Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Bijaksana dalam Ketergantungan Media Sosial

RedaksiKS by RedaksiKS
Juni 10, 2023
in Narasi
0
beretika media sosial

Kalimahsawa.id

23
SHARES
133
VIEWS

Dewasa ini, kehidupan masyarakat tidak dapat dilepaskan dengan adanya peranan media sosial. Media sosial merupakan platform pada media digital yang memberikan kemudahan dengan beragam fasilitas bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan sesamanya. Media sosial memiliki beberapa fitur yang canggih, seperti kemampuan membagikan gambar, tulisan, lokasi, video, suara, dokumen, dan lain sebagainya.

Maka tidak mengherankan jika media sosial dengan segenap fiturnya memberikan beragam manfaat kepada masyarakat, yaitu sebagai sarana untuk berkomunikasi, mengedukasi, berinteraksi, melakukan promosi, bertukar informasi dan lain sebagainya. Namun di balik perananya yang memudahkan, tidak dipungkiri juga media sosial memiliki dampak yang negatif.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Dampak negatif dari media sosial sepertinya tidak disebabkan oleh media sosial itu sendiri, tapi disebabkan oleh orang-orang tertentu yang melakukan penyalahgunaaan terhadap media sosial. Media sosial terkadang digunakan untuk sarana menyebarkan konten-konten yang berbau negatif seperti berita hoax, provokasi, penghasutan, ujaran kebencian, penistaan agama, fitnah, bahkan juga pornografi.

Upaya yang demikian berpotensi besar untuk memicu beragam dampak negatif seperti rasa tidak terima berujung konflik, marah, saling membenci, menyebarkan informasi palsu, menumbuhkan hasrat yang berorientasi pada perzinaan, dan dampak negatif yang lain.

Di samping itu, penyalahgunaan terhadap media sosial juga dapat memberikan dampak ketergantungan bagi masyarakat yang menggunakannya. Ketergantungan terhadap media sosial dapat membawa masyarakat kepada persoalan seperti sikap tidak acuh terhadap orang-orang disekitar, rasa takut kehilangan informasi atau yang sering kali disebut FOMO (fear of missing out), lalai terhadap tanggung jawab atau kewajiban yang semestinya dijalankan, dan lain sebagainya.

Beragam dampak dari penyalahgunaan tersebut, sepertinya memberikan pergeseran fungsi dan makna dari media sosial yang semestinya. Media sosial yang dihadirkan untuk memberi kemudahan masyarakat untuk bersosial, justru harus dihadapkan dengan beberapa persoalan negatif. Dengan demikian diperlukan solusi yang tepat untuk menghindari dampak negatif tersebut.

Mengutip dari laman mui.or.id dengan judul 7 Pedoman Islami dalam Bermedia Sosial yang Penting Diamalkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memberikan tujuh etika Islami dalam bermedia sosial. Pertama, bermedia sosial harus di landasi dengan rasa iman dan taqwa kepada Allah SWT. Kedua, bermedia sosial harus memperhatikan adab atau etika.

Ketiga, Tidak menghasut atau menyebarkan ujaran kebencian dalam bermedia sosial. Keempat, tidak melanggar ketentuan agama dan undang-undang yang berlaku. Kelima, melakukan konfirmasi kebenaran dari informasi yang telah di terima. Keenam, mengevaluasi konten pribadi jika akan di sebarluaskan pada publik. Ketujuh, menyebarkan informasi atau berita yang sudah terbukti kebenarannya.

Etika tersebut alangkah baiknya kita amalkan dalam keseharian kita dalam bermedia sosial. Tujuannya adalah agar kita dapat melandasi diri dengan kaidah-kaidah bermedia sosial secara baik dan sesuai ketentuan Islam. Lantas bagaimana kita menghadapi penyalahgunaan yang berorientasi pada ketergantungan terhadap media sosial ?

Pertama, kesadaran untuk bersungguh-sungguh memahami ilmu agama dan ilmu pengetahuan dengan baik dan benar. Upaya pertama ini dapat kita terapkan untuk menggeser dari melakukan hal-hal yang negatif dalam bermedia sosial untuk diarahkan kepada hal-hal yang positif. Dengan bersungguh-sungguh dalam belajar, kita dapat mengetahui bahwa melakukan sesuatu yang berlebihan merupakan tindakan yang tidak baik.

Allah telah melarang perbuatan yang berorientasi pada hal-hal yang berlebihan. Dalam QS. Al-A’raf ayat 31, Allah telah berfirman :

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

Artinya: “Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Kedua, menyadari makna dari bersosial sebagaimana mestinya. Media sosial di hadirkan untuk memudahkan masyarakat agar dapat berinteraksi dengan orang lain dalam jarak jauh. Oleh karena itu, alangkah lebih baik lagi kita bersikap peduli terhadap orang-orang di sekitar kita yang mengajak berbicara atau berdialog, karena hal tersebut adalah rangka bersosial dalam jarak dekat.

Ketiga, kita juga dapat melakukan manajemen informasi dalam diri dengan cara menyeleksinya. Media sosial memberikan beragam informasi yang sebenarnya tidak semuanya kita butuhkan. Dengan demikian, kita dapat memprioritaskan informasi mana yang kita butuhkan dan informasi mana yang harus di kesampingkan terlebih dahulu. Dengan membiasakan yang demikian, kita dapat membiasakan diri untuk tidak menghujani diri dengan banyak informasi.

Keempat, hendaknya kita bersikap kritis terhadap postingan media sosial yang sering kali di anggap oleh banyak orang sebagai “trend”. Kita tidak harus mengikuti trend-trend yang pada akhirnya mengantarkan kita ketergantungan pada media sosial. Kita harus dapat memilah dan memilih mana trend yang bermanfaat sebagai informasi atau inspirasi dan mana trend yang hanya membawa kita untuk membuang-buang waktu semata dan membuat kita menjadi bergantung pada produk media sosial.

Poin penting untuk menghindari ketergantungan bermedia sosial adalah kesadaran untuk memanfaatkan waktu. Kita dapat memberikan manajemen terhadap waktu untuk mengetahui kapan waktu untuk belajar, kapan menjalankan kewajiban beribadah, kapan saatnya untuk bersosial secara langsung, dan kapan saatnya bermedia sosial. Dengan memahami hal tersebut, kita dapat memutus tali ketergantungan kita dengan media sosial dan memaksimalkan aktivitas keseharian dengan baik. Amiin.

Penulis : Naufal Robbiqis Dwi Asta (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)

Terkait

Previous Post

Pentingnya Pendekatan Integrasi-Interkoneksi Al-Qur’an

Next Post

Belajar dari Fatima Mernissi sebagai Feminisme Praksis

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Belajar dari Fatima Mernissi sebagai Feminisme Praksis

Belajar dari Fatima Mernissi sebagai Feminisme Praksis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.