Minggu, November 1, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Coretan Tak Pantas di Sekolah: Mendidik Karakter atau Sekadar Menghapus Jejak di Dinding?

Aisyah Nuril Afiah by Aisyah Nuril Afiah
Oktober 31, 2026
in Esai, Narasi
0
Coretan Tak Pantas di Sekolah: Mendidik Karakter atau Sekadar Menghapus Jejak di Dinding?
10
SHARES
56
VIEWS

Oleh: Aisyah Nuril Afiah

Di banyak sekolah, ruang yang paling jarang dibicarakan justru kamar mandi. Padahal di sanalah dinding sering berubah menjadi papan tulis kedua, tempat coretan dan gambar tak pantas muncul tanpa pernah ada yang mengaku.

TulisanTerkait

Bencana Ekologis Karhutla di Kalimantan dan Tumpulnya Instrumen Penegakan Hukum Lingkungan

Mencari Hal yang Benar-Benar Berharga di Tengah Kesibukan Tanpa Arah

Penyandang Neurodivergen Tetaplah Manusia

Dalam sejumlah kunjungan ke sekolah, pemandangan itu nyaris selalu sama. Gambar alat kelamin laki-laki, kata-kata kasar, dan nama teman yang diejek menghiasi pintu bilik, meja, kursi, hingga dinding tangga.

Reaksi sekolah pun hampir seragam. Pelaku dicari lewat teguran di apel pagi, lapangan mendadak hening, lalu coretan dihapus petugas kebersihan. Beberapa hari kemudian, gambar baru muncul di tempat yang sama.

Fenomena ini kerap dianggap kenakalan biasa. Padahal penelitian menunjukkan vandalisme di sekolah berkaitan dengan lingkungan sosial, kondisi keluarga, lemahnya pengawasan, dan keinginan diakui teman sebaya (Nuraini et al., 2026).

Artinya, coretan itu bukan sekadar soal spidol dan tembok. Ia sering menjadi cara remaja menyampaikan sesuatu: rasa ingin tahu, ingin tampil, atau ingin diterima, yang tidak menemukan tempat bicara yang layak.

Usia anak sekolah dasar ataupun menengah memang fase penuh pertanyaan tentang tubuh dan lawan jenis. Di rumah topiknya sering dianggap tabu, sementara di sekolah materi reproduksi berhenti sebagai bab yang dibaca cepat sambil cekikikan.

Pertanyaan yang tidak punya tempat bertanya akan mencari jalannya sendiri. Sebagian lewat internet tanpa filter, sebagian lain lewat spidol permanen di pintu kamar mandi yang sepi dari pengawasan orang dewasa.

Di sisi lain, coretan itu tidak boleh dimaklumi begitu saja. Ketika nama teman ditulis di samping gambar tak senonoh, ia berubah menjadi perundungan dan pelecehan yang dipajang di ruang publik, bukan lelucon.

Dalam perspektif Islam, persoalan ini menyentuh tiga hal sekaligus: tubuh (jism), jiwa (nafs), dan akhlak. Ketiganya mestinya dididik bersama, bukan dipisah-pisah dalam mata pelajaran yang berbeda-beda.

Pendidikan tubuh dalam Islam dikenal sebagai tarbiyah jismiyah. Pendidikan jasmani dipandang sebagai bagian penting pendidikan Islam yang perlu mendapat perhatian seimbang dengan akidah, akhlak, dan akal (Maslani et al., 2023).

Kenyataannya, pendidikan jasmani di banyak sekolah masih disepelekan, dan pendidikan Islam cenderung berfokus pada aspek rohani saja (Hakiman & Mustofa, 2022). Akibatnya, tubuh kerap dipahami sebatas urusan olahraga.

Al-Qur’an sendiri menyebut jism sebagai kelebihan yang dianugerahkan Allah, di samping ilmu (QS. Al-Baqarah: 247). Tubuh adalah amanah, sehingga merendahkannya lewat gambar vulgar berarti merendahkan kehormatan manusia.

Pelajaran tentang tubuh karenanya tidak cukup berhenti pada kebugaran. Anak perlu memahami aurat, batasan, dan rasa hormat, agar tubuh tidak lagi menjadi bahan olok-olok di tembok sekolah maupun di antara teman sebaya.

Aspek kedua adalah nafs. Dalam tradisi akhlak tasawuf, dorongan jiwa tidak dimatikan, melainkan dididik dan diarahkan. Al-Qur’an menegaskan bahwa beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya (QS. Asy-Syams: 9-10).

Dorongan ingin diakui adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Namun tanpa latihan yang terarah, ia mencari jalur paling mudah, yaitu panggung yang bebas dari penilaian guru dan terasa heroik di mata teman sebaya.

Pendidikan jiwa tidak cukup lewat slogan jujur dan disiplin. Akhlak tidak terbentuk semudah membalikkan telapak tangan, tetapi lewat pembiasaan, termasuk membiasakan malu melihat lingkungan yang kotor (Sulhan, 2022).

Aspek ketiga adalah rasa malu. Rasulullah saw. bersabda bahwa malu merupakan bagian dari iman (HR. Bukhari dan Muslim). Rasa malu inilah yang semestinya menahan tangan sebelum spidol menyentuh dinding.

Karena itu, hilangnya rasa malu lebih mengkhawatirkan daripada coretannya. Anak yang terbiasa merusak fasilitas bersama tanpa rasa bersalah berisiko tumbuh menjadi orang dewasa yang mencoret halte dan tembok tempat ibadah.

Lalu apa yang dapat dilakukan? Langkah pertama adalah membuka ruang bicara yang aman tentang pubertas dan kesehatan reproduksi, melibatkan guru BK, guru agama, dan guru IPA, tanpa cekikikan dan tanpa menghakimi.

Langkah kedua, mengganti hukuman dengan pemulihan. Pelaku yang ketahuan diajak membersihkan coretannya sendiri lalu berdiskusi tentang dampaknya, terutama bila ada korban yang namanya tercantum di dinding.

Langkah ketiga, menyediakan kanal ekspresi yang sah, seperti lukisan dinding resmi atau papan karya siswa. Anak yang pandai menggambar butuh panggung yang memujinya, bukan sudut sepi yang menyembunyikannya.

Langkah keempat, melibatkan orang tua. Obrolan santai di rumah tentang tubuh dan rasa hormat sering lebih ampuh daripada seribu pengumuman di apel pagi, asalkan orang tua tidak langsung kaget atau marah saat anak bertanya.

Pada akhirnya, dinding kamar mandi hanyalah cermin. Apa yang tergambar di sana adalah pertanyaan yang tidak sempat dijawab di ruang kelas maupun di meja makan, lalu dijawab sendiri oleh remaja dengan cara yang keliru.

Pertanyaan yang tersisa menjadi refleksi bersama: apakah sekolah lebih sibuk menghapus coretan, ataukah mulai membuka percakapan dengan anak-anak yang sedang mencari tempat untuk bertanya dan belajar malu?

Coretan tak pantas dan gambar alat kelamin di fasilitas sekolah bukan sekadar kenakalan remaja. Ia menjadi tanda bahwa pendidikan tubuh, jiwa, dan rasa malu belum berjalan seimbang di lingkungan sekolah.

Dalam perspektif Islam, tarbiyah jismiyah, penyucian nafs, dan penanaman rasa malu perlu dididik bersamaan. Ketiganya ditopang ruang bicara yang aman, pembiasaan, keteladanan, dan keterlibatan orang tua.

Dengan demikian, sekolah perlu menempatkan coretan sebagai pintu masuk percakapan, bukan sekadar pelanggaran tata tertib. Dinding boleh dihapus, tetapi rasa malu dan penghormatan terhadap tubuh harus terus ditanam.

Terkait

Tags: IndonesiaIslampendidikanPeradabansekolah
Previous Post

BEM PTMAI Zona IV Siap Gembirakan Silatnas dan Kongres Nasional, 1.000 Peserta dari 165 Kampus Bakal Hadir

Aisyah Nuril Afiah

Aisyah Nuril Afiah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.