Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Toleransi, Membunyikan Al-Qur’an dengan Tindakan

Fathan Faris Saputro by Fathan Faris Saputro
Juli 10, 2020
in Esai
0
gerakan hijrah

negara-negara Arab yang cenderung mendukung adalah negara-negara teluk dan negara-negara yang mendapatkan keuntungan dari tawaran itu

15
SHARES
87
VIEWS

Kaitannya dengan Koneks dan Kepentingan, Kajian Al-Qur’an dalam konteks tertentu memang perlu dikritisi ulang. Mengingat kajian-kajian yang ada acap hanya terpaku pada persoalan-persoalan masa lalu dengan semua persoalan yang ada. Perlu juga kajian Al-Qur’an bicara soal toleransi dan kebersamaan.

Di sini dapat ditegaskan, bukan masa lalu atau karya-karya mereka yang menjadi persoalan. Titik persoalannya justru bagaiman kita menanggapi, menggunakan, dan meneladani karya-karya tersebut untuk kemajuan dan perubahan menuju yang terbaik.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Bukan hanya “bunyi” Al-Qur’an yang menjadi persoalan, melainkan bagaimana kita menanggapi, menggunakan, dan meneladani cara mereka “membunyikan” Al-Qur’an. Titik krusial dari pemahaman seperti ini adalah karena tidak melibatkan konteks kekinian dengan semua persoalan yang ada

Persoalan itu sebagai bagian tak terpisahkan dari proses “Pembunyian” Al-Qur’an. Hingga kerap “Bunyi” Al-Qur’an bersebrangan dengan “irama-irama” yang sudah menjadi cirri khas bangsa ini.

Baca Juga: Al-Qur’an, Sebagai Ayat-Ayat Toleransi

Kalangan islamis, contohnya menghendaki negeri ini menjadi Negara Islam, sesuai dengan “Bunyi” Al-Qur’an yang mereka “bunyikan” sendiri. Pada tahap ini, menjadikan konteks kekinian, konteks kebangsaan, dan konteks keindonesiaan sebagai bagian tak terpisahkan  dari proses “pembunyian” Al-Qur’an  adalah sebuah keniscayaan yang perlu terus dilakukan, hingga “bunyi” Al-Qur’an (toleransi) selaras dengan irama kebangsaan dan keragaman.

Membaca Konteks Al-Qur’an

Tentu saja, masih akan kita jumpai unsure subjektif kasih atau keberpihakan terhadap konteks-konteks tertentu. Pihak-pihak tertentu, contohnya, bisa mengatakan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang disebut hanyalah ayat Al-Qur’an yang sesuai dengan konteks. Padahal, masih terdapat sekian ayat dalam Al-Qur’an  yang problematis bagi konteks yang diinginkan.

Dengan kata lain, hampir tidak ada satu pemikiran yang terbebas dari konteks keinginan tertentu. Dalam konteks ini, apa yang dilakukan kalangan Islam tertentu (dengan cara membunyikan ayat-ayat yang sekilas tampak intoleran) hampir sama dengan yang dilakukan kalangan Muslim moderat.

Oleh karena itu, patokan utamanya bukanlah subjektivikasi itu sendiri, melainkan penggunaan atau penempatan subjektivikasi dalam sebuah konteks kebersamaan, kebaikan dan kedamaian.

****

Akhir-akhir ini, menjadi makin jelas bahwa persoalan toleransi yang menjadi sendi dasar kehidupan bersama dalam masyarakat majemuk seperti di Indonesia, Khususnya dalam hidup sosial-keagamaan, sedang digugat oleh proses-proses yang sangat mengkhawatirkan.

Tanpa toleransi dan sikap moderasi, maka mustahil untuk mengelola kemajemukan masyarakat dengan baik. Sementara itu pada saat bersamaan, pemerintah dan dunia justru pernah bersikap tegas.

Disinilah pentingnya melawan intoleransi dengan membumikan ayat-ayat toleransi. Dalam sejarahnya yang panjang dan penuh liku, Islam hampir tidak pernah lepas dari yang namanya toleransi. Pada masa tertentu, Islam tampil sebagai sosok yang mentoleransi. Sedangkan pada masa yang lain Islam tampil sebagai pihak yang ditoleransi.

Fikih Toleransi

Toleransi hampir seumur dengan Islam itu sendiri. Banyak riwayat sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab sirah nabi mengisahkan pertemuan Nabi Muhammad Saw dengan kelompok lain. Demikian pula di zaman pasca kenabian, dan khalifah yang empat.

Dalam konteks semacam ini, upaya untuk mengubah wajah keberagaman dan intoleransi menjadi toleransi merupakan salah satu ukuran maksimal keadaban dan peradaban sebuah individu. Semakin toleran individu atau bangsa, maka tingkat keadaban public dan peradabannya akan maksimal. Karena itu, toleransi merupakan nilai dan sikap yang harus ditumbuhkembangkan terus menerus dalam keseharian.

Baca Juga: Tidak Memiliki Urgensi RUU HIP Tuai Kontroversi

Bagi pemerintah, persoalan tumbuh-suburnya toleransi merupakan tanggung-jawab Negara sebagai pihak pertama dalam urusan publik. Tentu saja, pemerintah harus merespons secara kritis-responsif bila ada pelanggaran melalui beragam payung hukum positif yang betul bermakna “positif” dan adil tanpa pandang bulu.

Bagi kaum agamawan, barang kali upaya merumuskan teologi atau fikih toleransi perlu diupayakan sebagai tanggung jawab agama dalam meminimalisasi praktik intoleransi yang kian bebas merajalela di berbagai ranah kehidupan.

Editor: Dartim I.R.

Terkait

Tags: Al-QuranHarmonisasiKebersamaantoleransi
Previous Post

PKI atau Ateisme Baru?

Next Post

Kabar Baru Pendidikan Kampus (Daring) Era Pandemi

Fathan Faris Saputro

Fathan Faris Saputro

Next Post
beretika media sosial

Kabar Baru Pendidikan Kampus (Daring) Era Pandemi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.