Oleh: Azhar Ardiansyah Al Aziz
Hari ini kita hidup di jaman yang aneh. Informasi ada di mana-mana. Mau tahu sesuatu tinggal buka Google, TikTok, Instagram, YouTube, atau sekadar tanya AI. Dalam beberapa menit, kita bisa tahu apa yang sedang terjadi di Indonesia, bahkan di belahan dunia lain.
Tapi semakin banyak informasi yang kita punya, apakah kita benar-benar semakin pintar? Sepertinya belum tentu. Kadang kita cuma semakin cepat tahu, bukan semakin dalam memahami sesuatu.
Kita tahu ada kemiskinan, tahu ada ketimpangan, tahu ada korupsi, tahu ada masalah pendidikan. Kita bahkan ikut membicarakannya di medsos dan repost di story. Tapi setelah itu apa? Scroll lagi. Lihat konten lain. Lupa lagi.
Di tengah keadaan seperti ini, pemikiran Ali Syariati tentang Rausyanfikr terasa masih relevan. Istilah ini kurang lebih berarti manusia yang tercerahkan. Tapi jangan dibayangkan sebagai orang yang setiap hari baca buku tebel, pake kacamata, terus ngomong dengan istilah yang susah dipahami. Bukan itu. Bagi Syariati, manusia tercerahkan adalah orang yang sadar terhadap keadaan di sekitarnya dan MAU melakukan sesuatu terhadap keadaan tersebut. Jadi, pintar aja nggak cukup.
Banyak Tahu, Sedikit Sadar
Ada perbedaan antara orang yang banyak tahu dengan orang yang sadar. Kita bisa hafal banyak teori, bisa bicara tentang Marx, Foucault, Freire, atau Syariati. Bisa ikut diskusi berjam-jam, bisa membuat tulisan yang kelihatannya keren. Tapi kalau semua itu tidak membuat kita lebih peka terhadap keadaan sekitar, terus apa gunanya?
Misalnya kita tahu teori tentang ketimpangan sosial, tapi ketika liat orang yang kesulitan ekonomi kita biasa aja. Kita bicara tentang pendidikan yang membebaskan, tapi tidak pernah peduli dengan anak-anak yang bahkan kesulitan mendapatkan akses pendidikan.
Kita bicara tentang keadilan, tapi diam saja ketika ketidakadilan terjadi pada orang yang nggak punya kuasa. Di sinilah Syariati menarik garis yang cukup jelas, yaitu pengetahuan harus punya hubungan dengan berkehidupan. Pengetahuan atau ilmu bukan cuma untuk membuat kita kelihatan pintar. Pengetahuan seharusnya membuat kita semakin sadar realitas sosial.
Gen Z dan Dunia yang Serba Cepat
Gen Z punya masalah yang agak beda. Kita hidup di dunia yang semuanya serba cepat. Berita cepat, trend cepat, informasi cepat, bahkan hubungan antar manusia juga serba cepat. Hari ini seseorang bisa dianggap keren, besok sudah dilupakan. Hari ini satu isu viral, besok muncul isu baru. Kita akhirnya terbiasa hidup dengan perhatian yang pendek.
Hal ini juga berpengaruh pada cara kita berpikir. Kita ingin semuanya cepat, baca artikel panjang udah males, lihat video dua menit udah cukup. Kalau ada penjelasan yang terlalu berat, tinggal skip. Padahal tidak semua persoalan bisa dipahami dalam satu menit. Kemiskinan tidak bisa dijelaskan hanya lewat satu video. Ketidakadilan tidak selesai hanya dengan satu unggahan dan masalah pendidikan tidak bisa diselesaikan dengan satu seminar.
Di sinilah tantangan intelektual muda hari ini. Kita punya akses informasi yang luar biasa besar, tapi harus belajar untuk tidak jadi manusia yang hanya hidup dari potongan-potongan informasi.
Jangan Cuma Jadi Penonton
Media sosial membuat kita gampang menjadi penonton. Ada masalah, kita lihat, ada demonstrasi, kita lihat, ada orang tertindas, kita lihat, ada bencana, kita lihat. Bahkan penderitaan manusia sekarang bisa muncul di handphone dan kita lihat sambil rebahan. Masalahnya, lama-lama kita jadi terbiasa melihat semuanya tanpa merasa perlu melakukan sesuatu. Kita menjadi penonton dari kehidupan kita sendiri sebetulnya.
Syariati menawarkan sesuatu yang berbeda. Manusia tercerahkan bukan orang yang hanya melihat realitas, tapi orang yang berusaha memahami realitas dan mencari cara untuk mengubahnya. Artinya, kalau kita melihat ada persoalan di sekitar kita, jangan berhenti pada “miris banget.”
Tanyakan juga “Kenapa ini bisa terjadi?” “Siapa yang terdampak?” “Apa yang bisa saya lakukan?” Pertanyaan sederhana seperti itu sebenarnya sudah menjadi awal dari kesadaran kritis kita.
Intelektual Bukan Soal Gelar
Ada hal lain dari pemikiran Syariati yang menarik, yaitu menjadi intelektual tidak harus menunggu punya gelar tinggi. Mahasiswa bisa menjadi intelektual. Aktivis bisa menjadi intelektual. Penulis bisa menjadi intelektual. Bahkan orang biasa pun bisa memiliki kesadaran intelektual ketika ia mau membaca keadaan dan berpikir kritis terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.
Jadi, intelektual bukan sekadar status, ia adalah cara seseorang melihat kehidupan. Orang yang tercerahkan tidak mudah menerima sesuatu hanya karena “memang dari dulu seperti itu”. Ketika melihat sistem pendidikan yang bermasalah, ia bertanya kenapa. Ketika melihat ketimpangan, ia bertanya kenapa. Ketika melihat agama hanya digunakan untuk membenarkan kekuasaan, ia bertanya kenapa. Sebab berpikir kritis pada dasarnya dimulai dari keberanian untuk bertanya.
Lalu, Apa Hubungannya dengan Aktivisme?
Di sinilah pemikiran Syariati menarik untuk mahasiswa. Kita sering menganggap aktivis sebagai orang yang paling sering turun aksi, paling ramai berdiskusi, atau paling banyak memegang jabatan organisasi. Padahal belum tentu.
Aktivisme tanpa kesadaran bisa berubah menjadi rutinitas. Rapat, program kerja, seminar, kajian, lalu selesai. Yang seharusnya lebih fundamental adalah apakah semua aktivitas itu membuat kita semakin memahami persoalan masyarakat.
Kalau organisasi mahasiswa hanya sibuk mengurus dirinya sendiri, lalu lupa dengan masyarakat di luar pagar kampus, ada sesuatu yang perlu dipikirkan kembali. Syariati menginginkan intelektual yang dekat dengan realitas. Bukan intelektual yang hanya sibuk membicarakan masyarakat dari ruangan yang nyaman.
Karena itu, mahasiswa perlu keluar. Datang ke desa ngobrol dengan masyarakat. Melihat persoalan pendidikan, mendengar cerita buruh. Membaca masalah anak muda, meneliti persoalan sosial, dan membawa pengalaman itu kembali ke ruang diskusi. Dari sana, teori menjadi lebih hidup.
Jangan Sampai Pengetahuan Cuma Jadi Gaya
Ada satu hal yang menurut penulis cukup mengganggu hari ini, pengetahuan kadang berubah menjadi gaya hidup. Kita membaca buku supaya terlihat intelektual, posting kutipan filsuf supaya terlihat kritis, foto dengan buku supaya terlihat suka membaca, dan menggunakan istilah rumit supaya terlihat pintar.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Masalahnya muncul ketika pengetahuan hanya berhenti pada “Label”. Kita terlihat pintar, tetapi tidak benar-benar berpikir. Terlihat kritis, tetapi takut mengkritik sesuatu yang dekat dengan kita. Terlihat peduli, tetapi tidak pernah benar-benar turun tangan.
Kalau menggunakan kacamata Syariati, di sinilah kita perlu bertanya kembali “Apakah kita benar-benar tercerahkan, atau hanya terlihat tercerahkan?” Pertanyaan itu sederhana, tapi cukup mengganggu orang sekarang. Sekalipun saya.
Menjadi Rausyanfikr Hari Ini
Menjadi Rausyanfikr di zaman sekarang mungkin bukan perkara menjadi orang yang tahu semuanya, justru sebaliknya. Mungkin kita perlu belajar untuk berhenti sebentar dari kebisingan informasi, membaca lebih dalam, mendengar lebih banyak, turun melihat kenyataan, dan berani mempertanyakan sesuatu.
Dan yang paling penting, tidak menjadikan pengetahuan hanya sebagai alat untuk membangun branding diri aja. Karena pada akhirnya, ukuran intelektual bukan seberapa banyak buku yang ada di rak kita, bukan juga berapa banyak istilah quotes filsuf yang bisa kita sebutkan.
Tetapi bagaimana pengetahuan itu mengubah cara kita melihat manusia, bagaimana ia membuat kita lebih peka terhadap ketidakadilan. Dan bagaimana kesadaran itu mendorong kita untuk melakukan sesuatu.
Barangkali inilah yang ingin diingatkan Ali Syariati kepada generasi muda “jangan hanya menjadi manusia yang tahu. Jadilah manusia yang sadar.” Sebab dunia hari ini sudah terlalu ramai oleh orang yang berbicara. Yang kita butuhkan adalah orang-orang yang benar-benar melihat, berpikir, dan kemudian bergerak.
Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir