Oleh: Imron Rosyadi[1]
Trisentra pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat harus dihadirkan kembali bagi generasi era milenial. Tujuannya agar terwujud generasi emas masa depan yang unggul intelektual dan anggun moral. (Prof. Dr. Din Syamsyudin)
Secara umum tantangan tidak hanya pendidikan saja sebetulnya, di era milenial adalah bagaimana mengemas pembelajaran Islam yang tepat dengan generasi milenial. Kalau menurut saya generasi milenial adalah generasi yang tertarik dengan media sosial (medsos). Medsos itu kemasan yang harus kita ketahui, namun kontennya itulah yang harus kita isi juga dengan nilai-nilai Islam atau nilai-nilai kebaikan lainnya.
Sebagaimana dalam konsep dakwah, Islam dari dulu ya gitu-gitu saja, jangan ditambahi ataupun dikurangi. Islam itu sudah sempurna. Jika isinya dikurangi, maka jadi tidak sempurna. Dan jika ditambahi maka jatuhnya menjadi bid’ah. Maka seperti dalam konsep majelis tarjih itu harus jelas, mana yang purifikasi dan mana yang dinamisasi. Oleh karena itu di era milenial ini yang perlu dikembangkan adalah metode dan kemasannya, menjadi lebih kreatif dan interaktif. Sehingga belajar Islam itu tidak bosan dan membosankan.
Prinsipnya dalam teori pendidikan bahwa pembelajaran itu bukan hanya sekedar transfer pengetahuan tetapi terpenting adalah transfer nilai-nilai. Untuk mampu mentransfer nilai-nilai itu maka semua aspek dalam diri manusia harus dioptimalkan. Pendidikan itulah yang bertugas menyentuh semua aspek kemanusiaan itu. Terlebih di era sekarang yang serba digital, terkadang banyak nilai-nilai baik menjadi kabur dan terlihat abstrak. Hal ini diakibatkan adanya distrupsi kebaikan yang terjadi pada manusia diakibatkan digitalisasi manusia.
| baca juga Generasi Produktif dan Berwawasan Kebangsaan |
Oleh karena itu sebagai sebuah respon paling tepat dalam menghadapi tantangan era milenial seperti sekarang ini sebagaimana kaidah fikiyah yakni tetap berpegang teguh pada semboyan “Al-muhafazhah ala al-qadimi ash-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah” (menjaga perihal lama yang baik dan mengambil gagasan baru yang lebih baik). Yang baik dari adanya era milenial bisa dikembangkan, namun yang buruk dari adanya era itu harus ditinggalkan kalau misal tidak mampu diperbaiki.
Dengan demikianpun dalam dunia pendidikan Islam. Tantangan dan peluang harus dianalisa. Yang baik dari adanya era milenial ini bisa diambil. Yakni sebagai sebuah sarana dalam pendidikan yang lebih menarik dan ilustratif, sehingga membantu mempermudah pemahaman peserta didik.
Tapi yang buruk dari era milenial harus ditinggalkan, entah itu yang berupa nilai-nilai tidak baik dan materialistis maupun sikap hidup yang cenderug lebih egois dan lupa pada kehidupan sosial. Jadi demikian yang nampaknya dapat saya tulis sebagai urun-urun rembug terkait dengan respon kita (sebagai akademik) yang kecenderungannya sedang berada di era milenial.
[1] Ketua Lembaga Pengembangan Pondok Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta