Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Phubbing di Kalangan Remaja Perspektif Islam

RedaksiKS by RedaksiKS
Agustus 6, 2023
in Esai
0
tapi pada setiap bidang lain pun kira-kira sama.
289
SHARES
1.7k
VIEWS

Dalam era yang serba digital ini, teknologi smartphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, khususnya bagi kalangan remaja.

Fenomena “phubbing,”  istilah ini muncul dari kata Bahasa Inggris yang merupakan gabungan dari kata: “phone” (ponsel) dan “snubbing” (mengabaikan), yaitu mengacu pada perilaku mengabaikan orang di sekitar dengan sengaja maupun tidak karena terlalu fokus dan asik dengan smartphone.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Phubbing telah menjadi perilaku yang semakin marak di kalangan remaja. Mereka sering kali terlalu asilk bermain dengan smartphone mereka, entah itu bermain game online, atau terlalu fokus scrolling media sosial sehingga mengabaikan interaksi nyata dengan orang-orang di sekitar mereka.

Phubbing bukan sekadar mengabaikan orang lain saja. Namun dapat memiliki dampak secara psikologis yang serius pada remaja. Beberapa dampak negatif tersebut di antaranya:

Pertama, Rasa Kesepian: Ketika remaja lebih tertarik pada layar ponsel daripada berinteraksi secara langsung dengan teman-teman dan keluarga, mereka mungkin merasa kesepian karena merasa diabaikan di lingkungan tersebut.

Kedua, Low Self Esteem (Rendah Diri): Phubbing juga dapat menyebabkan perasaan rendah diri atau kurang pede yang dialami remaja, timbul perasaan kurang penting atau tidak berarti ketika teman-teman mereka lebih memilih berinteraksi dengan smartphone dibanding berbicara  dan interaksi secara langsung dengan mereka.

Ketiga, Gangguan Emosional: Phubbing dapat menyebabkan ketegangan dan konflik dalam hubungan antara remaja, teman sebaya, dan bahkan keluarga. Hal ini terjadi karena pelaku phubbing hanya menjawab sesekali atau bahkan diam dan tidak menghadapkan wajah dengan lawan bicara, hal ini menyebabkan rasa tidak dihargai atau diacuhkan.

Keempat, Penurunan Konsentrasi dan Stress: Phubbing juga dapat mengganggu konsentrasi remaja dalam aktivitas penting seperti belajar dan bekerja. Semisal ketika sedang belajar atau kegiatan, mereka aakn susah fokus dan rasa untuk ingin selalu menggunakan smartphone. Ini berdampak negatif pada prestasi akademis dan produktivitas bagi remaja maupun mahasiswa.

Menurut beberapa penelitian, Hal ini terjadi karena neuron otak overdosis dopamin, sehingga jika kita scrolling media sosial dengan dosis lebih sedikit dari biasanya maka akan timbul cemas dan rasa tidak puas bahkan merasa ada sesuatu yang kurang.

Kelima, Isolasi Sosial; Remaja yang sering melakukan phubbing mungkin mengalami isolasi sosial karena kurangnya interaksi sosial yang sehat dan berarti. Sehingga lebih memilih asik dengan smartphone sebagai pelarian atau untuk mencari validasi perasaannya.

Keenam, FOMO (Fear of Missing Out): Yang memiliki arti “ketakutan ketinggalan” atau “ketakutan melewatkan sesuatu”. Istilah ini merujuk pada perasaan cemas seseorang.

Mereka akan melewatkan pengalaman yang menyenangkan, penting, atau signifikan yang dialami oleh orang lain. Perasaan ini timbul akibat terlalu banyak scrolling media sosial, dan merasa dia harus ikut dengan tren di media sosial, supaya merasa tetap eksis dan kekinian. Lawan dari FOMO adalah JOMO (Joy of Missing Out). Artinya perasaan tetap tenang atau santai jika terlewatkan suatu tren di media sosial.

Di sisi lain, Islam menawarkan pandangan yang mendalam dan kaya akan solusi untuk mengatasi masalah psikologis, termasuk dampak negatif phubbing pada remaja. Beberapa prinsip dan solusi dapat membantu remaja mengatasi dampak phubbing adalah sebagai berikut:

Pertama, Muhasabah Diri: Dalam Islam, muhasabah mengacu pada introspeksi diri dan mengakui kesalahan atau perilaku buruk. Untuk menuju perubahan yang lebih positif, remaja perlu memiliki kesadaran diri untuk mengenali bahwa mereka terlalu sering melakukan phubbing dan menyadari dampak negatifnya pada diri sendiri maupun orang lain.

Kedua, Berkomunikasi dengan Empati: Islam mendorong umatnya untuk berkomunikasi dengan penuh empati dan kasih sayang. Remaja perlu belajar untuk memberikan perhatian sepenuhnya ketika sedang berinteraksi sosial dengan orang di sekitar mereka serta mengurangi penggunaan smartphone jika tidak benar-benar diperlukan, ketika ada pesan yang bersifat urgent ada baiknya kita sampaikan kepada lawan bicara untuk menjawab pesan sebentar, hal ini juga termasuk etika dalam interaksi sosial.

Ketiga, Mempraktikkan Ihsan (Berbuat Baik); Islam mengajarkan untuk berbuat baik kepada orang lain dan memperlakukan mereka dengan kesopanan, perhatian, dan hormat. Mempraktikkan ihsan dalam interaksi sosial akan membantu mengurangi perilaku phubbing. Berbuat Ishan dalam berkomunikasi juga selaras dengan kutipan Qs. An-Nahl ayat 125:

 ۚ ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ

Yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. Jadi Islam mengedepankan prinsip yang baik dalam berkomunikasi, dan berdebat pun dengan cara-cara yang baik dengan dasar pengetahuan.

Keempat, Mengurangi Ketergantungan Smartphone: Islam mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam segala aspek kehidupan. Dalam konteks ini, remaja harus mengurangi ketergantungan mereka pada smartphone dengan mengatur waktu penggunaan yang proporsional, dan menggunakan jika memang diperlukan.

Dalam mengurangi ketergantungan smartphonei dianjurkan untuk mencari kegiatan positif. Semisal permainan langsung atau olahraga bersama, yang mana memiliki dampak yang bagus untuk menjaga kebugaran tubuh dan pelepasan dopamin, adrenalin yang cukup sehingga timbul perasaan nyaman.

Kelima, Menghargai Hubungan Sosial: Islam menekankan pentingnya menjaga hubungan sosial yang baik dengan teman-teman dan keluarga. Remaja harus belajar untuk menghargai waktu bersama dan memprioritaskan interaksi langsung daripada interaksi melalui media sosial. Karena sejatinya media sosial diciptakan untuk mempermudah komunikasi dengan orang lain yang memiliki letak geografis yang jauh.

Keenam, Berdoa dan Tawakal: Islam mengajarkan bahwa Allah adalah sumber kekuatan dan dukungan. Remaja perlu di ajarkan untuk berlapang dada, berdoa dan tawakal. Agar dapat mengatasi perasaan kesepian dan rasa cemas karena tidak mengakses media sosial. Jadi, phubbing di kalangan remaja adalah masalah serius yang dapat memiliki dampak psikologis negatif, bagi yang melakukan maupun orang lain.

Berdasarkan eksplorasi di atas dan pendekatan holistik untuk mengikis perilaku phubbing, kita juga perlu berusaha mengamalkan. Memang perubahan yang bersifat promotif dari perilaku phubbing tidak dapat serta merta secara revolusioner dan mendadak. Namun perlu tahapan-tahapan tertentu, mulai dari kesadaran dan kemauan untuk berubah lebih sehat dalam interaksi, melakukan tindakan perubahan secara bertahap namun konsisten, dan menjaga perilaku sehat dalam berinteraksi sosial.

Penulis : Kukuh Yudha Pratama (Mahasiswa Magister Psikologi UMS)

Terkait

Previous Post

Gejolak Pernikahan dan Perlunya Sikap Dewasa

Next Post

Organisasi: Kendaraan Berdakwah atau Potensi Masalah Furu’iyyah

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Support

Organisasi: Kendaraan Berdakwah atau Potensi Masalah Furu’iyyah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.