Oleh: Erlan Dwi Cahyo, S.Ag
Pernahkah Anda memberi bantuan kepada seseorang baik itu berupa uang, barang, atau sekadar pertolongan waktu lalu di dalam hati terbersit ganjalan kecil ketika sang penerima berlalu begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih?
Jika pernah, jangan berkecil hati dahulu. Perasaan seperti itu sangat manusiawi. Ego kita secara alami memang menyukai pengakuan dan apresiasi. Namun, di titik itulah letak ujian sesungguhnya. Detik ketika kita mengharapkan ucapan terima kasih adalah batas tipis yang memisahkan antara kebaikan yang masih tersisa pamrih dengan ketulusan murni yang bertaut dengan langit.
Dalam ajaran Islam, ketulusan atau yang biasa kita sebut Ikhlas bukanlah sekadar teori moral atau jargon yang diucap di bibir. Ikhlas adalah sikap iman tingkat tinggi. Al-Qur’an merekam manifestasi ikhlas ini melalui tutur kata hamba-hamba Allah yang berjiwa mulia:
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan darimu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)
Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan sosok-sosok yang memberi bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin dipandang dermawan, bahkan bukan demi balasan senyuman. Mereka memberi karena menyadari bahwa apa yang ada di tangan mereka pada hakikatnya adalah milik Allah, dan hanya rida-Nya yang mereka tuju.
Warisan Langit dan Kerendahan Hati Tradisi Monoteisme
Nilai ketulusan ini begitu bening dan melampaui sekat-sekat dogmatis formal. Dalam realitas sosial, kita kerap mendapati ketulusan yang luar biasa justru dari saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan. Mengapa demikian? Sebab, ajaran untuk memberi tanpa meminta balasan pada dasarnya adalah doktrin dari langit warisan wahyu ilahi yang diturunkan kepada umat manusia sepanjang sejarah. Hanya saja, ketika pesan-pesan langit itu menyentuh bumi dan dipraktikkan oleh manusia, ia kerap terdistorsi oleh sifat nisbi, kepentingan politik, atau ego kelompok.
Sebagai pemeluk Islam, yang lahir dalam silsilah tradisi Monoteisme Ibrahim (Abrahamic religions) sebagai yang termuda setelah Yudaisme dan Kristianitas, ada kerendahan hati yang perlu terus kita rawat. Kita tidak boleh sungkan untuk belajar dari pengalaman panjang “agama-agama kakak” kita. Perjalanan sejarah mereka dalam menjaga nilai-nilai spiritualitas di tengah arus sekulerisme ateistis modern yang kerap memandang hubungan manusia secara dingin dan transaksional memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita hari ini.
Kejujuran: Saudara Kandung Ketulusan
Jika ketulusan adalah akar yang menancap dalam di dalam tanah, maka kejujuran (ash-shidq) adalah buah manis yang mekar di dahan-dahannya. Keduanya adalah saudara kandung yang tak terpisahkan. Keduanya bersumber dari ruang terdalam di dalam dada manusia: hati yang jernih, bukan kalkulasi matematis di kepala. Kalkulasi otak selalu bertanya: “Apa keuntungan yang bisa kudapatkan jika aku berbuat baik padanya?” .Sedangkan nurani yang jujur cukup bertanya: “Apakah tindakanku ini benar dan membawa kemaslahatan?”
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah merasakannya: bertukar sapa, bertetangga, atau berkolaborasi dengan kawan yang berbeda agama, namun entah mengapa kontak batin terasa begitu hangat dan dekat. Rasa nyaman itu hadir bukan karena kita menyatukan akidah, melainkan karena ada bahasa universal yang melompati benteng perbedaan, yaitu kejujuran dan ketulusan.Di hadapan kejujuran dan ketulusan, perbedaan keyakinan tidak lagi menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan yang menghubungkan dua jiwa manusia.
Berbeda dalam Persaudaraan, Bersaudara dalam Perbedaan
Persahabatan sejati yang tahan uji tidak pernah berdiri di atas landasan kemanfaatan sempit atau kepentingan sesaat. Ia hanya bisa berdiri kokoh di atas fondasi iman yang melahirkan ketulusan dan kejujuran.Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang majemuk, pegangan kita sangat sederhana namun mendalam: “Berbeda dalam persaudaraan, dan bersaudara dalam perbedaan.”
Artinya, kita tidak perlu memaksakan keseragaman untuk bisa bersaudara, dan kita tidak boleh menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling memusuhi.Tanpa kesadaran ini, kita patut risau. Agama yang sejatinya diturunkan sebagai mata air kedamaian, tempat bernaung yang teduh, dan pelipur lara justru berisiko mengalami penyempitan makna. Ia bisa terdistorsi menjadi pemicu sengketa, penyebar kebencian, bahkan sumber permusuhan.
Oleh karena itu, rekam jejak sejarah dan peristiwa masa lalu harus menjadi ikhtibar (pelajaran) yang jernih bagi kita hari ini. Sebagaimana Al-Qur’an menyapa nurani kita dengan kehangatan sekaligus ketegasan:“Maka ambillah pelajaran (dari peristiwa itu), wahai orang-orang yang mempunyai penglihatan tajam!” (QS. Al-Hashr: 2)
Semoga kita tidak hanya menjadi orang yang ‘melihat’ perbedaan, tetapi juga menjadi orang yang ‘melihat dengan tajam’ bahwa di balik keberagaman itu, ada panggilan untuk saling menyayangi dengan ketulusan yang sejati.
Editor: Rahma Alia Nurhidayah