Akhir-akhir ini teloransi kebangsaan terus menjadi perbincangan menarik dan memikat banyak kalangan. Hal ini bukan karena isu tersebut relative baru atau kerap dibahas, akan tetapi munculnya peristiwa demi peristiwa intoleransivis a vis toleransi di berbagai belahan dunia membuat mata hati manusia rindu akan hadirnya ayat-ayat toleransi dan perdamaian, bukan permusuhan.
Kasus terbaru intoleransi vis a vis toleransi adalah munculnya film “fitnah” dan “ayat-ayat cinta”. Sekilas, tanpa harus melihat film-nya dulupun, kita bisa menilai dua film itu amat kontras satu sama lain. Setidak-tidaknya, film pertama memiliki kesan menebar fitnah: sedangkan film kedua memberi pesan cinta.
Kedua film itu sama-sama menghebohkan, tetapi sambutan film pertama tak sebaik film kedua, setidaknya di Indonesia. Hati manusia sedunia menjawab, karena film pertama menebar intoleransi dan kebencian.
Fitnah, Ujaran Kebencian
Fitnah, film yang disutradarai dan diproduksi oleh Greet Wilders, pemimpin partai sayap kanan Belanda, yang berdurasi 15 menit tersebut, seolah sengaja “Menantang” umat Muslim sedunia. Wilders yang juga anggota parlemen Belanda (Tweede Kamer) dengan blak-blakan menghina, menjelekkan, merendahkan, dan melecehkan agama Islam.
Bukan hanya menghina Nabi Muhammad Saw sebagaimana dilakukan Koran Denmark, Jyllands Posten, beberapa waktu lalu. Namun, Wilders juga merendahkan Al-Qur’an dan Islam sepanjang Film tersebut. Dalam film itu Al-Qur’an merupakan kitab yang fasis dan Islam tidak cocok dengan demokrasi. Al-Qur’an tak ubahnya Mein Kampf-Nya Hitler yang menghasut dan melakukan kebencian dan pembunuhan.
Baca Juga: OSIS dan Rohis di Antara Dua Karang: Radikalisme dan Moderasi Beragama
Film itu kemudian ia tutup dengan sebuah kesimpulan: “Stop Islamisasi dan Bela Kebebasan Kita.” Dia lalu menasihati umat Islam untuk menyobek separuh Al-Qur’an bila ingin hidup di Belanda. Dengan begitu lengkaplah sudah penghinaan Wildres terhadap Islam. Karena, Al-Qur’an dan Sunnah/Hadits merupakan dua sumber utama pedoman umat Islam.
Muslim Menolak Radikalisme
Di tengah-tengah godaan intoleransi oleh film Fitnah, kaum Muslimin mungkin bisa sedikit lega dan bahagia dengan hasil penelitian sebuah lembaga survey terkemuka di Amerika Serikat, Gallup mengungkap relasi Islam, Muslim, dan terorisme. Survei itu menemukan bahwa mayoritas kaum Muslimin menolak radikalisme, apalagi terorisme. Mereka juga mengutuk seragan 11 September 2001 di New York dan Washington serta serangan teroris selanjutnya, seperti di Bali, Madrid, dan London.
Survei itu juga menemukan peningkatan semangat ke-Islaman di banyak kalangan Muslimin sekarang ini tidak diterjemahkan ke dalam dukungan kepada radikalisme dan terorisme. Mayoritas terbesar kaum muslimin di muka bumi ini.
Penelitian dan temuan-temuan ini, secara menyakinkan membantah pandangan politisi dan akademis Barat yang mempersepsikan Islam sebagai sumber pokok radikalisme dan terorisme kaum Musimin di segala penjuru dunia. Dalam mengkaji Islam, secara umum, kita perlu berangkat sekurang-kurangnya dari dua pendekatan, yakni historis dan normative. Memilih satu di antara keduanya adalah cara yang gegabah. Demikian pula, dalam membaca dinamika Islam di era kontemporer seperti saat ini.
Al-Quran, Ayat-Ayat Toleransi
Secara historis, lembaran sejarah umat Islam membuktikan, siapa pun yang keluar dari jalur toleransi, yang bersangkutan terjebak dalam klaim makna Al-Qur’an yang dianggap paling benar. Imam Ali bin Abi Thalib pernah berujar, Al-Qur’an hanyalah tulisan yang tertera dalam mushaf, tidak bisa berbicara dengan lisan, melainkan harus ada yang memahaminya.
Ungkapan yang kurang lebih sama pernah disampaikan Imam al-Ghazali, satu ayat dalam Al-Qur’an bisa mengandung lebih dari 60.000 pemahaman. Ungkapan dua tokoh besar dalam sejarah Islam di atas setidaknya menegaskan perihal kekayaan makna Al-Qur’an, sekaligus pentingnya bersikap toleran dalam “memaknai” teks kitab suci ini.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Pancasila sebagai Kalimah Sawa’
Secara akademik, kekayaan makna Al-Qur’an yang tak terbatas sudah menjadi fakta historis yang tak terbantahkan. Sekian banyak karya intlektual yang mengkaji kitab suci umat Islam ini. Baik karya-karya yang dilahirkan umat Islam sendiri atau para pemerhati Islam. Antara satu karya dan karya yang lain bahkan acap bertentangan.
Namun pastinya, semua itu tidak “menghabiskan” makna Al-Qur’an. Tak terkecuali di Indonesia, ilmu tentang Al-Qur’an sampai sekarang masih dipelajari secara serius di berbagai lembaga ke-Islaman, baik di pesantren, perguruan tinggi maupun institusi lainnya. Pemandangan serupa dipastikan akan berlanjut dalam beberapa tahun, atau bahkan beberapa abad kedepan. Memahami Al-Quran secara luas untuk membuka hati secara luas pula