Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Ujian di Era Digital: Menjaga Mental di Tengah Arus Media Sosial

Azifah Nurulloh by Azifah Nurulloh
April 17, 2026
in Esai
0
Ujian di Era Digital: Menjaga Mental di Tengah Arus Media Sosial
10
SHARES
59
VIEWS

Oleh : Azifah Nurulloh

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki dampak ganda terhadap kesehatan mental: di satu sisi dapat memperburuk kondisi psikologis, namun di sisi lain juga mampu memberikan manfaat tertentu. Dampak negatif yang paling sering dilaporkan meliputi peningkatan depresi, kecemasan, stres, kesepian, gangguan tidur, hingga kecenderungan adiktif, terutama ketika penggunaan media sosial bersifat berlebihan atau problematis. Sejumlah meta-analisis juga menemukan adanya korelasi sedang antara penggunaan media sosial yang tidak sehat dengan meningkatnya depresi dan kesepian, serta menurunnya kepuasan hidup dan harga diri. Bahkan, selama pandemi COVID-19, intensitas penggunaan media sosial yang meningkat terbukti berkaitan dengan kemungkinan lebih tinggi munculnya gejala kecemasan dan depresi (Weinstein, 2023; Naslund et al., 2020; Huang, 2020; Lee et al., 2022).

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Salah satu penyebab utama dampak negatif tersebut adalah pola interaksi yang terjadi di dalam media sosial. Fenomena seperti perbandingan sosial, rasa iri, FOMO (fear of missing out), serta tekanan untuk menampilkan citra diri yang “sempurna” sering kali memicu perasaan tidak cukup baik, yang pada akhirnya meningkatkan risiko gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Selain itu, paparan terhadap cyberbullying, komentar negatif, serta konten yang merugikan juga dapat memperburuk kondisi psikologis pengguna. Tidak kalah penting, penggunaan media sosial yang intens terutama di malam hari terbukti berdampak pada kualitas tidur, baik dari segi durasi maupun latensi tidur yang semakin panjang (Karim et al., 2020; Schønning et al., 2020; Koh et al., 2024; Weinstein, 2023; Khalaf et al., 2023).

Namun demikian, media sosial tidak sepenuhnya berdampak buruk. Dalam konteks tertentu, platform ini justru dapat menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis. Media sosial memungkinkan individu mendapatkan dukungan sosial secara online, yang dapat membantu mengurangi kesepian, meningkatkan rasa diterima, serta memperkuat harga diri. Selain itu, media sosial juga dapat menciptakan rasa komunitas dan koneksi, terutama bagi individu yang memiliki minat atau pengalaman serupa, sehingga mereka merasa lebih dipahami dan tidak sendirian. Bahkan, akses terhadap informasi kesehatan mental, edukasi, serta layanan dukungan psikologis juga menjadi lebih mudah melalui media sosial (Koh et al., 2024; Plackett et al., 2022; Ajewumi et al., 2024; Gilmour et al., 2020).

Perbedaan dampak ini menunjukkan bahwa yang paling menentukan bukan sekadar keberadaan media sosial itu sendiri, melainkan bagaimana cara penggunaannya. Penggunaan pasif, seperti sekadar scrolling tanpa interaksi, serta penggunaan yang bersifat kompulsif, terbukti lebih berkaitan dengan dampak negatif terhadap kesehatan mental. Sebaliknya, penggunaan aktif yang memiliki tujuan jelas, seperti berinteraksi secara positif atau mencari dukungan, lebih sering menghasilkan dampak yang positif. Selain itu, faktor individu seperti kepribadian, kondisi psikologis sebelumnya, jenis konten yang dikonsumsi, serta desain platform juga turut memengaruhi sejauh mana media sosial memberikan dampak bagi seseorang (Weinstein, 2023; Naslund et al., 2020; Agyapong-Opoku et al., 2025).

Upaya untuk mengurangi dampak negatif media sosial juga telah banyak diteliti. Intervensi berbasis terapi, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk penggunaan media sosial yang problematis, terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kesehatan mental dibandingkan sekadar membatasi waktu penggunaan atau melakukan “puasa media sosial”. Menariknya, mengurangi penggunaan media sosial tidak selalu memberikan hasil yang sama bagi setiap individu; pada sebagian orang hal ini dapat membantu, tetapi pada sebagian lainnya justru menurunkan koneksi sosial dan meningkatkan rasa kesepian (Weinstein, 2023; Huang, 2020; Plackett et al., 2022; Koh et al., 2024).

Secara keseluruhan, media sosial merupakan alat yang bersifat netral namun berdampak besar tergantung pada cara penggunaannya. Penggunaan yang berlebihan dan tidak terkontrol cenderung meningkatkan risiko gangguan mental seperti depresi, kecemasan, kesepian, dan gangguan tidur. Sebaliknya, penggunaan yang aktif, terarah, dan bertujuan positif dapat memperkuat dukungan sosial, meningkatkan rasa terhubung, serta mendukung kesejahteraan psikologis. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, dengan memperhatikan durasi, pola interaksi, jenis konten, serta kondisi diri masing-masing agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Selain itu, penting untuk menyadari bahwa kesadaran diri (self-awareness) dalam menggunakan media sosial menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan mental. Individu yang mampu mengenali batasan diri, memahami tujuan penggunaan, serta menyaring konten yang dikonsumsi cenderung lebih terlindungi dari dampak negatif yang ditimbulkan. Dalam konteks ini, literasi digital juga berperan besar, karena membantu pengguna untuk lebih kritis terhadap informasi, tidak mudah terjebak dalam perbandingan sosial, serta mampu mengelola emosi saat berinteraksi di ruang digital. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendekatan preventif seperti membangun kebiasaan penggunaan yang sehat, mengatur waktu layar, serta meningkatkan kualitas interaksi sosial baik secara online maupun offline dapat memberikan efek positif terhadap kesejahteraan psikologis secara keseluruhan (Weinstein, 2023; Koh et al., 2024; Agyapong-Opoku et al., 2025). Dengan demikian, alih-alih menjauhi media sosial sepenuhnya, pendekatan yang lebih realistis adalah menggunakannya secara sadar, seimbang, dan bertanggung jawab agar tetap menjadi alat yang bermanfaat, bukan sumber tekanan mental.

Editor : Dyah Ayu K

Terkait

Tags: Digitalmedia sosialMental Health
Previous Post

Krisis Etika di Media Sosial: Tinjauan Al-Qur’an terhadap Maraknya Pelecehan Seksual Digital

Next Post

Tafsir Kontekstual: Menjawab Persoalan Zaman dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an

Azifah Nurulloh

Azifah Nurulloh

Next Post
Tafsir Kontekstual: Menjawab Persoalan Zaman dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an

Tafsir Kontekstual: Menjawab Persoalan Zaman dengan Nilai-Nilai Al-Qur'an

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.