Kalimah Sawa’-Teringat dari pesan-pesan Prof. Dr. Buya Hamka. Buya pernah memberikan nasihat untuk kita semua, yang penulis rasa ini juga perlu menjadi bentuk perhatian bagi para kader-kader dan para aktivis muda pergerakan. Ada beberapa pesan-pesan dari Prof. Dr. Buya Hamka yang pernah didapatkan dari beberapa buku-buku dan rekaman-rekaman nesihatnya. Diantaranya adalah sebagai berikut,
Orang yang pintar adalah orang yang merasa bodoh, sehingga ia tidak berhenti untuk membaca. Buya Hamka adalah orang yang tidak sekolah namun ia mendapatkan 3 kali doktor dan 2 kali profesor. Ini disebabkan karena membaca. Ada orang pintar namun dia tidak mau membaca maka ia akan menjadi bodoh. Ia belajar sendiri dari buku-buku (otodidak).
Membaca Jalan Ilmu Pengetahuan
Selain membaca sebagai perintah Allah dalam surat yang pertama turun, membaca juga merupakan jalan bagi orang yang akan mendapatkan ilmu pengetahuan. Jadi janganlah berhenti untuk membaca, membaca alam ataupun membaca buku-buku dan majalah, serta yang paling utama adalah membaca kitabullah, sebagai sebuah jalan petunjuk cara hidup.
Orang yang berbahagia adalah orang yang berusaha merintis masa depan hidupnya di kampung halamannya. Lalu yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah di mana kampung halaman kita? Melihat sejarah masa lalu, dulu sebelum Adam turun ke dunia beliau berada di suatu tempat yang penuh dengan kenikmatan, katakanlah surga. Jadi ya itulah kampung halaman kita, yaitu surga. Nah orang yang berbahagia adalah orang yang berusaha merintis jalan menuju ke sana.
Sehingga di dunia ini mereka berusaha taat dan patuh terhadap segala perintah Tuhannya karena mereka merasa cinta dan rindu kepada Tuhan. Dengan berusaha cinta dan rindu pada Tuhan, maka sebagai sebuah contoh, apabila belum datang waktu sholat dia sudah berada di masjid untuk menunggu datangnya waktu shalat. Karena demikianlah orang yang rindu, belum pula kekasihnya datang ia sudah datang terlebih dahulu.
Pentingnya Kesucian Jiwa
Orang yang dapat berhubungan dengan Allah yang maha suci adalah orang yang selalu mensucikan diri. Karena tidak mungkin zat yang maha suci dapat berhubungan dengan manusia zat yang kotor. Oleh karena itu, untuk dapat dekat dan selalu terkait dengan Allah Swt manusia harus selalu bersih dan suci dari berbagai kotoran terutama kotoran perbuatan, perkataan dan sikap yang dapat menumbuhkan sikap yang merugikan orang ramai.
Baca Juga: Kesederhanaan, Keikhlasan dan Kejujuran Khas Pak AR
Sebagaimana Imam Al-Ghazali pernah menyampaikan bahwa bercak-bercak dosa akan menghalangi cerminan hati. Sebagaimana kotoran yang menempel di atas cermin sehingga cahaya iman dan ilmu tidak dapat masuk untuk dipantulkan. Demikianlah, maka pentingnya kita untuk selalu membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa dengan taubat dan istigfar.
Apabila pintu rumah diketuk dengan kemiskinan, maka aku akan cari jendela kemudian aku lompat keluar. “Apa maksudnya Buya?” Seseorang bertanya. Maksudnya adalah apabila dalam kehidupan kita dihantui oleh kemiskinan, maka hilangkanlah atau tinggalkanlah kemiskinan itu. Kemiskinan itu ada beberapa macamnya, pertama adalah miskin Ilmu. Ilmu penting sebagai landasan keimanan. Karena jika tidak memiliki ilmu, maka imannya akan luntur dan ibadahnya menjadi cenderung salah.
Kemiskinan yang Berbahaya
Kedua adalah miskin Iman. Kita diciptakan Allah dengan berbagai kesempurnaan, dapat melihat, mendengar, berfikir, berjalan dan lain sebagainya. Begitu sempurna melebihi makhluk yang lain, tapi ada satu yang kurang dari manusia, yaitu manusia kurang bersyukur karena tidak memiliki iman yang cukup atau sederhannya manusia itu miskin dengan iman.
Ketiga, adalah miskin akhlak. Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa manusia itu diciptakan dari tanah lumpur, hitam, kotor dan busuk. Pernah suatu saat ada malaikat yang diperintah Allah untuk mengambil tanah dari bumi, namun bumi menolak dengan alasan dia tidak mau jikalau ada bagiannya yang akan dijadikan makhluk yang akan membuat kerusakan di bumi. Namun, ada satu malaikat yang dia tidak peduli apapun, ia tetap membawanya tanah itu untuk kemudian dijadikanlah Adam.
Dan karena kerasnya malaikat itu, maka dijadikanlah malaikat itu sebagai malaikat pencabut nyawa. Tetapi yang perlu digaris-bawahi adalah setelah penciptaan Nabi Adam. Seluruh penduduk surga disuruh sujud kepada Nabi Adam, makhluk yang tercipta dari tanah lumpur, hitam, kotor dan busuk itu. Namun apa sebab rahasianya itu?
Rahasianya adalah Adam memiliki akal yang dapat menguasai ilmu pengetahuan. Karena, dengan ilmu pengetahuanlah ia dapat menjadi manusia mulia melebihi malaikat. Karena dengan pengetahuan saja ia dapat mengetahui suatu hakikat mana yang benar dan mana yang salah. Serta dengan ilmu pengetahuan pula ia menjadi manusia yang bersyukur.
Dengan demikian, jika ada manusia, namun dia tidak menggunakan akalnya, maka manusia itu perlu ditanyakan derajat kemanusiaannya. Karena yang diciptakan oleh Allah adalah manusia yang lebih mulia daripada malaikat.
Keempat, adalah miskin harta. Manusia hidup di dunia ini harus dapat mencukupi dirinya untuk kepentingan badannya, keluarga dan segala hal yang dapat membuat lebih mudah untuk beribadah kepada Allah hanya sekedar untuk memenuhi haknya. Orang yang hidup di dunia untuk mengabdi kepada Allah, maka dunia akan mencukupinya. Akan tetapi sebaliknya, orang yang apabila hidupnya hanya untuk memburu dunia, maka ia akan menjadi budak bagi dunia itu dan di akhirat ia hanya akan mendapatkan kesia-siaan belaka.
Baca Juga: Zakiyudin Baidhawi: Pendidikan Holistik, Menyatukan Nalar dan Etis