Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Refleksi untuk Aktivis yang Hobi Galang Donasi Bencana

Ririn Rahayuning Resti by Ririn Rahayuning Resti
Januari 22, 2021
in Esai
0
Refleksi untuk Aktivis yang Hobi Menggalang Dana

Sumber: baritopost.co.id

60
SHARES
352
VIEWS

Awal tahun 2021 seolah menjadi awal kesedihan bagi bangsa Indonesia. Berbagai berita mengabarkan bencana-bencana yang disebabkan oleh iklim, mulai dari jatuhnya pesawat sriwijaya, berita banjir,  gunung-gunung  erupsi, gempa dan longsor. Para relawan, aktivis organisasi, komunitas, selebriti hingga youtuber pun ikut serta beraksi membantu sesama atas nama kemanusiaan.

Aktivis kampus juga tak mau kalah dengan turun ke jalan langsung untuk mencari sumbangan donasi bagi para korban bencana. Gambaran ini sekaligus menunjukkan keadaan sosiologis di Indonesia yang sering dikenal dengan masyarakat paguyuban. Namun timbul pertanyaan di kepala penulis, akankah bencana ini terus terjadi dan kita terus mengumpulkan donasi? Bukan soal donasi yang dipermasalahkan penulis, hanya saja apa sebenarnya yang terjadi dengan bumi kita ini ?

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Di sini juga bukan maksud penulis untuk menyalahkan Allah atau menjadikan bencana semata-mata sebagai bentuk dari ‘kemarahan Allah’. Diakui atau tidak, manusia menjadi salah satu aktor pemantik bencana. Hal ini sebagaimana yang tertera dalam QS. Al-Ruum/30:41, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Dari sini Allah telah me-notice kita, masyarakat, dan para aktivis, bahwa barangkali Allah mendatangkan bencana sebab manusia merusak apa yang seharusnya dijaga.

Sebuah Kajian Ekologis

Dalam sebuah kajian ekologi yang telah lama menjadi perhatian aktivis lingkungan, bencana akibat iklim yang sering terjadi, salah satu penyebabnya adalah Green House Effect (efek rumah kaca).  Secara sederhana efek rumah kaca adalah proses alami cahaya atau sinar matahari yang terperangkap oleh atmosfer bumi.

Analogi sederhananya, ketika berada dalam ruangan yang dikelilingi oleh seluruh dinding kaca maka sinar matahari akan masuk ruangan namun tidak bisa memantul keluar. Sama seperti bumi, ketika sinar matahari masuk, bumi tidak mampu memantulkan kembali sinar matahari karena sinarnya terperangkap oleh lapisan CO2. Akibatnya suhu bumi akan memanans.

Sebenarnya, efek rumah kaca tidak sepenuhnya bersifat negatif. Pasalnya, apabila tidak ada efek rumah kaca maka bumi akan mencapai suhu -180c dan mustahil bumi menjadi planet yang berpenghuni.

Seperti kata penulis di awal, efek rumah kaca diakibatkan oleh meningkatnya CO2 dalam atmosfer. Peningkatan ini disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, kegiatan industri dan pembakaran sampah. Apalagi sebagaimana yang dilansir oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tahun 2020 Indonesia menghasilkan sampah 67,8 juta ton. Ketika sampah yang sangat banyak itu dibakar, maka sudah pasti akan menghasilkan Gas CO2.

Bumi Semakin Panas, Laut Akan Meluas

Fenomena lain yang menjadi perhatian aktivis lingkungan adalah adanya global warming atau pemanasan global. “Apabila konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer semakin meningkat, maka akan menambah akumulasi panas atmosfer, sehingga terjadi efek rumah kaca berlebihan yang disebut ”Pemanasan Global” (Anon, 2007).  

Ketika bumi semakin memanas, gletser akan mencair, dan laut akan meluas hingga menggerus daratan. Pada abad ke-20 ini tinggi permukaan laut diseluruh dunia telah meningkat 10–25 cm (4 – 10 inchi), hingga para ilmuan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memprediksi peningkatan lebih lanjut adalah setinggi 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.

Sebenarnya terdapat bahan-bahan di permukaan bumi yang memiliki peran aktif untuk menyerap hasil pembakaran tersebut, contohnya hutan. Hutan atau tumbuhan sendiri mampu mengubah CO2 menjadi O2. Kebetulan Indonesia di nobatkan sebagai paru-paru dunia. Julukan ini disematkan sebab Indonesia memiliki hutan terbesar ke tiga di dunia dengan luas 120.495.702,96 Ha (BPS, 2019).

Namun sepertinya julukan itu tidak akan bertahan lama. Pasalnya, setiap tahun Indonesia mengalami kerusakan hutan terparah di dunia akibat dari penebangan hutan secara liar, kebaran hutan, dan juga perluasan lahan untuk kepentingan komersil perusahaan.

Langkah Dini untuk Menyelamatkan Bumi

Dari kajian di atas muncul lah pikiran nakal di kepala penulis bahwa kejadian ‘kiamat sugro’ seperti bencana alam, perubahan iklim dan cuaca ternyata didorong oleh tangan manusia itu sendiri. Lalu sebagai penghuni bumi yang mengaku aktivis kampus, akankah berdiam diri melihat fenomena ini, atau justru ikut menjadi aktor antagonis lingkungan. Benar kata Mahatma Gandhi, “Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, bukan untuk memenuhi keserakahan manusia”.

Tidak ada yang terlambat meski bumi telah memasuki fase sekarat. Allah telah berjanji bahwa setiap masalah pasti ada solusi (Q.S. Al-Insyirah:5-6). Karena manusia merusak lingkungan, maka yang diperbaiki adalah lingkungan. Salah satu solusinya adalah dengan melakukan penanaman hutan kembali (reboisasi). Namun hal itu mungkin terlalu sulit bagi aktivis kampus untuk terjun langsung. Maka jika tidak mampu mengubah dengan melakukan hal besar, kita bisa mengubah dari hal kecil.

Jika masih tidak yakin hal kecil akan memberi perubahan, maka ada bagusnya mencoba saran dari Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet, “Jika kamu berpikir kamu terlalu kecil untuk membuat sebuah perubahan, cobalah tidur di ruangan dengan seekor nyamuk”. Apa yang terjadi ? Ya, ketika nyamuk itu datang mengusik, seseorang itu akan terganggu dan pasti berubah posisi tidur. Apalagi kita manusia, ketika setiap orang melakukan hal kecil, tentu perubahan akan terasa.

Hal-hal kecil itu bisa kita mulai dari menanam pohon di sekitar rumah, mengurangi sampah plastik dengan membawa tootbag, membawa botol mnium sendiri, dan bahkan jika perlu mengganti tranportasi yang menghasilkan polusi udara dengan transportasi yang ramah lingkungan. Satu hal yang harus kita pahami bersama, “Satu aksi kecil akan berkontribusi untuk menyembuhkan bumi yang sedang sakit”

Editor : Anisa Kurniarahman

Terkait

Tags: AktivisbencanabumidonasiLingkungan
Previous Post

Cara Memaknai 21 Januari sebagai Hari Peluk Nasional

Next Post

Kajian Pancasila Aspek Nushush dan Maqashid Syariat

Ririn Rahayuning Resti

Ririn Rahayuning Resti

Next Post
pancasila dalam timbangan syariat

Kajian Pancasila Aspek Nushush dan Maqashid Syariat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.