Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Cara Memaknai 21 Januari sebagai Hari Peluk Nasional

Anisa Kurniarahman by Anisa Kurniarahman
Januari 21, 2021
in Esai
0
Cara Memaknai 21 Januari sebagai Hari Peluk Nasional

Sumber: Muslimobsession.com

37
SHARES
217
VIEWS

Di salah satu sudut gua hira, tepatnya tanggal 17 Ramadhan tahun 610 Masehi, Muhammad SAW sedang betahahannuts (berdiam diri sambil beribadah kepada Rabbnya). Saat malam hari, datanglah malaikat Jibril menyampaikan wahyu, sambil memeluk Muhammad SAW, Jibril berkata, “Iqra!” (Bacalah!). Kemudian beliau menjawab, “Ma ana biqira-in” (Saya tidak bisa membaca). Lalu Jibril mengulangi apa yang dia katakan dan dijawab Muhammad SAW dengan hal yang sama. Terus seperti itu hingga tiga kali percobaan akhirnya Muhammad SAW dapat membaca kata-kata yang diajarkan Jibril.

Pasca menerima wahyu, Muhammad SAW berlari dan mencari Khadijah (istrinya) sambil berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”. Gemetar, menggigil nyaris tak terkendali, dia memohon kepada istrinya, Khadijah, untuk memeluk dan menyembunyikannya di balik selendangnya. Untuk itu, Khadijah segera menyelimuti dan memeluk Muhammad SAW sambil mendengarkan curahan hati suaminya. Khadijah kemudian meyakinkan suaminya bahwa yang dialaminya bukanlah sesuatu yang menakutkan, namun suatu amanah yang pasti bisa ia tunaikan.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Pelukan, siapa sangka gestur tubuh menangkup tubuh orang lain bisa sangat berpengaruh bagi seseorang. Lihatlah, pelukan Khadijah mampu menenangkan Muhammad SAW saat ia sedang dalam ketakutan yang luar biasa.

Sejarah Hari Peluk Nasional

Berbicara soal pelukan, hari ini tanggal 21 Januari dinobatkan sebagai Hari Peluk Nasional. Mungkin perayaan ini belum begitu familiar di telinga para pembaca, dan bahkan penulis pun baru tahu pagi ini saat melihat salah satu story teman di WA (WhatsApp). Saat mendengar pelukan tentu pertama kali yang akan terpikir adalah pasangan. Apalagi di Indonesia budaya memeluk belum begitu popular, membuat para jomblo semakin apatis dengan adanya perayaan ini. Padahal pelukan juga bisa dilakukan orang tua ke anaknya, nenek ke cucunya, hingga ke sesama teman.

Sejarah Hari Peluk Nasional sebenarnya berawal di Amerika Serikat, dari ide Kevin Zaborney pada tahun 1986. Teman Zaborney adalah cucu dari pemilik Chase’s Calendar of Events (media publikasi hari-hari penting di AS). Zaborney memilih 21 Januari karena itu adalah waktu antara musim liburan, musim dingin, dan tak lama setelah tahun baru.

Dilansir dalam National Today, Zaborney merasa saat-saat itu adalah saat orang-orang cenderung merasa murung. Dia juga merasa, orang Amerika sering kali terlalu malu untuk menunjukkan kasih sayang di depan umum dan berharap Hari Peluk Nasional akan mengubahnya. Di Micihigan, Hari Peluk Nasional dirayakan dengan memilih ‘tokoh paling memeluk’. Mereka yang terpilih bisa berupa tokoh publik maupun masyarakat biasa. Nominasi didapatkan dengan cara mengirim nama, informasi kontak, dan alasan menominasikan seseorang.

Sebelum lebih lanjut membahas tentang pelukan, di sini bukan maksud penulis untuk menjadi kebarat-baratan. Hanya saja seperti kisah awal di atas, manusia paling berpengaruh di dunia yaitu Muhammad SAW pun bisa selamat dari ketakutan karena sebuah pelukan dari orang tersayang. Hal ini sekaligus menggelitik rasa penasaran penulis tentang pelukan, dan sekaligus memberi alasan mengapa pembaca setidaknya perlu meningkatkan intensitas pelukan setelah membaca artikel ini.

Dipeluk Bisa Menghilangkan Stres dan Meningkatkan Kebahagiaan

Dalam sebuah jurnal yang diterbitkan di PLoS One tahun 2018, pelukan bisa memberi efek menenangkan yang terasa hingga sepanjang hari bahkan ketika kita mengalami konflik di hari yang sama. Menurut Micahel Murphy, selaku pemimpin riset, hal tersebut terjadi karena sentuhan dapat menonaktikan bagian otak yang merespon ancaman. “Pelukan juga meminimalisir pelepasan hormon pemicu stres dan mengurangi tekanan pada sistem kardiovaskular,” tambahnya.

Lebih lanjut dalam sebuah buku The Joy of Touching, sang penulis Helen Colton menjelaskan ketika seseorang disentuh, hemoglobin dalam darahnya meningkat sehingga mengakibatkan suplai oksigen ke jantung dan otak lebih lancar. Hal ini tentu akan berefek pada badan menjadi lebih sehat, dan mempercepat proses penyembuhan.

Hal tersebut semakin dikuatkan dengan penelitian yang dilakukan oleh jurnal Psychosomatic Medicine yang menyatakan bahwa pelukan hangat dapat melepaskan oxytocin, hormon yang berhubungan dengan perasaan cinta dan kedamaian. Hormon tersebut akan menekan hormon penyebab stres dan mendorong rasa bahagia. Dengan fakta ini, maka tidak berlebihan jika penulis mengatakan pelukan bisa menyembuhkan penyakit ‘hati’ dan merangsang hasrat untuk hidup.

Pelukan adalah Tanda Cinta dan Kasih Sayang

Saya harap sampai pada paragraf ini, tidak ada lagi pembaca yang meremehkan sentuhan atau pelukan. Percayalah setiap makhluk hidup di dunia ini membutuhkan sentuhan, baik fisik maupun emosi, begitu kata Kathleen Keating, mantan director of professional education di sebuah rumah sakit swasta di California, Amerika Serikat, sekaligus penulis buku The Hug Therapy.

Lebih lanjut, para peneliti di University of Columbia menemukan pelukan membantu anak berkembang secara mental dan fisik lebih cepat. Anak-anak yang sering disentuh, dibelai, dan dipeluk oleh orangtuanya dengan kasih sayang juga akan tumbuh menjadi anak yang sehat. Mereka akan merasa nyaman dan memiliki kepercayaan diri. Hal ini terjadi karena pelukan menghasilkan pelepasan oksitosin, hormon yang juga berperan dalam mendorong pertumbuhan dan perkembangan fisik.

Adapun untuk orang-orang dewasa, pelukan adalah bentuk adanya cinta dan kasih sayang. Pelukan pada pasangan akan memberikan efek keintiman yang mendalam. Hal ini akan memberikan rasa bahagia, sebab di dalamnya ada unsur memberi, ketulusan, kehangatan, dukungan, dan rasa aman. Keuntungan dari pelukan adalah perasaan yang menyatukan. Pasangan atau orang yang saling memeluk biasanya memanfaatkan momen tersebut untuk mengungkapkan emosi mereka.

Jumlah Kebutuhan Peluk dalam Sehari

Nah, untuk memenuhi kebutuhan pelukan perharinya, menurut terapis keluarga Virginia Satir, manusia membutuhkan empat pelukan sehari untuk bertahan hidup, delapan pelukan sehari untuk perawatan dalam hidup, dan dua belas pelukan sehari untuk pertumbuhan. Walaupun itu terdengar terlalu banyak, namun manfaatnya sangatlah besar.

Jadi, saat kita ingin mengurangi stres, hidup bahagia, dan menjadi lebih sehat, jangan sungkan untuk meminta pelukan kepada orang-orang terdekat. Sekali lagi, tidak harus dengan pasangan, namun juga bisa dengan orang tua, kakak, adik, atau sahabat. Apalagi dalam sebuah hadits riwayat Bukhari & Muslim dikatakan, “Tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”. Dan kabar baiknya adalah pelukan bisa menjadi bukti kecintaan kita terhadap orang lain.

Terkait

Tags: Hari Peluk NasionalPelukPelukan
Previous Post

NU-Muhammadiyah Organisasi Pro Kelompok Marginal

Next Post

Refleksi untuk Aktivis yang Hobi Galang Donasi Bencana

Anisa Kurniarahman

Anisa Kurniarahman

Ketua Korps IMMawati SKH 2020

Next Post
Refleksi untuk Aktivis yang Hobi Menggalang Dana

Refleksi untuk Aktivis yang Hobi Galang Donasi Bencana

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.