Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Ketika Anak Membangkang, Siapa Sebenarnya yang Harus Disalahkan?

Ammar Faathin Al Ghozi by Ammar Faathin Al Ghozi
April 10, 2026
in Akhlak, Esai
0
Ketika Anak Membangkang, Siapa Sebenarnya yang Harus Disalahkan?
15
SHARES
90
VIEWS

Di balik setiap anak yang membangkang, selalu ada cerita yang lebih dalam dari sekadar “anak nakal.” Sudah saatnya kita bertanya dengan cara yang berbeda.

Bayangkan sebuah meja makan yang hening. Seorang ibu menyajikan makanan yang telah ia masak sejak sore. Anaknya duduk, menatap layar ponsel. Ketika diminta mematikan gawai, sang anak berdiri, memasang earphone, dan masuk kamar tanpa sepatah kata pun.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Adegan seperti itu bukan lagi sesuatu yang asing. Di berbagai rumah, di berbagai kota, dan di berbagai lapisan sosial, perilaku membangkang anak telah menjadi topik yang melelahkan sekaligus menyakitkan bagi banyak orang tua.

Reaksi yang paling umum muncul adalah kemarahan dan rasa tidak dihargai, lalu pertanyaan yang sama: “Anak zaman sekarang kenapa susah sekali diatur?” Pertanyaan itu, jujur saja, salah arah. Yang lebih tepat adalah: apa yang sesungguhnya sedang terjadi, dan siapa yang harus bertanggung jawab?

“Anak yang membangkang bukan anak yang jahat. Ia adalah anak yang berteriak minta perhatian — dengan cara yang salah.”

Membangkang Itu Bukan Sekadar “Nakal”

Kita sering terjebak menyederhanakan perilaku membangkang sebagai urusan moral semata: anak yang tidak patuh berarti anak yang tidak beradab atau tidak tahu diri. Padahal, psikologi perkembangan menjelaskan sesuatu yang jauh lebih kompleks dari itu.

Rosita (2023) menegaskan bahwa perilaku menyimpang pada remaja tidak muncul begitu saja. Ia dilatarbelakangi oleh kondisi keluarga yang tidak kondusif, pola asuh yang kurang tepat, serta minimnya afeksi dan komunikasi antaranggota keluarga.

Membangkang hampir selalu punya cerita di baliknya. Ada anak yang membangkang karena merasa tidak pernah didengar. Ada yang memberontak karena aturan terasa tidak adil dan tanpa penjelasan. Membedakan keduanya adalah kunci pertama yang harus kita pegang sebelum bereaksi.

Pola Asuh: Akar yang Paling Dalam

Jika kita menelusuri ke mana akar masalah ini bermuara, jawabannya hampir selalu berujung pada satu hal: bagaimana anak diasuh sejak kecil. Ada tiga gaya pengasuhan utama yang paling banyak dikaji: demokratis, otoriter, dan permisif.

Orang tua otoriter menetapkan aturan tanpa dialog dan menuntut kepatuhan mutlak. Hasilnya, anak tumbuh memendam ketidakpuasan. Ketika tumpukan itu meledak, biasanya di masa remaja, bentuknya adalah pemberontakan yang keras dan terbuka.

Orang tua yang terlalu permisif pun tidak luput dari persoalan ini. Mereka membiarkan anak tanpa batasan yang jelas dan konsekuensi yang nyata, sehingga anak tumbuh tanpa belajar bahwa setiap tindakan memiliki dampak dan setiap kebebasan ada tanggung jawabnya.

Wigati dkk. (2022) menunjukkan bahwa pola asuh yang kurang tepat menciptakan situasi yang tidak menyenangkan bagi anak dan memicu distorsi perilaku terhadap lingkungannya. Jika kondisi ini terus berlanjut, anak rentan terjerumus ke dalam penyerapan nilai-nilai yang menyimpang.

Sormin dkk. (2024) juga menemukan bahwa orang tua yang membangun komunikasi terbuka dan membuat aturan bersama-sama dengan anak terbukti jauh lebih berhasil mencegah perilaku menyimpang pada remaja dibanding orang tua yang hanya mengandalkan hukuman.

“Kualitas hubungan antara orang tua dan anak jauh lebih menentukan dibanding sekadar tingkat kesibukan atau kondisi ekonomi keluarga.”

Ketika Keluarga Menjadi Ladang yang Gersang

Kondisi paling berat dialami anak ketika keluarga, yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru menjadi sumber luka. Keluarga yang tidak mampu menjadi pelindung emosional mendorong anak mencari pelarian di lingkungan luar yang tidak selalu membawa dampak positif.

Prasasti dan Muhlisin (2024) dalam penelitian mereka di Surakarta membuktikan adanya korelasi yang signifikan antara pola asuh orang tua dan perilaku kenakalan remaja. Temuan ini mempertegas bahwa lingkungan keluarga adalah penentu utama karakter seorang anak.

Utami dan Raharjo (2021) menegaskan bahwa jika anak melakukan hal-hal yang melanggar norma, ada sesuatu yang kurang tepat dari lingkungannya. Mencintai anak dan tahu cara mengasuh dengan tepat adalah dua hal yang sepenuhnya berbeda dan tidak bisa disamakan.

Remaja sangat peka terhadap ketidakhadiran emosional orang tua. Ketika mereka merasa tidak dilihat, tidak didengar, dan tidak dipahami, pembangkangan menjadi satu-satunya bahasa yang terasa mungkin untuk menyampaikan kebutuhan yang tak terpenuhi.

Masa remaja memang masa pencarian jati diri yang penuh gejolak. Namun gejolak itu akan jauh lebih mudah dilewati ketika orang tua hadir sebagai pengarah yang bijak, bukan sekadar sebagai sumber larangan dan hukuman yang membuat anak semakin ingin memberontak.

Apa Kata Al-Qur’an? Tanggung Jawab yang Lebih dari Sekadar Duniawi

Bagi keluarga Muslim, persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari perspektif iman. Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan anak berbakti kepada orang tua, tetapi juga secara tegas mewajibkan orang tua menjalankan tanggung jawab pengasuhan dengan sebaik-baiknya.

Narotama, Rhain, Dahliana, Nurrohim, dan Azizah (2024) dalam kajian tafsir komparatif terhadap Surah Al-Kahfi ayat 82 menyimpulkan bahwa kesalehan orang tua berpengaruh langsung pada keberkahan keturunan mereka, bahkan setelah sang orang tua tiada.

Rahayu dan Nurrohim (2022) menambahkan bahwa Al-Qur’an menempatkan orang tua sebagai penanggung jawab utama atas kondisi spiritual, moral, dan emosional anak. Motif mendidik, apakah berlandaskan nilai Ilahi atau kepentingan duniawi, menentukan kualitasnya.

Islamic Parenting: Mendidik dengan Hati dan Ilmu

Konsep Islamic parenting menawarkan kerangka pengasuhan yang berbasis nilai agama sekaligus relevan secara psikologis. Orang tua yang hangat, tegas, dan penuh keteladanan terbukti lebih berhasil membentuk karakter anak yang kuat, mandiri, dan penuh rasa hormat.

Islamic parenting bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna, melainkan tentang menjadi orang tua yang benar-benar hadir: secara fisik, emosional, dan spiritual. Tujuannya adalah membangun kepercayaan agar di masa remaja anak masih bisa pulang, bukan melarikan diri.

“Mendidik anak bukan sekadar tugas harian. Ia adalah investasi peradaban yang hasilnya mungkin baru kita lihat puluhan tahun kemudian.”

Lalu, Siapa yang Harus Disalahkan?

Lalu, siapa sebenarnya yang harus disalahkan? Tidak ada satu pihak tunggal yang bisa kita tunjuk. Perilaku membangkang anak adalah produk dari ekosistem: keluarga, sekolah, pergaulan, media, dan tekanan zaman yang semuanya bekerja secara bersamaan.

Di antara semua faktor itu, keluarga tetap menjadi pemain yang paling sentral. Anak yang membangkang bukan musuh yang harus ditaklukkan. Ia adalah anak yang kelelahan atau kesakitan, dan menyampaikannya dengan cara yang paling ia bisa.

Generasi yang kita didik hari ini adalah cermin dari cara kita mengasuh, mengajar, dan mengasihi mereka. Ketika cermin itu menampilkan sesuatu yang tidak kita sukai, mungkin sudah waktunya kita yang berbenah terlebih dahulu.

Terkait

Previous Post

Rajut Silaturahmi: PK IMM FAI UMY Selenggarakan Syawalan Sebagai Upaya Menjemput Kemuliaan

Next Post

Mengapa Kamu Harus Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang lain

Ammar Faathin Al Ghozi

Ammar Faathin Al Ghozi

Next Post
Mengapa Kamu Harus Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang lain

Mengapa Kamu Harus Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang lain

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.