Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Sekedar Mendoakan Korban Bencana Tanda Selemah-lemahnya Iman

Irawan by Irawan
Januari 20, 2021
in Esai, Narasi
0
bencana alam banjir longsor
47
SHARES
275
VIEWS

Kita semua tau, Indonesia saat ini sedang dilanda bencana alam yang lebih dari satu titik, korban bencana juga tidak segelintir. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) pada 1-16 Januari 2021, telah terjadi 136 bencana alam di Indonesia. Bencana di dominasi banjir sebanyak 95 kejadian, tanah longsor 25 kejadian, puting beliung 12 dan gelombang pasang dan abrasi 2 kejadian

Ratusan bencana ini mengakibatkan 80 korban jiwa meninggal dunia, 858 orang luka-luka dan sebanyak 405.584 orang menderita dan mengungsi. Melihat dampak bencana sedemikian rupa seperti ini yang terjadi di awal tahun ini, kita sebagai saudara sebangsa setanah air yang tidak terdampak, sudah menjadi keniscayaan untuk membantu mereka para korban bencana, tentunya tidak sekedar mendoakan.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Sebagaimana ramainya hashtag #PrayforIndonesia #PrayforSulbar #PrayforKalsel beserta pray-pray lainnya sejak kemarin sampai sekarang terus mengudara di jagat sosial media, hal ini membuat siapapun yang entah mereka paham atau tidak tentang kondisi bencana disana urun turut meramaikan hashtag tersebut di sosial medianya masing-masing

Spirit Kemanusiaan dan Membebaskan Kesengsaraan

Kuntowijoyo, cendekiawan muslim yang menelurkan gagasan Ilmu Sosial Profetik dengan berlandaskan QS Al Imron ayat 110 menempatkan tiga pilar prinsip dasar dalam mewacanakan dan merespon keadaan sosial, yakni humanisasi (amar ma’ruf), liberasi ( nahy munkar) dan transendensi ( tu’minu na billah)

Humanisasi dalam konteks kebencanaan adalah memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, yang mana korban dari bencana sangat membutuhkan aspek psikis dan materil untuk kebutuhan keberlangsungan hidupnya sebagai manusia. Liberasi dapat dimaknai sebagai spirit membebasan manusia dari kesengsaraan, ketertindasan, penyakit, kelompok rentan dan sebagainya

Hal itu sejalan dengan kepribadian Muhammadiyah yang telah menobatkan organisasinya sebagai dakwah amar ma’ruf nahy munkar, yang mana juga terfokus pada pembebasan manusia dari ketimpangan sosial beserta cengkraman kehidupan yang tidak disenangi atau menyengsarakan manusia itu sendiri

Contohnya seperti keadaan yang sedang terjadi sekarang, negara Indonesia sedang dilanda bencana alam, para korban yang terdampak termasuk orang-orang yang membutuhkan bantuan, baik sandang, pangan dan papan. Dengan begitu kita sudah selayaknya memperjuangkan spirit kemanusiaan dan membebaskan kesengsaraan itu berlandaskan Iman kepada Allah untuk membantu mereka dengan bantuan terbaik yang kita punya

Mengubah Kemunkaran Dengan Hati adalah Selemah-lemahnya Iman

Ada sebuah hadits yang cukup populer dikalangan umat Islam tentang amar ma’ruf nahy munkar, yang berbunyi

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Sa’id Al-khudri RA, ia berkata, “aku mendengar Rasulullah SAW. Bersabda, “barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya, jika tidak bisa, ubahlah dengan hati, dan itu adalah selemah-lemahnya Iman” (HR. Muslim)

Dalam Al Quran makna munkar jika disandingkan dengan lafazh “amar ma’ruf” di terjemahkan kebatilan, keburukan. Makna lainnya jika kata “munkar” berdiri sediri seperti di Qs. Al Hijr ayat 72, Al Hijr ayat 62, Al Maidah ayat 79 memilki makna mengingkari, tidak dikenal, kufur dan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Kembali kepada konteks hadits di atas, munkar bisa memiliki arti sesuatu yang tidak menyenangkan atau dalam spirit profetik diatas memiliki makna kreatif dari kuntuwijowo yakni membebaskan manusia dari kesengsaran yang menghampirinya, sebagaimana yang di timpa oleh korban bencana alam.

Tafsir Hadits Dalam Konteks Bencana

Rasulullah menganjurkan “bagi siapa saja yang melihat kemungkaran”, jika di konteks kan zaman sekarang bisa melihat secara langsung maupun tidak langsung melalui berita yang benar, “maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya”.

Mengubah dengan tangan dapat dimaknai dalam hal perbuatan atau berhadapan langsung dengan korban, seperti mereka para relawan yang berada di garda terdepan kemanusiaan, bisa bersentuhan langsung dengan korban bencana. Mereka adalah orang-orang yang mengubah dengan tangannya untuk langsung menolong korban bencana. Lanjut hadits, “jika tidak mampu hendaklah mengubah dengan lisan”

Pemaknaan ini mengacu kepada aspek indrawi yang tidak bersentuhan langsung dengan korban bencana, maka dari itu maksud mengubah dengan lisan dapat berarti bentuk usaha kita yang jauh dari lokasi bencana namun turut membantu memberi materil atau meluangkan waktu untuk turut mengumpulkan materi melalui galang dana yang kemudian bisa di salurkan melalui lembaga yang meyalurkan seperti Lazismu atau NU Care-Lazisnu

Kemudian jika kita tidak bisa membantu dengan materil atau meluangkan jasa kita dengan menggalang dana bagi mereka, kita bisa membantu dengan hati. Dalam hadits, konteks membantu dengan hati bisa diartikan dengan mendoakan mereka yang terdampak bencana, dan aktivitas mengubah dengan hati seperti mendoakan ini disebut sebagai bentuk bantuan selemah-lemahnya Iman

Terakhir, untuk menegaskan bahwa bukan berarti aktivitas sekedar mendoakan mereka yang terdampak bencana itu buruk, tidak. justru itu baik. Sebab ada yang lebih memilukan dari itu, yakni adanya bencana di negeri ini tapi masih ada juga beberapa orang yang bersikap bodo amat, tidak peduli, sibuk urusan diri sendiri. boleh dibilang orang model seperti ini sudah bukan lemah Iman, tapi hilangnya Iman.

Terkait

Tags: bencanakorbanlemah imanmendoakanmengubah
Previous Post

Al-Juwaini, Imam Besar Makkah dan Madinah

Next Post

Farid Esack: Tokoh Antiapartheid Afrika Selatan

Irawan

Irawan

Mahasiswa UMS, dapat ditemui di media sosial : @irawannt

Next Post
Farid Esack

Farid Esack: Tokoh Antiapartheid Afrika Selatan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.