Awal tahun 2020 akan menjadi kisah fenomenal di mana dunia tengah gempar dengan tentara Allah yang mungil satu ini. Virus Corona (tuan Corona) yang kemudian mewabah hingga tingkat pandemi dan menjangkit ke hampir seluruh belahan bumi.
Virus yang tak pernah terbersit sebelumnya dalam benak, namun hanya dalam jangka waktu dekat, virus yang super kecil ini bisa mengalahkan 7 milyar manusia yang hidup di buminya Allah yang luasnya bahkan hingga ratusan juta hektar.
Virus yang tiba-tiba menjadi momok bagi manusia, membuat hidup manusiapun tiba-tiba dipenuhi bayang-bayang ketakutan. Ditambah lagi dengan muncuatnya pemberitaan media tentang korban yang berjatuhan kian mengerikan tiap harinya.
Bahkan tak pandang bulu, entah itu rakyat biasa, pejabat negara, atau bahkan pahlawan di garda terdepan.
Namun manusia seakan lupa bahwa mereka punya pilihan untuk hidup tenang dan bahagia. Mereka lupa bahwa mereka memiliki pilihan untuk menutup keyakinan mereka dari segala kemungkinan buruk agar bisa bertahan hidup lebih lama. Wabah ini justru menjadi ujian sekaligus kado istimewa yang telah Allah berikan di masa sulit ini.
Kita harus selalu ingat, bahwa kita sedang tidak berada di rumah atau kos pribadi yang kita bisa berbuat seenaknya sendiri. Namun kita sedang ada dalam lingkaran takdir Allah yang tak bisa kita elak keberadaannya. Begitupun kemunculan virus ini, semua atas izin Allah. Maka apabila kita yakin akan kuasa Allah, pastilah kita bisa menerima kondisi ini dengan lapang dada. Karena takdir Allah sejatinya selalu baik, bilapun terkena itu bukan kuasa kita.
Harus Ada Ikhtiar dan Keyakinan
Tidak dihukumi pahala maupun dosa. Justru iman kita tengah diuji, seberapa yakin dirimu akan takdir Allah. Ujian ini bukan pertanda Allah tak sayang, namun Allah ingin melihat seberapa besar usaha dan seberapa luas kesabaran kita dalam menghadapi wabah ini. Kita memang tak kuasa mengelak kedatangan virus ini, namun kita bisa memilih bagaimana kita akan menyikapinya.
Apakah kita ingin memupuk pahala dengan memilih untuk bersabar atau justru menimbun dosa dengan memilih menggerutu dan menyalahkan yang Kuasa ? Sekali lagi, Corona is a choice. Ini pilihan kita, ingin hidup tenang atau penuh dengan ketakutan.
Marilah kita bersama-sama meneguhkan keyakinan terhadap Allah bahwa dibalik musibah pastilah ada hikmah. Sudah berapa hikmah yang kita lewatkan di masa-masa ini ? kita tersibukkan dengan pemberitaan media yang tiada hentinya. Hingga Ketakutanpun juga tak punya jeda menyelimuti pikiran kita. Justru, dengan mewabahnya virus Corona ini banyak sekali pelajaran berharga yang bisa kita dapatkan bersama.
Banyak Mengingat Nikmat Allah
Terlebih lagi masa ini menjadi masa terbaik untuk refleksi diri, sejauh mana kita ingkar dengan nikmat Allah selama ini ? Sejauh mana kita bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini ? kita masih bisa bernafas lega tanpa alat bantu. Masih bisa melihat alam dengan kedua mata kita. berjalan tanpa perlu usaha yang menyiksa. Sel-sel saraf bekerja tanpa diminta bahkan otakpun masih berfungsi sedemikian rupa.
Begitu nikmat Allah sangatlah dekat, begitu dekat dengan diri kita sendiri. Nikmat yang kadang sering kita lupa, nikmat yang kadang membuat kita justru membandingkannya dengan yang lain. Merasa hidup masih serba kurang. Hingga mulai berprasangka Allah tak sayang. What happend with ourself ? what’s wrong ? Apakah dengan nikmat yang baru sebagian kecil tadi kita rasakan, lantas membuat kita mengeluh dan tidak bersyukur ?
Lagi-lagi hikmah yang lain adalah Kita menjadi lebih dekat dengan keluarga. Yang awalnya sibuk dengan aktivitas masing-masing di luar yang padat merayap, kini bisa duduk manis, santai, dan bercengkrama ria dengan keluarga. Orang tua bisa punya lebih banyak waktu dengan anaknya. Mulai dari menemani belajar sang buah hati hingga bermain bersama dengan mereka. Sungguh pemandangan yang menyejukkan.
Lagi-Lagi Banyak Hikmah
Kebiasaan menjaga kebersihanpun mulai digalakkan, padahal jauh sebelumnya Islam sudah lebih dulu mencintai kebersihan bahkan ia adalah sebagian dari iman. Mengajarkan manusia Etika batuk bersin menguap sebagaimana diajarkan Rasulullah Saw setelah 1400 tahun yang lalu. Mengajarkan manusia untuk tidak mudah bersentuhan dengan yang bukan mahrom.
Virus ini juga menyadarkan kita bahwa kematian amatlah dekat dan nyata bagi manusia dan kembali lagi bahwa segalanya adalah milik Allah yang bisa diambil kapan saja. Bahkan hanya dengan virus super kecil ini, membuat manusia berhenti mengkonsumsi hewan yg diharamkan. Melumpuhkan para diktator dunia yang begitu sombong luar biasa dan akhirnya memaksa negara untuk lebih memperhatikan rakyatnya.
****
Alhamdulillah, mungkin ini sebuah bentuk pensterilan bumi. Bumi sejenak bisa beristirahat dari hiruk pikuk dan kejamnya perilaku manusia yang suka merusak bumi. Sungguh wabah ini pertanda Allah menyadarkan 7 milyar manusia bahwa Allah lakukan ini hanya dengan virus super kecil. Yang ketika tersebar hanya manusia yang terkena dan sengsara, akan tetapi sambil dilakukannya itu bumi Allah terjaga.
Eksploitasi sumber daya alam secara liar kini mulai sunyi, polusi yang meracuni udara kini mulai menurun sehingga membuat kualitas udara semakin membaik. Maka ini adalah pemberitahuan keras dari Allah bagi manusia lewat virus Corona ini. Bukan hanya orang China, Italia, atau Indonesia saja, namun manusia seluruh dunia tak terkecuali.
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-A’raf (7) Ayat 56)
Latihan Bertahan Diri
Begitupun dengan penghuninya yang harus berusaha menahan dan bertahan dalam keadaan tertahan. Tertahan di sini bukan berarti, kita menjadi tak bisa berbuat apapun di tengah pandemi ini. Justru dengan tertahan ini kita harus berusaha menahan dari segala apa yang membahayakan termasuk memilih di rumah saja dan tidak keluar rumah bilamana tidak ada keperluan yang amat genting.
Walaupun di luar sana ada yang tengah menahan rindu ingin bertemu dengan orang-orang terkasih di kampung halaman. Namun justru pilihan untuk tidak kembali adalah bentuk kasih sayang kita dengan keluarga. Sehingga kedatangan kita tak menjadi petaka bagi mereka.
Begitupun dengan bertahan, bertahan menghadapi pandemi ini dengan ikhlas, sabar, ikhtiar dan tawakkal. Menerima dengan lapang dada bahwa pandemi ini terjadi atas kuasa Allah, berikhtiar dengan sungguh-sungguh dalam menghadapi pandemi ini termasuk menjaga kesehatan dan kebersihan diri dan lingkungan dan berusaha untuk tetap di rumah bila tidak ada kepentingan yang mendesak.
Baca Juga: Islam Rahmatan lil ‘Alamin: Ramah dan Anti Kekerasan
Bukan berarti Allah ingin manusia pasrah tanpa usaha dalam menuju setiap takdir-Nya, namun kita diberi pilihan untuk beralih dari satu takdir menuju takdir Allah yang lainnya. Dan tawakkalpun menjadi titik puncak bagi manusia untuk memasrahkan segala ikhtiarnya pada Allah.
Sebagaimana halnya keyakinan Sahabat Umar bin Khattab pada Allah bahwa “aku tidak tahu apakah yang terbaik bagiku ialah apa-apa yang aku inginkan atau apa-apa yang tidak aku sukai”. Dengan begitupun kita akan merasa lebih tenang di tengah kepungan Corona ini.
Perang Ahzab
Pandemi ini juga mengingtkan kita dengan perang Ahzab di zaman Rasulullah. Di saat kaum muslim dikepung oleh orang-orang kafir, mereka rela berburu dengan waktu menggali parit sepanjang hari, sebelum pasukan raksasa paganis memasuki Madinah. Mereka taat tanpa tapi terhadap perintah Rasulullah atas petunjuk Illahi. Ini bukanlah pertempuran sengit, melainkan perang urat syaraf.
Dalam kondisi mereka tak bisa saling melihat karena parit telah menutupi antar keduanya. Saat di mana keimanan kaum muslim benar-benar diuji. Di mana umat muslim berperang dengan hawa nafsunya sendiri. Sehingga tampaklah siapa yang imannya kuat dan mau mengambil hikmah dan mana yang munafik hingga akhirnya berkhianat.
Ada Salman Al-Farisi yang sigap dan sangat cerdas membuat strategi “penggalian parit”. Begitupun Nu’aim bin Mas’ud yang akhirnya mendapat hidayah. Namun ada juga yang akhirnya menjadi penghianat, ialah Yahudi Bani Quraizhah.
****
Bayangkan saja saat itu kaum Muslim dihimbau untuk tetap bertahan dalam benteng, bilapun keluar justru nyawa yang akan jadi taruhannya. Justru satu-satunya pilihan hanyalah dengan menahan dan bertahan dengan berbekal sabar dan tawakkal.
Tapi berkat doa dan kesabaran tiada henti, saat itulah Allah menurukan bala tentara-Nya dengan angin kencang yang memporak-porandakan perkemahan mereka dan para malaikat Allah menggoncangkan jiwa mereka hingga mereka merasa takut yang luar biasa. Hingga akhirnya atas izin Allah, kaum kafir kalah telak di tangan kaum Muslimin.
Saatnya Memulihkan Keadaan
Mungkin ini saat yang tepat bagi kita untuk memperbanyak ikhtiar dan doa. Lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan memohon ampun atas segala khilaf yang pernah kita lakukan selama hidup di buminya. Terlalu banyak kerusakan bumi yang terjadi akibat ulah tangan kita sendiri.
Terlalu banyak syariat Allah yang hanya kita jadikan hidangan prasmanan dengan seenaknya memilah-milah sesuai dengan keinginan hati. Bahkan enggan melakukan syariat-Nya dikala hal tersebut tak pas dengan hawa nafsu.
Baca Juga: Di Balik Pertanyaan “Kamu Puasa Nggak?”
Islam mengatur seluruh sendi kehidupan bahkan mulai dari urusan sandal hingga urusan negara. Semoga dengan adanya wabah corona ini mampu menggugah keimanan kita dan menjadi pelajaran berharga bagi kita terlebih lagi untuk memasuki bulan Ramadhan yang mulia. Semoga kita bisa mencapai kemenangan yang nyata nantinya. Aammiin. Nasruminnallahi wa Fattunqarib.