Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Persoalan Bangsa: Membentuk Karakter Jujur

RedaksiKS by RedaksiKS
November 30, 2019
in Ulûm ad-Dîn
0
eramuslim.com

eramuslim.com

113
SHARES
666
VIEWS

Oleh: Agus Ulinuha[1]

Kita sebagai seorang muslim dalam memandang persoalan akhlak sangat terkait langsung dengan persoalan akidah. Akidah itu dapat diterjemahkan sebagai ideologi jika kita memakai bahasa sekarang. Akhlak atau karakter dalam bahasa lainnya adalah sebagai indikasi terhadap proses ibadah yang baik. Atau kalau ungkapannya dibalik, ibadah yang baik akan berdampak pada karakter yang baik dan kuat pula.

TulisanTerkait

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

Kemudian terkait dengan ibadah, ibadah diwujudkan dalam bentuk dua cara yakni hablumminallah dan hablumminanaas (individual dan sosial). Ibadah terkait erat dengan akhlak. Karena terkait dengan dua dimensi itu, maka ibadah tercermin dalam sikap kita terhadap manusia. Hubungan kita dengan manusia lain adalah bagian penting yang tidak dapat dipisahkan. Apalagi kedudukan manusia di muka bumi ini tidak lain dan tidak bukan, tidak bisa hidup dengan sendirian. Artinya manusia selalu membutuhkan keberadaan manusia yang lain (manusia adalah makhluk sosial).

Rapuh atau tidaknya akhlak seseorang terindikasi secara spontan atau sikap kekagetan saat ada kejadian. Fenomena rapuhnya akhlak dapat kita lihat contohnya seperti: terkadang kita lebih suka egois, kurang perduli, berat memaafkan, saling membelakangi dan saling menjatuhkan. Apalagi fenomena runtuhnya akhlak yang sering muncul dalam dunia akademis, yakni ketidakjujuran, dan kecurangan yang akan berdampak pada ketidakpercayaan diri sendiri terhadap orang lain.

baca juga Memaafkan dalam Tradisi Jawa

 

Akhlak yang baik akan membawa pada keberuntungan dan akhlak yang buruk akan membawa kepada kerugian. Tentu saja akhlak yang baik selalu didasari oleh kejujuran. Jujur pada diri sendiri, dan jujur pada orang lain serta jujur pada lingkungan.

Terkait dengan kejujuran ini ada satu kisah yang sangat inspiratif. Kejujuran seorang sopir muslim di London yang mengembalikan uang kelebihan, sopir taksi yang mengembalikan uang sebesar 10.000 Poundsterling. Dan ternyata benar bahwa ia menjadi orang yang sangat jujur, dan penumpangpun menganggapnya memang benar Islam mengajarkan kejujuran. Apalagi dalam suasana hidup di tengah-tengah keberagaman dan kebersamaan, hidup dengan jujur akan membuat suasana kehidupan menjadi lebih nyaman.

Jujur akan menjadi benang merah tegakknya tatanan sistem yang adil. Keadilan akan tercapai jika dilakukan dengan adanya kebiasaan perilaku jujur. Dampaknya dalam kehidupan yakni kita melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati akan membuat suasana hidup lebih bahagia.

Di dalam Al-Quran juga kita pernah mendengar tentang kisah Nabi Yusuf A.S., yakni terkait bagaimana kita belajar akhlak dari Yusuf? Kita belajar akhlak dari kisah Nabi Yusuf A.S di antaranya tentang konsisten dengan kebenaran, bergantung hanya kepada Allah saja, amanah dalam mengembang jabatan, bekerja dengan sungguh-sungguh dan yang terberat adalah mampu memaafkan. Tetapi yang penting dari semua itu adalah kejujurannya.

Akhlak menjadi persoalan bangsa yang harus lebih diutamakan. Dan Kata kunci akhlak adalah kejujuran. Apalagi jika posisi kita sebagai seorang akademisi, maka sikap jujur adalah sebuah kunci penting untuk meneggakkan sistem keadilan. Jujur dapat berarti empiris, verifikatif dan objektif. Sekian mudah-mudahan ada manfaatnya.

[1] Dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

Terkait

Tags: jujurkarakterperilaku
Previous Post

Kunci Sukses dalam Kehidupan

Next Post

Di antara Nasihat Buya Hamka

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Hamka menganjurkan semuanya terutama kaum Muslim untuk berjuang dalam urat tunggang Pancasila yakni sila Ketuhanan yang Maha Esa

Di antara Nasihat Buya Hamka

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.