Setelah sempat mengalami eskalasi pemberitaan yang cukup tinggi di tahun 2014, konflik Palestina-Israel diprediksi akan sama panas atau bahkan lebih panas di tahun 2021. Publik masih dan akan terus dipaksa untuk menonton aksi penjajahan dan penjarahan suatu bangsa atas bangsa lain. Sebuah adegan yang tentu tidak ingin siapapun lihat atau rasakan di era damai ini.
Rumit memang ketika membicarakan konflik Palestina-Israel. Agama, kemanusiaan, sejarah, politik hingga ekonomi, turut serta membumbui jalannya konflik tak berkesudahan ini. Sudah terduga, argumen-argumen yang sifatnya saling klaim kebenaran juga berhasil menduduki trending dunia maya.
Tulisan ini bukan untuk membahas argumen tentang langkah damai penyelesaian konflik Palestina-Israel, melainkan untuk mengingatkan lagi kepada pembaca jika terdapat tiga aktor kunci yang mestinya bertanggung jawab atas konflik ‘abadi’ ini.
Dia lah Theodore Hezrl, orang yang sudah semestinya mendapat bungkukkan hormat dari penduduk Israel, sebab ialah pencetus ide didirikannya negara Yahudi. Lahir di Budapest, Hongaria tahun 1860 Bapak Rohani Negara Yahudi (the spiritual father of the Jewish State) ini sempat dianggap gila oleh kalangannya sebab berani menggagas berdirinya negara Yahudi (Israel). Hal ini secara eksplisit ia tuangkan dalam bukunya der Judenstaat (1896).
Namun pendirian negara Israel bukan tanpa hambatan, di tahun yang sama dengan perilisan bukunya, Hezrl pernah nekad meminta wilayah kepada Sultan Abdul Hamid II dengan imbalan uang namun ditolak mentah-mentah. Ia juga pernah meminta tolong kepada orang-orang kaya Yahudi seperti Baron Hirsch dan Baron Rothschild namun hasilnya juga nihil.
Kendati demikian, berselang satu tahun ia berhasil menyelenggarakan Kongres Zionis Pertama se-dunia, tepatnya di Kota Basel, Swiss pada tahun 1897. Dari sana dihasilkan tiga doktrin Zionisme; Yahudi bukanlah agama terbuka seperti Islam, Kristen, Budha atau yang lainnya, melainkan agama tertutup yang melarang asimiliasi dengan bangsa lain. Negara Israel bukanlah kerajaan Tuhan (Ukhrawi) atau pusat dakwah Yahudi, melainkan murni negara politik. Dan terakhir menetapkan Palestina (tanah yang terjanji) untuk menjadi wilayah negara Israel.
Namun naas, hingga akhir hayatnya di tahun 1904, Hezrl belum bisa menikmati negara impiannya itu. Lalu apakah gagasan Hezrl turut mati ? Tentu saja tidak, barulah di tahun 1914 penerus Hezrl beserta keluarga Rothschild yang sebelumnya menolak membantu berdirinya negara Israel berbalik mendukungnya. Rothschild merupakan keluarga banker ternama di Eropa. Dengan kekayaannya keluarga ini bahkan sanggup mendanai dua negara yang saling berlawanan dalam sebuah perang.
Image keluarga Rothschild ini tertulis apik dalam Majalah Time “Dinasti perbankan kuno dan tidak biasa ini menutup dirinya dari tatapan publik yang penuh rasa ingin tahu, sementara peta dan sejarah Eropa telah diubah oleh aksinya dan diukir oleh namanya. Emas-emas Rothschild telah menyuplai ambisi para perdana menteri, pangeran, dan paus. Ia telah mendanai peperangan dan memperbaiki berbagai perjanjian, mengubah perpolitikan, dan memberi jaminan bagi tentara dan bangsa-bangsa.” [Time, ‘Western Europe: New Elan in and Old Clan,’ Time, 20 Desember 1963.
Berkaitan dengan kekuatan finansialnya, Natan Rothschild yang mengembangkan bank di London, dikutip dalam “The Rothschild Story” pernah mengatakan, “Saya tak peduli siapa boneka yang diletakkan di tahta Inggris untuk memerintah kekaisaran yang matahari tidak pernah terbenam di atasnya. Orang yang mengendalikan suplai keuangan Inggris merupakan pengendali kekaisaran Inggris, dan sayalah yang mengendalikan suplai uang Inggris.”
Hal itu bukan omong kosong belaka, nyatanya Rothschild mampu memengaruhi orang-orang di kerajaan Inggris untuk mendukung pendirian negara Yahudi. Dia lah Arthur James Balfour yang menjadi tokoh kunci dalam konflik ‘abadi’ ini. Lahir di Skotlandia tahun 1848, orang yang dijuluki 1st Earl of Balfour ini merupakan tokoh politik ulung. Semasa hidupnya ia pernah menduduki beberapa jabatan penting, salah satunya jabatan Sekretaris Utama Irlandia. Di sana orang-orang menjulukinya dengan nama ‘Balfour Berdarah’ sebab atas kebijakannya dalam menumpas aksi kriminalitas di negara tersebut. Ia juga sempat menjadi Perdana Menteri Britania Raya hingga menjadi ketua partai oposisi.
Tepat di masa Perang Dunia I, Balfour diangkat menjadi Menteri Luar Negeri Kerajaan Inggris. Pada waktu ini, draft penyusunan pendirian negara Yahudi telah dibahas oleh kerajaan Inggris beserta keluarga Rothschild. Sebagaimana hasil pada Kongres I Zionis, cita-cita pendirian negara Yahudi di tanah Palestina tampak semakin dekat.
Perang Dunia I dimenangkan oleh Blok Sekutu yang mana Inggris merupakan salah satu suksesornya. Sementara Blok Sentral yang kalah, dipaksa untuk menanggung biaya perang dan bersedia direformasi pemerintahannya. Seperti apa yang kita tahu, saat itu Kekaisaran Ottoman Turki Utsmani memiliki perjanjian dengan Jerman yang sekaligus menyeretnya untuk menjadi bagian dari Blok Sentral.
Akibat kekalahannya, pemerintahan Turki Utsmani direformasi dan wilayahnya dibagi-bagi. Palestina yang sejak dulu menjadi incaran para Zionis berada dalam penguasaan Inggris. Dan sudah bisa ditebak apa yang terjadi, sepucuk surat dari Balfour yang dikirimkan kepada Walter Rothschild menjadi awal dimulainya konflik Palestina-Israel ini.
Balfour menjadi tokoh yang bahkan anak usia SD di Palestina dan Israel pun tahu. Tentu dengan tanggapan yang berbeda. Jika di Palestina Balfour dianggap sebagai orang yang membuka gerbang penderitaan mereka hingga detik ini, maka lain dengan anak-anak Israel, mata mereka berbinar ketika melihat foto Balfour, bibir mereka tersenyum tatkala mendengar nama Balfour disebut.
Bagaimana tidak, Deklarasi Balfour yang hanya berisi 67 kata ini telah menjadi tonggak sejarah berdirinya negara Israel dan sekaligus catatan hitam sejarah yang secara legal mengizinkan penjarahan suatu bangsa atas bangsa lain. Inggris secara terbuka mendukung berdirinya negara Yahudi di atas tanah Palestina.
Seperti yang terbayang, penduduk asli Palestina tidak akan semudah itu menyerahkan tanah leluhurnya pada orang lain. Alhasil konflik pun tak terhindarkan. Di tengah situasi yang kian memanas, pada tahun 1947 PBB akhirnya membuat kebijakan “Two State Solution” yang dianggap mampu menjadi solusi konflik antar dua bangsa dan sekaligus mengokohkan berdirinya negara Israel. Namun apakah benar konflik antara Palestina-Israel itu selesai ? Tidak, hingga detik ini konflik masih berapi-api, tidak ada yang tahu kapan akan berhenti selama keserakahan dan klaim kebenaran sepihak masih terjadi.
Jika diibaratkan Israel adalah sebuah patung (arca). Maka Hezrl adalah pemilik gambar dua dimensinya, Balfour adalah pemilik bahan bakunya, dan Rosthchild adalah silpinnya (si pembuat arca).
Barakallahu fikum..
Mantap Nisa