Oleh: Awwalia Sely Rahmawaty
Self-Love memiliki makna yaitu mencintai diri sendiri bukan berarti memenuhi diri dengan segala keinginan, melainkan juga toleransi terhadap orang lain. Self-Love mengharuskan seseorang untuk memperlakukan dan menerima diri sendiri dengan baik dan apa adanya. Selain itu, self-love juga merupakan aspek penting dari kesehatan mental. Saat Self-Love diterapkan, seseorang akan merasa lebih mudah untuk berpikir positif termasuk saat marah, kecewa, atau sedih, karena hal tersebut adalah bentuk dari penerimaan diri.
Sampai saat ini, masih banyak orang yang sulit mencintai atau menghargai diri sendiri setelah melihat pencapaian orang lain. Mencintai diri sendiri pada masa remaja bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, terutama ketika dihadapkan pada situasi yang membuat kita sulit mencintai diri kita.
Contohnya saat kita selalu menghadapi kegiatan yang membuat diri kita selalu kelelahan/stres. Kurangnya rasa cinta kita terhadap diri sendiri dapat membuat self-love sulit dilakukan. Dengan berkembangnya self-love dan menyenangkan diri sendiri, mindset dalam diri kita pun akan lebih positif sehingga lebih termotivasi dalam beraktivitas, terutama di kalangan remaja. Masa remaja membawa peluang untuk tumbuh dalam perubahan biologis, kognitif, dan sosial emosional.
Ketika memasuki masa remaja, muncul kebutuhan pribadi dalam diri dengan tujuan agar remaja merasakan kebahagiaan, kesuksesan, penerimaan di masyarakat, dan kesiapan untuk memasuki tahap perkembangan.
Selanjutnya, secara psikologis masa remaja adalah usia di mana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia di mana remaja tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama (Hurlock, 1999).
Mengapa Self-Love Penting Bagi Remaja di Tengah Standar Media Sosial?
Di era digitalisasi ini, remaja sering dihadapkan dengan berbagai tekanan, terutama dari media sosial dan lingkungan sekitar. Standar sosial yang terus berubah, seperti tuntutan untuk memiliki tubuh putih serta ideal, gaya hidup mewah, atau keberhasilan akademik, akhirnya membuat banyak remaja merasa kurang percaya diri.
Selain itu, tekanan dari teman sebaya dan harapan keluarga juga bisa membuat remaja merasa harus selalu menjadi “yang terbaik” di semua hal. Sayangnya, jika hal ini terus dibiarkan, bisa menimbulkan masalah seperti overthinking, kecemasan, hingga depresi. Bahkan, menurut data dari WHO (2025), sekitar 15% remaja di seluruh dunia mengalami gangguan mental, dan salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya kepercayaan diri akibat tekanan sosial. Maka dengan itu, self-love pada remaja adalah pemahaman yang harus diajarkan pada setiap remaja bahwa masing-masing orang memiliki nilai dan tujuan sendiri.
Pemahaman ini sangat penting untuk diajarkan pada remaja karena pada umumnya, mereka akan terus mencoba sesuatu yang baru dan telah menetapkan tujuan atau ambisi terkait hal tersebut. Self-love di masa remaja menunjukkan sikap mencintai diri sendiri, menghargai perbedaan, dan menerima segala kekurangan maupun kelebihan yang dimiliki. Ini bukan berarti menjadi egois, melainkan lebih kepada menghormati diri sendiri dan memahami bahwa kamu layak untuk bahagia tanpa perlu mengikuti standar orang lain.
Remaja juga memiliki harga diri yang baik untuk mempertahankan keyakinannya dan tidak mudah terpengaruh orang lain. Para remaja yang telah menerapkan self-love pada dirinya akan tetap kuat meski terkadang gagal atau mengalami kekecewaan. Jika sifat tersebut dikombinasikan dengan beberapa sifat lainnya, seperti integritas, motivasi, hingga harga diri, maka kemungkinan produktivitas dan sukses pada segala bidang akan terbuka lebar.
Cara Menumbuhkan Self-Love Pada Diri Sendiri:
- Berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain
Terkadang kita terlalu sering melihat kehidupan dan kebahagiaan yang dimiliki orang lain yang pada akhirnya membuat kita merasa minder dan iri. Dari rasa membandingkan diri kita dengan orang lain ini, kita bisa kehilangan rasa cinta terhadap diri sendiri yang kemudian menjadikan standar kebahagiaan kita seperti orang lain. - Cintai dirimu dengan menerima kelebihan serta kekuranganmu
Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, maka kita harus bisa memahami serta menerima keduanya pada diri kita sendiri. Karena tidak semua orang memiliki kelebihan serta kekurangan yang sama dengan kita. Disebutkan juga dalam QS. At-Tin ayat 4 yang artinya: “Sungguh Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Dari ayat tersebut, kita diajarkan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang sempurna secara fitrah. Setelah bisa mengenal serta menerima apa yang ada di dalam diri kita, barulah kita harus mulai mencintai diri kita. Karena self-love adalah kunci untuk menghadapi tekanan dari standar sosial yang sering kali tidak realistis. Ingatlah bahwa kamu berharga, apa pun yang dikatakan orang lain. Jadi, mulailah untuk mencintai dirimu dari sekarang, karena kebahagiaanmu adalah prioritasmu. - Batasi dan bijak dalam menggunakan media sosial
Di tengah tekanan media sosial, kita harus bisa membatasi penggunaannya. Jika media sosial membuatmu minder, batasi penggunaannya dan ikuti akun yang memberikan pengaruh positif terhadap dirimu. Sebuah penelitian dari American Psychological Association menemukan bahwa membatasi penggunaan media sosial hingga 30 menit per hari dapat meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi rasa kecemasan pada diri kita sendiri. - Menjaga kesehatan fisik dan mental
Perbanyak olahraga, makan sehat, serta istirahat yang cukup. Kurangi begadang serta overthinking yang berlebihan. Karena, jika kita amati di zaman sekarang, banyak remaja yang sering overthinking hingga membuat dirinya depresi bahkan bisa sampai bunuh diri.
Maka dengan itu, sikap self-love terhadap diri sendiri di masa remaja adalah hal yang harus ada dan diterapkan dalam diri kita. Karena di era sekarang ini, tidak banyak remaja yang sudah mengenal, menghargai, serta mencintai dirinya sendiri. Marilah sama-sama mulai mengenali dan mencintai diri kita sendiri sebelum mencintai orang lain.
Editor: Dwi Kurniadi