Oleh: Agus Ulinuha[1]
Kita sebagai seorang muslim dalam memandang persoalan akhlak sangat terkait langsung dengan persoalan akidah. Akidah itu dapat diterjemahkan sebagai ideologi jika kita memakai bahasa sekarang. Akhlak atau karakter dalam bahasa lainnya adalah sebagai indikasi terhadap proses ibadah yang baik. Atau kalau ungkapannya dibalik, ibadah yang baik akan berdampak pada karakter yang baik dan kuat pula.
Kemudian terkait dengan ibadah, ibadah diwujudkan dalam bentuk dua cara yakni hablumminallah dan hablumminanaas (individual dan sosial). Ibadah terkait erat dengan akhlak. Karena terkait dengan dua dimensi itu, maka ibadah tercermin dalam sikap kita terhadap manusia. Hubungan kita dengan manusia lain adalah bagian penting yang tidak dapat dipisahkan. Apalagi kedudukan manusia di muka bumi ini tidak lain dan tidak bukan, tidak bisa hidup dengan sendirian. Artinya manusia selalu membutuhkan keberadaan manusia yang lain (manusia adalah makhluk sosial).
Rapuh atau tidaknya akhlak seseorang terindikasi secara spontan atau sikap kekagetan saat ada kejadian. Fenomena rapuhnya akhlak dapat kita lihat contohnya seperti: terkadang kita lebih suka egois, kurang perduli, berat memaafkan, saling membelakangi dan saling menjatuhkan. Apalagi fenomena runtuhnya akhlak yang sering muncul dalam dunia akademis, yakni ketidakjujuran, dan kecurangan yang akan berdampak pada ketidakpercayaan diri sendiri terhadap orang lain.
| baca juga Memaafkan dalam Tradisi Jawa |
Akhlak yang baik akan membawa pada keberuntungan dan akhlak yang buruk akan membawa kepada kerugian. Tentu saja akhlak yang baik selalu didasari oleh kejujuran. Jujur pada diri sendiri, dan jujur pada orang lain serta jujur pada lingkungan.
Terkait dengan kejujuran ini ada satu kisah yang sangat inspiratif. Kejujuran seorang sopir muslim di London yang mengembalikan uang kelebihan, sopir taksi yang mengembalikan uang sebesar 10.000 Poundsterling. Dan ternyata benar bahwa ia menjadi orang yang sangat jujur, dan penumpangpun menganggapnya memang benar Islam mengajarkan kejujuran. Apalagi dalam suasana hidup di tengah-tengah keberagaman dan kebersamaan, hidup dengan jujur akan membuat suasana kehidupan menjadi lebih nyaman.
Jujur akan menjadi benang merah tegakknya tatanan sistem yang adil. Keadilan akan tercapai jika dilakukan dengan adanya kebiasaan perilaku jujur. Dampaknya dalam kehidupan yakni kita melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati akan membuat suasana hidup lebih bahagia.
Di dalam Al-Quran juga kita pernah mendengar tentang kisah Nabi Yusuf A.S., yakni terkait bagaimana kita belajar akhlak dari Yusuf? Kita belajar akhlak dari kisah Nabi Yusuf A.S di antaranya tentang konsisten dengan kebenaran, bergantung hanya kepada Allah saja, amanah dalam mengembang jabatan, bekerja dengan sungguh-sungguh dan yang terberat adalah mampu memaafkan. Tetapi yang penting dari semua itu adalah kejujurannya.
Akhlak menjadi persoalan bangsa yang harus lebih diutamakan. Dan Kata kunci akhlak adalah kejujuran. Apalagi jika posisi kita sebagai seorang akademisi, maka sikap jujur adalah sebuah kunci penting untuk meneggakkan sistem keadilan. Jujur dapat berarti empiris, verifikatif dan objektif. Sekian mudah-mudahan ada manfaatnya.
[1] Dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta