Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Islam Rahmatan lil ‘Alamin: Ramah dan Anti Kekerasan

Izzul Khaq by Izzul Khaq
Juli 18, 2020
in Report
0
kalimahsawa
44
SHARES
260
VIEWS

Islam adalah agama yang bersifat universal, humanis, dinamis, kontekstual dan akan abadi sepanjang masa. Dan Islam juga merupakan agama rahmat untuk semesta alam. Agama yang telah melewati pelbagai tahapan ujian di dunia, mulai dari ujian zaman jahiliah, hingga zaman teknologi. Posisinya sebagai agama yang merahmati seluruh alam sekaligus sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya menjadikan Islam istimewa.

Akan tetapi Kondisi umat Muslim saat ini (secara keseluruhan) belum mampu—untuk tidak mengatakan tidak mampu—membawa agamanya dengan baik dan benar. Ketidakmampuan itu menjadi salah satu penghalang hadirnya Islam dengan penuh kesejukan dan kedamaian. Benar adanya, apa yang dikatakan oleh Muhammad Abduh bahwa ketinggian “ajaran Islam tertutup oleh perilaku umat Muslim” sendiri (Al-Islâm mahjûbun bil-Muslimîn).

Bahkan Muhammad Iqbal menyatakan bahwa kemunduran kaum Muslimin bukanlah disebabkan ajaran agamanya, tetapi kesalahan terletak pada diri masing-masing pribadinya. Mereka keliru dalam memahami ajaran agama lantaran kejumudannya. Kadangkala apa yang diamalkan bertolak belakang dengan sumber aslinya.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Karena Salah Pemahaman

Pemahaman yang keliru akan melahirkan tindakan yang keliru pula. Ironisnya, jika mempertahankan pemikirannya dengan cara apa pun. Ini sebuah kejumudan dalam beragama dan sedang dialami umat Muslim. Dari sinilah awal mulanya tindakan kekerasan atas nama agama lahir.

Kejumudan dapat diobati oleh pendayagunaan akal secara maksimal. Mengolah pemikiran—hasil olahan dan cernaan akal yang aktif—agar menjadi baik dan benar, salah satunya melalui pendidikan.

Pendidikan yang ditempuh seseorang, baik formal, non-formal dan informal adalah kesatuan yang terpadu, untuk membentuk pribadi Muslim yang mampu mengkontekstualisasikan ilmu pengetahuan yang didapatkannya ke sebuah lingkungan masyarakat.

Baca Juga: Lalu Muhammad Iqbal: Musuh Manusia adalah Perbuatan Buruknya

Al-Qur’an mempersilakan umat Muslim untuk mengembangkan ilmu dan mendayagunakan akalnya semampunya. Namun harus disadari, umat Muslim dikenal sebagai ummatan wasathan (umat pertengahan), meminjam gagasan M. Quraish Shihab, “umat yang tidak larut dalam spritualisme tetapi juga tidak hanyut dalam alam materialisme”. Kedewasaan dalam beragama akan melahirkan perdamaian dan kerukunan lintas kelompok, agama, etnis suku dan ras adalah dambaan Islam.

Gagasan Islam Rahmatan lil Alamin

Gagasan Islam Rahmatan lil Alamin yang dijadikan payung dalam berdakwah, tentunya memiliki perbedaan signifikan dalam tatanan praktiknya dengan gagasan-gagasan lainnya, seperti: Islam Liberal dan Islam Pluralis, Islam Progresif, Islam Nusantara, Islam Kalap & Islam Karib, Islam Berkemajuan, dan lain sebagainya. Semuanya, akan menuju kepada agama rahmat untuk alam semesta.

Namun, sama-sama memiliki visi membaca Islam dengan penuh kelembutan, kedamaian dan menjadi solusi untuk dunia. Tetapi, istilah Islam Rahmatan lil Alamin merupakan istilah yang bersumber dan tercantum dalam al-Qur’an (building in Islam), Allah Swt langsung yang memberikan istilah tersebut untuk menyebut sebuah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad akan berdampak positif, inklusif, komprehensif dan holistik.

Semua slogan-slogan itu menuju kepada agama rahmat untuk alam semesta.  Gagasan yang tidak memiliki kekurangan dan kelemahan, gagasan yang ‘suci’ dan gagasan Ilahiah, dan lebih autentik.

Sikap ini sebagai upaya untuk menghindari asumsi-asumsi negatif yang ditempelkan kepada Islam, sebagaimana anggapan yang berkembang. Bahwa semua istilah yang berkembang merujuk pada “makhluk yang sama”, yaitu “Islam yang tunduk dan tersubordinasikan kepada Barat”. Sebab Ajaran Islam Rahmatan lil ‘Alamin bukan hal baru dalam konsep pemikiran Islam dan memiliki basis yang kuat dalam teologi Islam.

Islam yang Ramah tanpa Kekerasan

Muchith Muzadi—kakak KH. Hasyim Muzadi—mengungkapkan bahwa dengan Islam Rahmatan lil Alamin mampu membuat para muballighin (penyebar dan pembawa agama) yang membawakan Islam dengan penuh keramahan, kedamaian dan kebijaksanaan, mudah diterima oleh masyarakat dengan sukarela tanpa perlawananan dan kekerasan.

Di satu sisi, tugas pendakwah juga berfungsi sebagai pembimbing (guidance), juga tempat menyelesaikan masalah (counseling). Dari kepiawaiannya meramu ajaran Islam dengan baik dan benar, ia menjadi ulama Indonesia yang dipercaya dunia untuk menjadi “pemadam konflik” di berbagai penjuru dunia.

Pun manifestasi dari ajaran Islam Rahmatan lil Alamin menjadi upaya memperbaiki wajah baru Islam di mata dunia. Dengan mengedepankan gagasan ini maka Islam  akan menjadi berkah untuk alam semesta dan menjadi agama rahmat buat semua manusia.

****

Dan konflik adalah antitesa dari perdamaian. Terjadinya sebuah konflik diakibatkan oleh perbedaan pemikiran, sikap mengerti dan menerima dari perbedaan itu. Dalam masyarakat yang homogen, banyak ditemukan konflik-konflik, terlebih jika masyarakat yang heterogen seperti di Indonesia maka konflik tidak akan hilang.

Baca Juga: Pemuda Muhammadiyah Mercusuar bagi Pemuda Millenial

Entitas Islam sebagai Rahmatan lil Alamin mengakui eksistensi pluralitas lantaran sunnatullah. Pluralitas adalah syarat determinan dalam penciptaan makluk ke muka bumi. Konsep humanisme yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw begitu luhur, tidak saja menyerukan perdamaian lintas batas, tetapi saling menjaga dan memperat tali persaudaraan dengan siapa pun.

Jika paradigma sudah terintegrasi akan gagasan diatas, ditambah sebuah sabda Nabi yang berbunyi: Al-islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih: Islam senantiasa unggul, dan ia tidak akan terungguli. ghirah pun tak terbendung gunamengembalikan kejayaan Islam sesuai Islam Rahmatan Lil’Alamin yang lekang oleh zaman. Maka persatuan ummat Islam sangat dibutuhkan untuk saling bahu membahu sesuai hadits tersebut.

Terkait

Tags: IslampendidikanPeradabantoleransi
Previous Post

Islam Merangkul Perbedaan

Next Post

Terimakasih Tuan “Corona”

Izzul Khaq

Izzul Khaq

Mahasiswa Ilmu Qur'an dan Tafsir UMS Mahasantri Pondok Hajjah Nuriyah Shabran 2019

Next Post
Doa penutup kegiatan adalah doa yang cukup penting, mengingat doa tersebut harus selalu kita ucapkan setiap mengakhiri kegiatan.

Terimakasih Tuan "Corona"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.