Minggu, November 1, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Mencari Hal yang Benar-Benar Berharga di Tengah Kesibukan Tanpa Arah

AdminKS by AdminKS
Oktober 29, 2026
in Esai, Narasi
0
Mencari Hal yang Benar-Benar Berharga di Tengah Kesibukan Tanpa Arah
9
SHARES
50
VIEWS

Oleh: T.H. Hari Sucahyo   

Pertanyaan tentang kebaikan tertinggi dalam hidup sesungguhnya adalah pertanyaan tentang ke mana manusia hendak membawa seluruh perjalanan hidupnya. Di antara begitu banyak hal yang dikejar, diperjuangkan, dan dipertahankan, adakah satu hal yang benar-benar layak menjadi tujuan utama? Apakah hidup yang baik berarti hidup yang bahagia, hidup yang bermoral, hidup yang kaya akan pengalaman, atau hidup yang berhasil meninggalkan sesuatu bagi dunia? 

TulisanTerkait

Coretan Tak Pantas di Sekolah: Mendidik Karakter atau Sekadar Menghapus Jejak di Dinding?

Bencana Ekologis Karhutla di Kalimantan dan Tumpulnya Instrumen Penegakan Hukum Lingkungan

Penyandang Neurodivergen Tetaplah Manusia

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi ketika direnungkan lebih dalam, ia membawa kita pada persoalan mendasar tentang makna keberadaan manusia. Sebab, manusia tidak hanya hidup dengan melakukan berbagai hal, tetapi juga dengan memberikan alasan bagi apa yang dilakukannya. Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan, belajar untuk memperluas pengetahuan, membangun hubungan untuk menemukan kedekatan, dan mengejar keberhasilan agar kehidupan terasa lebih berarti. 

Jika semua itu ditelusuri sampai ke akar terdalamnya, kita akan menemukan pertanyaan yang tidak mudah dijawab: untuk apa semua itu sebenarnya? Para filsuf Yunani-Romawi kuno telah lama bergulat dengan persoalan ini. Mereka menyebut tujuan tertinggi kehidupan sebagai summum bonum, yakni kebaikan paling utama yang menjadi dasar bagi segala pilihan dan tindakan manusia. 

Istilah ini bukan sekadar nama bagi sesuatu yang dianggap baik, melainkan penunjuk bagi sesuatu yang memiliki nilai paling mendasar, sesuatu yang layak dikejar bukan semata-mata karena dapat menghasilkan hal lain, melainkan karena ia sendiri dianggap sebagai tujuan akhir. Uang, misalnya, sering dicari karena dapat membeli kebutuhan dan memberikan rasa aman. Kekuasaan dikejar karena membuka kesempatan untuk memengaruhi keadaan. 

Pengetahuan dicari karena membantu kita memahami dunia. Akan tetapi, jika semua hal tersebut hanya bernilai sebagai sarana, kita masih perlu bertanya: menuju tujuan apakah semua sarana itu diarahkan? Apakah ada sesuatu yang tidak lagi kita kejar demi hal lain, melainkan karena kita menganggapnya berharga pada dirinya sendiri? 

Pertanyaan tersebut melahirkan beragam jawaban. Kaum Epikurean memandang ketenangan jiwa dan kebebasan dari penderitaan yang mengganggu sebagai bagian penting dari kehidupan yang baik. Bagi mereka, kebahagiaan tidak harus ditemukan dalam kemewahan atau kenikmatan yang berlebihan, sebab keinginan yang tidak terkendali justru dapat menjadikan manusia budak bagi dirinya sendiri. Kaum Stoa menempatkan kebajikan sebagai pusat kehidupan. 

Menurut pandangan ini, manusia tidak dapat sepenuhnya mengendalikan nasib, keadaan, ataupun penilaian orang lain, tetapi ia dapat berusaha membentuk watak dan menentukan bagaimana dirinya menanggapi berbagai peristiwa. Sementara itu, tradisi filosofis lain memberikan penekanan berbeda, mulai dari kenikmatan, kebebasan batin, hingga kehidupan yang selaras dengan akal dan alam. 

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa manusia tidak pernah berhenti mencari jawaban atas pertanyaan tentang apa yang paling layak dijadikan tujuan hidup. Perbedaan pandangan itu sekaligus menunjukkan bahwa persoalan kebaikan tertinggi tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengikuti kebiasaan masyarakat atau menerima begitu saja ukuran keberhasilan yang berlaku. 

Apa yang dianggap sebagai kehidupan ideal oleh seseorang belum tentu memiliki arti yang sama bagi orang lain. Ada yang merasa hidupnya berhasil ketika mencapai kedudukan tinggi, sementara yang lain menemukan kepuasan dalam kehidupan sederhana yang memberinya waktu untuk keluarga, persahabatan, dan perenungan. 

Ada yang memandang kebebasan sebagai nilai tertinggi, sedangkan yang lain merasa bahwa pengabdian kepada sesama merupakan tujuan yang lebih penting daripada kebebasan pribadi. Perbedaan ini tidak selalu berarti bahwa salah satu pihak keliru. Bisa jadi, mereka berangkat dari pemahaman yang berbeda mengenai manusia, penderitaan, kebahagiaan, dan alasan mengapa kehidupan layak dijalani. 

Meskipun demikian, kita perlu berhati-hati ketika menyimpulkan bahwa setiap orang bebas menentukan tujuan hidup tanpa perlu mempertanyakannya lebih jauh. Tidak semua yang kita inginkan benar-benar baik bagi kita, dan tidak semua yang membuat kita merasa puas akan membawa kehidupan menuju arah yang lebih bermakna. Keinginan dapat tumbuh dari ketakutan, tekanan sosial, rasa iri, atau kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan. 

Seseorang mungkin menghabiskan puluhan tahun mengejar kekayaan karena percaya bahwa dengan menjadi kaya ia akhirnya akan merasa aman dan dihargai. Namun, ketika kekayaan itu berhasil diperoleh, ia justru menemukan bahwa dirinya semakin takut kehilangan apa yang telah dikumpulkan. Ia kemudian menetapkan sasaran baru, bekerja lebih keras, dan menunda kebahagiaan sekali lagi. 

Tanpa disadari, seluruh hidupnya telah berubah menjadi usaha tanpa akhir untuk mencapai sesuatu yang terus menjauh setiap kali ia merasa hampir sampai. Di sinilah persoalan kebaikan tertinggi menjadi penting. Tanpa refleksi, manusia dapat menjalani kehidupan yang sibuk tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mempertanyakan arah kesibukannya. 

Ia mungkin memenuhi jadwal dengan berbagai pekerjaan, meraih banyak pencapaian, dan memperoleh pujian dari lingkungan sekitarnya, tetapi tetap merasa ada sesuatu yang kosong di dalam dirinya. Kekosongan itu tidak selalu muncul karena ia gagal mencapai sesuatu. Justru, terkadang kekosongan datang setelah semua yang diinginkan berhasil diraih, ketika ia menyadari bahwa tujuan yang selama ini dikejar ternyata tidak mampu memberikan makna sebesar yang dibayangkan. 

Pada saat seperti itu, pertanyaan yang muncul bukan lagi bagaimana memperoleh lebih banyak, melainkan apakah yang telah diperoleh memang layak dijadikan tujuan utama kehidupan. Menemukan kebaikan tertinggi juga tidak berarti kita harus memiliki satu rumusan mutlak yang dapat menjawab seluruh persoalan manusia. Kehidupan terlalu kompleks untuk disederhanakan menjadi satu slogan. 

Kebahagiaan, kebajikan, kasih sayang, kebebasan, pengetahuan, dan tanggung jawab sosial dapat saling berkaitan serta saling memperkuat. Kita dapat menganggap kehidupan yang baik sebagai kehidupan yang dijalani dengan integritas, tetapi integritas itu sendiri mungkin terwujud melalui kepedulian kepada orang lain, keberanian menghadapi ketidakadilan, kesediaan mengakui kesalahan, dan kemampuan menahan diri ketika keinginan mulai melampaui batas. 

Dengan demikian, kebaikan tertinggi tidak harus dipahami sebagai satu benda yang terpisah dari seluruh pengalaman hidup. Ia dapat menjadi prinsip mendasar yang membantu kita menilai berbagai pilihan dan memahami hubungan di antara nilai-nilai yang kita anggap penting. Persoalan yang lebih mendesak adalah bagaimana kita mengetahui apakah tujuan yang dipilih benar-benar layak diperjuangkan. 

Salah satu caranya ialah dengan memeriksa tujuan tersebut melalui pertanyaan yang jujur. Apakah tujuan ini membuat saya menjadi manusia yang lebih baik, atau justru menjadikan saya semakin dikuasai oleh ketakutan dan keserakahan? Apakah pencapaian ini memiliki nilai yang tetap bertahan ketika pujian orang lain menghilang? Apakah saya masih menganggapnya penting jika tidak ada seorang pun yang mengetahui keberhasilan saya? 

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak selalu menghasilkan jawaban yang segera dan pasti, tetapi dapat membantu kita membedakan antara sesuatu yang sungguh bernilai dan sesuatu yang hanya tampak bernilai karena masyarakat terus-menerus mengagungkannya. Kita juga perlu menerima kemungkinan bahwa pemahaman tentang tujuan hidup akan berubah seiring bertambahnya usia dan pengalaman. 

Apa yang dahulu dianggap sebagai keberhasilan tertinggi mungkin kemudian terlihat sebagai sesuatu yang kurang penting. Pengalaman kehilangan dapat mengajarkan nilai kehadiran, kegagalan dapat memperlihatkan batas ambisi, sedangkan perjumpaan dengan penderitaan orang lain dapat mengubah cara kita memahami tanggung jawab. Perubahan semacam ini tidak selalu menunjukkan bahwa kita kehilangan arah. 

Sebaliknya, ia mungkin menandakan bahwa kita sedang belajar melihat kehidupan dengan lebih jernih. Yang perlu dijaga bukanlah kesetiaan buta terhadap tujuan yang pernah dipilih, melainkan kesediaan untuk terus memeriksa apakah tujuan itu masih pantas menjadi pusat kehidupan kita. 

Pencarian terhadap summum bonum bukanlah perlombaan untuk menemukan jawaban filosofis yang paling mengesankan. Ia merupakan usaha untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa waktu kita terbatas dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Kita tidak mungkin mengejar semua hal sekaligus. 

Ketika memilih satu jalan, kita selalu meninggalkan jalan lain; ketika memberikan waktu kepada sesuatu, kita mengurangi waktu yang tersedia bagi hal lainnya. Karena itu, menentukan apa yang paling bernilai bukan sekadar persoalan pemikiran abstrak, melainkan persoalan praktis yang memengaruhi cara kita bekerja, mencintai, menggunakan waktu, menghadapi penderitaan, dan memperlakukan sesama. 

Mungkin kita tidak akan pernah mencapai kesepakatan universal tentang satu kebaikan tertinggi yang berlaku bagi semua manusia. Namun, ketidakpastian itu tidak membebaskan kita dari kewajiban untuk berpikir. Justru karena hidup tidak menyediakan jawaban yang selalu jelas, kita perlu lebih berhati-hati dalam menentukan apa yang pantas menerima kesetiaan kita. 

Sebab, bahaya terbesar bukanlah menjalani hidup dengan jawaban yang belum sempurna, melainkan menjalani seluruh kehidupan tanpa pernah menguji jawaban yang kita terima. Pada akhirnya, kita mungkin tidak menyesali setiap kegagalan, kehilangan, atau kesempatan yang terlewatkan. 

Akan tetapi, ada kemungkinan penyesalan yang jauh lebih mendalam: menyadari bahwa kita telah menghabiskan hidup untuk mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita anggap berharga setelah semuanya selesai. Oleh karena itu, pertanyaan tentang kebaikan tertinggi seharusnya tidak hanya diajukan ketika kita berada dalam kebingungan, melainkan juga ketika segala sesuatu tampak berjalan dengan baik. Sebab, hidup yang bermakna bukan semata-mata hidup yang berhasil mencapai banyak hal, melainkan hidup yang mengetahui mengapa hal-hal tersebut layak dicapai.

Terkait

Tags: IndonesiaKehidupan Duniapancasila
Previous Post

Penyandang Neurodivergen Tetaplah Manusia

Next Post

PK IMM At-Tazkiyah Gelar Musykom, Tetapkan Nur Fadza sebagai Nahkoda Utama

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
PK IMM At-Tazkiyah Gelar Musykom, Tetapkan Nur Fadza sebagai Nahkoda Utama

PK IMM At-Tazkiyah Gelar Musykom, Tetapkan Nur Fadza sebagai Nahkoda Utama

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.