Oleh: Muhammad Relung Fazlur Rohman
Surah At-Tahrim merupakan salah satu surah dalam Al-Qur’an yang mengandung pesan mendalam tentang kehidupan, khususnya dalam konteks rumah tangga dan tanggung jawab seorang mukmin. Surah ini terdiri dari 12 ayat dan termasuk dalam golongan surah Madaniyah, yaitu diturunkan di Madinah.
Penamaannya diambil dari kata tuharrim yang berarti “mengharamkan”, sebagaimana terdapat pada ayat pertama. Secara umum, surah ini memberikan gambaran bahwa kehidupan rumah tangga, bahkan dalam keluarga Nabi Muhammad SAW sekalipun, tidak terlepas dari dinamika seperti kecemburuan, kesalahpahaman, dan konflik kecil. Namun, yang menjadi pembeda adalah bagaimana konflik tersebut disikapi dengan hikmah, kesabaran, dan petunjuk wahyu.
Latar belakang turunnya ayat-ayat awal Surah At-Tahrim berkaitan erat dengan kehidupan keluarga Nabi Muhammad SAW. Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai asbabun nuzul ayat-ayat tersebut, namun secara garis besar berkisar pada dua peristiwa utama.
Pertama adalah peristiwa yang melibatkan Mariyah Al-Qibtiyyah, dan kedua adalah kisah madu yang diminum Nabi di rumah Zainab binti Jahsy. Dalam peristiwa Mariyah, disebutkan bahwa Nabi SAW pernah mengharamkan dirinya untuk tidak lagi mendekatinya demi menjaga perasaan istrinya, khususnya Hafsah. Bahkan Nabi sampai bersumpah untuk itu dan meminta agar hal tersebut dirahasiakan. Namun, rahasia tersebut justru tersebar hingga akhirnya Allah menurunkan teguran melalui wahyu.(Sutrisno et al., 2025)
Peristiwa kedua berkaitan dengan kebiasaan Nabi yang meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy. Karena adanya rasa cemburu, Aisyah dan Hafsah sepakat untuk mengatakan bahwa Nabi mengeluarkan bau tidak sedap (magafir) setelah meminum madu tersebut. (Ghany et al., n.d.)
Mendengar hal itu, Nabi SAW kemudian bersumpah untuk tidak lagi meminum madu tersebut. Peristiwa ini menjadi sebab turunnya ayat pertama Surah At-Tahrim yang berisi teguran langsung dari Allah: mengapa Nabi mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan baginya hanya demi menyenangkan hati istri-istrinya. Dari sini tampak bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga perasaan manusia dan tetap berpegang pada ketentuan Allah.
Selain itu, surah ini juga menyoroti pentingnya menjaga amanah dalam hubungan rumah tangga. Dalam salah satu ayat dijelaskan bahwa Nabi pernah menyampaikan suatu rahasia kepada Hafsah, namun rahasia tersebut kemudian disampaikan kepada Aisyah. Allah pun memberitahukan hal itu kepada Nabi, sehingga menjadi pelajaran bahwa menyebarkan rahasia, terlebih dalam lingkup keluarga, dapat merusak kepercayaan. Bahkan dalam konteks keluarga Nabi sekalipun, pelanggaran terhadap amanah tetap mendapatkan teguran dari Allah.
Surah At-Tahrim juga memuat peringatan keras kepada istri-istri Nabi. Allah memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertaubat dan kembali kepada kebaikan. Namun, jika mereka terus menyakiti hati Nabi dan tidak memperbaiki diri, maka Allah berkuasa menggantikan mereka dengan istri-istri yang lebih baik, yaitu wanita-wanita yang taat, beriman, rajin beribadah, dan bertobat. Pesan ini tidak hanya ditujukan kepada istri-istri Nabi, tetapi juga menjadi pelajaran universal bahwa kedudukan seseorang tidak menjamin keselamatan tanpa ketaatan kepada Allah.(Pradipta & Putri, 2024)
Salah satu ayat yang paling penting dalam surah ini adalah ayat ke-6 yang berisi perintah kepada orang-orang beriman untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab seorang Muslim tidak hanya terbatas pada dirinya sendiri, tetapi juga mencakup keluarganya. Menjaga keluarga bukan hanya dalam aspek fisik, tetapi juga dalam aspek spiritual, yaitu dengan membimbing mereka untuk taat kepada Allah dan menjauhi perbuatan maksiat.(Suryadin et al., 2021)
Para ulama tafsir memberikan penjelasan yang mendalam mengenai ayat ini. Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa menjaga diri dan keluarga dari api neraka berarti senantiasa taat kepada Allah dan menghindari segala bentuk kemaksiatan.
Sementara itu, Imam Nawawi Al-Bantani menekankan bahwa menjaga keluarga dapat dilakukan dengan cara mendidik, mengajarkan kebaikan, serta membiasakan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, keluarga menjadi benteng utama dalam membentuk keimanan seseorang.(Mubin et al., 2025)
Ayat ini juga menggambarkan kondisi neraka yang sangat dahsyat, di mana bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Neraka dijaga oleh malaikat-malaikat yang keras dan tidak pernah mendurhakai perintah Allah.
Dalam beberapa penafsiran disebutkan bahwa malaikat penjaga neraka berjumlah sembilan belas, yang dikenal dengan sebutan Zabaniyah. Gambaran ini memberikan peringatan yang kuat agar manusia tidak meremehkan konsekuensi dari perbuatannya di dunia.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, Surah At-Tahrim memberikan banyak pelajaran praktis. Pertama, pentingnya komunikasi yang jujur dan terbuka dalam keluarga. Kedua, kewajiban menjaga amanah dan tidak menyebarkan rahasia. Ketiga, pentingnya pendidikan keluarga sebagai fondasi utama dalam membangun masyarakat yang baik. Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi seseorang untuk belajar tentang nilai-nilai agama, sehingga peran orang tua sangat menentukan arah kehidupan anak-anaknya.(Haji et al., 2022)
Lebih luas lagi, surah ini juga mengajarkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral dan spiritual. Tidak ada jaminan keselamatan hanya karena kedekatan dengan orang saleh, sebagaimana istri-istri Nabi pun tetap mendapatkan teguran ketika melakukan kesalahan. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan di sisi Allah ditentukan oleh iman dan amal, bukan sekadar status atau kedudukan.(A., 1969)
Pada akhirnya, Surah At-Tahrim memberikan gambaran yang sangat realistis sekaligus mendalam tentang kehidupan manusia. Ia tidak hanya mengisahkan peristiwa dalam keluarga Nabi, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai universal yang relevan sepanjang zaman. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesetiaan, tanggung jawab, serta ketaatan kepada Allah menjadi landasan utama dalam membangun kehidupan yang harmonis, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.(126+M.+Agus+Galley, n.d.)
Surah ini juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sehingga setiap manusia harus mempersiapkan diri dan keluarganya untuk menghadapi kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.
Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir