Oleh: Jovi Fernando Setiawan
Membicarakan soal keberagaman manusia rasanya kita sering lupa bahwa perbedaan itu tidak hanya sebatas warna kulit atau latar belakang budaya saja melainkan juga mencakup bagaimana otak kita memproses dunia di sekitar kita, nah belakangan ini istilah neurodivergent mulai sering berseliweran di media sosial walau pemahamannya di tengah masyarakat Indonesia masih sangat minim dan penuh dengan salah kaprah, neurodivergent sendiri sebenarnya adalah konsep yang menyatakan bahwa variasi dalam fungsi otak seperti; Autisme, ADHD, Disleksia, dan kondisi neurologis lainnya merupakan bagian alami dari keragaman manusia dan bukanlah sebuah penyakit atau kecacatan yang bisa disembuhkan, namun sayangnya realita di lapangan menunjukkan bahwa golongan ini masih sering dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat kita yang lebih suka melabeli mereka dengan sebutan aneh kurang waras atau bahkan beban keluarga yang pada akhirnya membuat mereka terpinggirkan dari kehidupan sosial yang normal tanpa ada yang mau mengerti sudut pandang mereka.
Kalau kita melihat lebih dalam lagi stigma buruk yang menempel pada individu neurodivergent ini rasanya sudah mengakar sangat kuat dalam budaya masyarakat kita yang kelewat mengedepankan keseragaman dan konformitas buta, contohnya saja menurut sebuah laporan liputan khusus dari media Tirto.id beberapa waktu lalu yang menyoroti betapa susahnya teman-teman autis dewasa untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di sektor formal karena perusahaan masih memegang stereotip kuno bahwa mereka tidak bisa diajak bekerja sama atau terlalu kaku, padahal anggapan seperti ini belum tentu benar dan malah sering kali menyesatkan karena setiap individu neurodivergent itu memiliki spektrum dan kemampuannya masing-masing yang tidak bisa dipukul rata begitu saja, bahkan dalam sebuah Jurnal Psikologi terbitan Universitas Gadjah Mada pernah dibahas dengan jelas bagaimana kurangnya edukasi dan intervensi dini dari lingkungan sekitar justru menjadi faktor penentu utama yang memperburuk kondisi psikologis mereka dan bukan semata-mata karena kondisi bawaan neurologis dari lahir.
Sebagai sesama manusia tentu saja orang-orang neurodivergent memiliki hak-hak asasi yang sama mutlaknya dengan kita semua yang melabeli diri sebagai orang normal atau neurotypical yang seringkali merasa dunia ini hanya milik kita sendiri, mereka berhak atas pendidikan yang inklusif fasilitas kesehatan yang ramah sensorik dan kesempatan kerja yang adil tanpa harus menyembunyikan identitas asli mereka atau melakukan masking yang amat menguras tenaga dan kewarasan mental, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas sebenarnya sudah menjamin pemenuhan hak-hak esensial ini termasuk bagi kawan-kawan dengan disabilitas mental dan intelektual yang secara payung hukum seringkali mencakup kelompok neurodivergent ini juga, tapi ya praktiknya di lapangan masih jauh panggang dari api karena implementasi kebijakan seringkali mentok terbentur oleh rumitnya birokrasi serta rendahnya kesadaran aparat desa hingga masyarakat umum tentang esensi dari undang-undang tersebut sehingga diskriminasi demi diskriminasi terus saja terjadi setiap hari seolah-olah hal itu adalah sebuah kewajaran belaka.
Banyak masyarakat awam yang tidak menyadari bahwa di balik tantangan yang mereka hadapi dalam menyesuaikan diri dengan dunia yang dirancang bukan untuk mereka para neurodivergent sebenarnya menyimpan potensi dan kemampuan luar biasa yang seringkali melampaui rata-rata orang kebanyakan, misalnya saja kawan-kawan dengan ADHD seringkali memiliki kemampuan hyperfocus di mana mereka bisa tenggelam dan berkonsentrasi penuh pada suatu tugas yang mereka minati selama berjam-jam tanpa henti hingga mampu menghasilkan karya atau solusi yang sangat brilian, sementara itu banyak individu dalam spektrum autisme memiliki ketelitian tingkat tinggi terhadap detail serta pola pikir analitis dan out-of-the-box yang sangat berharga dan banyak dicari di bidang teknologi dan sains modern, hal ini bahkan didukung oleh riset dari Harvard Business Review yang dengan gamblang menyebutkan bahwa neurodiversity bisa menjadi keunggulan kompetitif yang sangat besar bagi sebuah perusahaan karena tim yang memiliki cara berpikir beragam akan jauh lebih inovatif dalam memecahkan masalah-masalah kompleks dibandingkan tim yang cara pikirnya seragam dan begitu-begitu saja.
Sayangnya potensi-potensi emas yang luar biasa tersebut seringkali terkubur mati hanya karena sistem pendidikan kita yang terlampau kaku dan terlalu mendewakan nilai akademis standar yang harus dicapai dengan cara duduk diam mendengarkan instruksi guru berjam-jam, coba bayangkan saja seorang anak disleksia yang sebenarnya memiliki kecerdasan visual spasial yang luar biasa terpaksa harus merasa dirinya sangat bodoh dan tertinggal setiap hari hanya karena ia kesulitan mengeja deretan huruf di papan tulis sementara guru dan sistem sekolah tidak memberikan ruang bagi mereka untuk belajar dengan metode alternatif, sebuah studi komprehensif yang dipublikasikan dalam Jurnal Pendidikan Inklusi Indonesia secara khusus menyoroti tingginya angka putus sekolah dan depresi pada anak-anak neurodivergent akibat perundungan dari teman sebaya serta ketidakpahaman tenaga pendidik yang masih sering mencampuradukkan kesulitan belajar spesifik dengan tuduhan kemalasan atau kurangnya disiplin keras dari pihak orang tua di rumah.
Media massa dan tayangan televisi juga ikut andil besar dalam melanggengkan stigma yang salah ini melalui penggambaran karakter neurodivergent yang seringkali hanya sebatas karikatur berlebihan atau diromantisasi sebagai sosok jenius penyendiri yang ajaib tanpa pernah memperlihatkan realitas perjuangan harian mereka yang sesungguhnya, sebuah artikel analisis dari The Lancet Psychiatry pernah mengupas tuntas bagaimana representasi media yang keliru dan dangkal ini justru semakin menjauhkan masyarakat dari pemahaman yang empatik karena publik akhirnya hanya disodori dua ekstrem pandangan, publik dipaksa menganggap mereka sebagai manusia super yang sama sekali tidak butuh bantuan atau malah sebagai sosok lemah tak berdaya yang harus dikasihani terus-menerus tanpa henti padahal di kehidupan nyata keseharian mereka penuh dengan spektrum warna yang kompleks di mana ada hari-hari mereka bisa berfungsi dengan sangat optimal dan ada kalanya mereka mengalami over stimulasi sensorik yang membuat aktivitas paling sederhana pun terasa seperti mendaki gunung tinggi tanpa persiapan matang.
Sudah saatnya kita sebagai masyarakat modern yang katanya beradab mulai menggeser paradigma usang yang melihat kondisi neurodivergent sebagai sebuah kerusakan mesin yang harus segera diperbaiki dan mulai beralih ke model sosial disabilitas yang menekankan bahwa hambatannya justru bersumber dari lingkungan yang tidak aksesibel, coba bayangkan jika semua gedung di kota tidak memiliki akses ramp untuk kursi roda pasti kita akan serentak menyalahkan desain gedungnya dan bukan menyalahkan orang yang menggunakan kursi rodanya bukan, nah logika sederhana yang sama juga harusnya diterapkan secara konsisten pada isu neurodivergent ini di mana sistem sosial sistem sekolah dan tempat kerjalah yang seharusnya beradaptasi dan menyediakan akomodasi yang pantas dan masuk akal, sebuah tulisan rilis dari Komisi Nasional Disabilitas dengan tegas mengingatkan bahwa inklusivitas sejati tidak akan pernah terwujud di bumi pertiwi selama masyarakat mayoritas masih egois menuntut kaum minoritas untuk mengubah diri demi menyesuaikan standar normal artifisial alih-alih merayakan keberagaman cara berpikir tersebut sebagai kekayaan intelektual bangsa.
Sering terabaikan juga sebuah fakta menyedihkan mengenai seberapa beratnya beban psikologis yang harus terus dipikul oleh keluarga terutama orang tua dari anak-anak neurodivergent di Indonesia saat mereka harus berhadapan dengan tatapan sinis nan menghakimi dari lingkungan sekitar atau bahkan dari kerabat terdekat mereka sendiri, seringkali terdengar selentingan dan bisik-bisik tetangga yang dengan entengnya menyalahkan pola asuh seorang ibu atau malah sembarangan mengaitkannya dengan hal-hal klenik mistis dan tuduhan kurang beribadah kepada Tuhan, padahal menurut kajian sosiologis dari peneliti Universitas Indonesia tekanan sosial semacam inilah yang justru membuat banyak keluarga ketakutan dan akhirnya memilih jalan pintas untuk menyembunyikan kondisi anak mereka dari mata publik yang pada gilirannya sangat fatal karena menghambat akses sang anak menuju intervensi terapi dan dukungan profesional yang sangat krusial di usia keemasan mereka, padahal kalau saja masyarakat luas mau sedikit lebih legowo dan mau mengedukasi diri sendiri lewat literatur yang valid maka keluarga-keluarga ini pasti akan merasa lebih aman dan didukung sehingga mereka bisa berfokus penuh pada pengembangan potensi sang anak alih-alih menghabiskan energi untuk menangkis stigma buruk yang tidak ada habisnya.
Kalau dipikir-pikir lagi secara mendalam sebenarnya tidak butuh usaha yang muluk-muluk amat untuk mulai merangkul teman-teman neurodivergent di sekitar lingkungan hidup kita karena langkah pertamanya cukup dimulai dari sekadar kemauan tulus untuk mendengar dan belajar berempati tanpa buru-buru melontarkan penghakiman sepihak, mungkin untuk kedepannya saat kita melihat ada rekan kerja yang selalu memakai earphone noise cancelling tebal di sudut kantor atau tampak sangat gelisah dan fidgeting saat rapat panjang tidak perlu rasanya kita tergesa-gesa melabeli mereka sebagai orang yang antisosial atau tidak menghargai forum, karena bisa jadi itu adalah satu-satunya coping mechanism mereka untuk bertahan dari gempuran sensorik luar biasa yang menyakitkan telinga dan pikiran mereka di lingkungan berisik tersebut, interaksi sehari-hari yang terlihat sangat sederhana tapi sarat akan pengertian mendalam inilah yang pelan-pelan akan mengikis habis tembok prasangka yang selama berpuluh tahun terbangun kokoh dan pada akhirnya membuat mereka merasa ada ruang aman di dunia yang bising ini untuk bernapas lega menjadi diri mereka seutuhnya tanpa harus terus-terusan memakai topeng kepura-puraan.
Jadi pada akhirnya sebagai sebuah renungan penutup kita harus sadar betul bahwa kualitas kemanusiaan kita justru sedang diuji dari seberapa adil dan hangatnya cara kita memperlakukan mereka yang berjalan di luar garis kelaziman mayoritas karena setiap manusia tanpa terkecuali memiliki hak bawaan untuk mengejar kebahagiaan dan mengaktualisasikan dirinya semaksimal mungkin, kedepannya saya menaruh harapan besar agar Indonesia tidak hanya sibuk dan jor-joran membangun infrastruktur MBG dan Kopdes semata tapi juga mulai serius dan berkomitmen membangun infrastruktur mental serta budaya inklusi yang benar-benar nyata dirasakan manfaatnya, karena terus-terusan mengabaikan dan menekan potensi dari jutaan individu neurodivergent di negeri ini sama saja dengan membuang sia-sia salah satu aset sumber daya manusia paling berharga yang sebenarnya sangat dibutuhkan bangsa ini dalam menghadapi tantangan masa depan yang pastinya makin kompleks dan tidak tertebak, mari kita bersama-sama sudahi segala bentuk stigma toxic dan pandangan sebelah mata ini agar kelak tidak ada lagi seorang manusia pun yang harus merasa bersalah atau dianggap produk gagal hanya karena kebetulan otaknya menyanyikan sebuah melodi kehidupan yang sedikit berbeda dari lagu kebiasaan yang selama ini sering kita dengar.