Apakah dunia yang kita tinggali ini semakin baik? Atau sebaliknya, justru semakin buruk? Di sekitar saya, banyak orang tua yang mengeluh karena anak muda sekarang lebih manja, tidak mau bekerja keras, kecanduan game, dan tidak mengerti tata krama.
Di beberapa organisasi atau komunitas, banyak senior yang mengeluhkan kondisi junior-junior yang menggantikan mereka. Bahwa para junior tersebut menjadi lebih manja, tidak mau bekerja keras, kecanduan game, dan tidak mengerti tata krama.
Kakak kelas mengeluhkan kondisi adik kelas mereka yang tidak seideal mereka dulu, guru-guru mengeluhkan siswa-siswinya, dan seterusnya. Seolah dunia kita terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Namun, benarkah demikian?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan dunia tampak muram dan selalu mengalami penurunan sekaligus peluruhan nilai-nilai kebaikan. Sehingga ia selalu terlihat memburuk dari waktu ke waktu, seperti orang sakit yang sudah divonis oleh dokter tidak memiliki harapan untuk sembuh.
Salah satunya adalah media. Salah satu dalil yang digunakan oleh media adalah bad news is a good news. Berita buruk adalah kabar baik. Peristiwa buruk adalah sesuatu yang bisa diberitakan, dan akan mendulang klik yang tinggi. Sehingga, media relatif lebih sering memberitakan hal-hal yang buruk.
Media juga memberitakan peristiwa yang telah terjadi. Ia menyampaikan bahwa bom telah meledak di Bali, perang telah meletus di Suriah, dan Ayus Sabyan resmi bercerai. Media tidak memberitakan bahwa di Jakarta tidak sedang terjadi bom, di Jepang sedang tidak ada perang, dan peristiwa-peristiwa buruk yang sedang tidak terjadi lain, yang itu seharusnya adalah kabar baik.
Berita di Televisi lebih identik dengan kasus pejabat yang korupsi daripada best practice seorang guru di pedalaman yang ikhlas mengabdi pada pendidikan. Lebih identik dengan kecelakaan maut di tol daripada usia harapan hidup manusia yang terus naik.
Steven Pinker menulis bahwa dalam hampir setiap tahun, dari 1992 hingga 2015, angka kejahatan kekerasan terus menurun drastis. Namun, mayoritas orang Amerika mengatakan kepada lembaga survei bahwa kejahatan telah meningkat. Pada akhir 2015, mayoritas orang di sebelas negara maju mengatakan bahwa dunia semakin memburuk, dan dalam 40 tahun terakhir, mayoritas orang Amerika juga mengatakan bahwa negaranya menuju arah yang salah.
Konsekuensi dari berita negatif itu sendiri adalah negatif. Alih-alih mendapatkan informasi yang lebih baik, masyarakat bisa jadi justru salah perhitungan. Mereka menjadi lebih khawatir terhadap kejahatan, bahkan ketika angkanya telah menurun.
Dalam sebuah jajak pendapat pada tahun 2016, sebagian besar orang Amerika mengikuti berita tentang ISIS secara dekat, dan 77% percaya bahwa milisi ISIS yang beroperasi di Suriah dan Irak menimbulkan ancaman yang serius terhadap kehidupan mereka di Amerika. Pinker menyebut keyakinan ini sebagai delusi, mengingat daya rusak teroris sejatinya sangat kecil. Bahkan jika dibandingkan dengan daya rusak akibat kecelakaan mobil atau minuman penyebab diabetes.
Padahal, untuk mengetahui kondisi dunia yang sebenarnya, masyarakat harus melihat berdasarkan data. Berapa banyak orang yang meninggal dunia karena terorisme dari tahun ke tahun? Berapa banyak orang yang meninggal dunia karena obesitas dari tahun ke tahun? Atau sebaliknya, karena kelaparan? Berapa banyak orang yang meninggal dunia karena perang ketika abad pertengahan? Lalu berapa banyak yang meninggal karena perang di abad modern? Dan seterusnya. Sayangnya, manusia lebih suka cerita daripada data.
“Homo sapiens adalah makhluk yang mendongeng,” demikian kata Harari. “Yang berpikir dalam cerita, bukan dalam angka atau grafik, dan percaya bahwa alam semesta itu sendiri bekerja seperti cerita.”
Pesimisme, tentu saja memiliki sisi positif. Lingkaran empati yang semakin meluas akan membuat kita semakin prihatin tentang nasib orang lain di sekitar kita. Kepedulian terhadap nasib rakyat Palestina yang menjadi korban agresi militer Israel adalah contoh yang paling gampang.
Di sisi lain, kemajuan dalam arti kehidupan yang lebih baik, lebih sehat, materi yang cukup, penuh kedamaian, keselamatan, kebebasan, keadilan, literat, berpendidikan, dan cerdas juga tengah tumbuh dan bergeliat. Steven Pinker dalam Enlightenment Now setidaknya memberikan gambaran, bahwa ada 15 aspek kehidupan manusia yang terus tumbuh dan membaik berdasarkan penelitian-penelitian mutakhir.
15 aspek tersebut antara lain kehidupan, kesehatan, nafkah, kekayaan, ketimpangan, lingkungan, perdamaian, keselamatan, terorisme, demokrasi, persamaan hak, pengetahuan, kualitas hidup, kebahagiaan, dan ancaman eksistensial. Semua aspek yang dijelaskan secara panjang lebar menunjukkan satu hal, bahwa dunia sedang semakin membaik, semakin maju, dan semakin bergairah.
Bahwa problem yang menggerogoti peradaban manusia selama berabad-abad sebelumnya berupa wabah pandemi, perang, dan kelaparan telah menurun begitu drastis, meskipun menurun tidak berarti jatuh ke angka nol.