ala telah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukurannya dengan serapi-rapinya. Menurut sebagian ulama, ada dua macam takdir dalam Islam, yaitu takdir mubram dan takdir muallaq

Takdir mubram adalah takdir yang mutlak dari Allah ta’ala. Takdir ini tidak bisa ditawar atau diubah lagi, meskipun manusia berdoa atau berusaha. Takdir jenis ini berkaitan dengan hal-hal yang sudah ditentukan sejak awal penciptaan, seperti kelahiran, kematian, jodoh, rezeki, fisik, dan lain-lain. Contoh takdir mubram adalah Waktu kematian seseorang yang sudah ditulis di Lauhul Mahfudz sebelum ia dilahirkan, jenis kelamin, warna kulit, bentuk tubuh, dan ciri-ciri fisik seseorang yang sudah ditakdirkan oleh Allah ta’ala, Jodoh seseorang yang sudah dipertemukan oleh Allah ta’ala dengan cara yang tidak disangka sangka, rezeki seseorang yang sudah diatur oleh Allah ta’ala sesuai dengan kadar dan kebutuhan.

Takdir muallaq adalah takdir yang bersifat gantung atau bisa berubah sesuai dengan usaha dan ikhtiar manusia. Takdir jenis ini berkaitan dengan hal-hal yang bergantung pada pilihan dan kehendak bebas manusia, seperti amal perbuatan, akhlak, ilmu, kesehatan, dan lain-lain. Contoh takdir muallaq adalah Amal perbuatan seseorang yang bisa baik atau buruknya tergantung pada niat dan tindakannya, Akhlak seseorang yang bisa mulia atau hina tergantung pada sikap dan perilakunya, ilmu seseorang yang bisa bertambah dan berkurang tergantung pada usahanya dalam belajarKesehatan seseorang yang bisa sehat atau sakit tergantung pada pola hidup dan maknanya.

Selalu saja ada yang menjadikan takdir sebagai tumpuan lara, ketika seseorang miskin, banyak kemudian mereka beralasan “ini semua takdir Allah ta’ala” ketika mereka susah menghafal atau memahami suatu, mereka merasa “ini memang bukan bakatku belajar dan menghafal” seakan-akan agama menjadi pelarian dalam kepasrahan hidup. Nilai ikhtiarlah yang utama disisi Allah ta’ala, seperti ikhtiar nabi Muhammad dalam mendakwahkan ajaran agama islam dengan berdarah-darah penuh dengan kepahitan. Harapannya bagaimana umat muslim di indonesia meninggalkan taklid buta mereka dan lebih bisa membuka pikirannya dan menjadikan islam sebagai agama pembebasan bukan sebagai pelarian dari kesengsaraan didunia.

Terkait

Tags: IslamspiritualitasTakdirtaqlid
Previous Post

Demokrasi Deliberatif: Meningkatkan Dialog dan Keterlibatan Publik

Next Post

Jiwa Kepemimpinan Modern: Strategi Adaptif dan Inovasi dalam Mengelola Perubahan

Azhar Ardiansyah Al Aziz

Azhar Ardiansyah Al Aziz

Mahasiswa PAI FAI UMS

Next Post
Jiwa Kepemimpinan Modern: Strategi Adaptif dan Inovasi dalam Mengelola Perubahan

Jiwa Kepemimpinan Modern: Strategi Adaptif dan Inovasi dalam Mengelola Perubahan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.