Membicarakan masalah pendidikan sangatlah menarik, meskipun telah banyak dibahas oleh para intelektual dan pegiat pendidikan. Membaca realitas yang ada dalam pendidikan Islam awal hingga kurun waktu kekinian sangatla sarat makna. Islam telah jauh tertinggal dengan kemajuan zaman yang diklaim atas kegiatan keilmuan barat.
Tampaknya memang benar, setidaknya dengan mengulang dan menginternalisasi, kemudian merefleksi, mengontemplasi, evaluasi dengan tujuan setidaknya membuka wacana fikiran-fikiran kritis para generasi ini.
Mengutip perkataan sang proklamator, “Islam harus berani mengejar zaman, bukan seratus tahun, tetapi seribu tahun Islam ketinggalan zaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuan buat mengejar seribu tahun itu, niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali pada Islam glory yang dulu, bukan kembali pada ‘zaman chalifah’, tetapi lari ke muka, lari mengejar jaman,” (Soekarno).
Pendidikan Islam Tradisional
Islam pada umumnya dan pendidikan Islam pada khususnya telah tertinggal jauh dengan pendidikan dan perkembangan Barat. Kesadaran tersebut perlu dipupuk dan dipacu dalam kaitanya perbaikan pemikiran Islam itu sendiri. Pendidikan Islam harus segera mengubah dirinya, ia dituntut relefan dengan zaman.
Pendidikan Islam harus merepresentasikan Islam rahmatan lil alamin, dengan demikian orientasinya bukan hanya ilmu agama (ulum al din), tetapi juga sains, teknologi, dan ilmu-ilmu umum lainnya (integrasi keilmuan).
Adanya pendikotomian tersebut di antaranya yang melatarbelakangi merosotnya keilmuan Islam selepas dari kepemimpinan Al-Makmun Ar-Razid. Yang akhirnya bayak dikenang sebagai romantisme keilmuan Islam lampau.
Karakteristik pendidikan Islam tradisional ialah, pertama, orientasi pendidikan mengemban misi suci. Hal ini dapat dilihat dari bagaiman Rasululah menyelenggarakan pendidikan di masa Islam fase awal di rumah Arqam (Darul Arqom). Kemudian beranjak ke masjid atau tempat sekitar masjid dengan berbentuk kelompok-kelompok. Hal itu dilakukan hingga kurun waktu yang cukup lama hingga pada batas ketika Islam mulai berintraksi dengan Romawi, Persia dan Yunani Kuno.
Terpusat Pada Ilmu-Ilmu Agama
Hal tersebut juga terjadi dalam pendidikan Islam tradisional di Indonesia. Yang dititik beratkan di dalamnya hanya yang terkait dengan ilmu-ilmu agama. Atau apa-apa yang dianggap mengantarkan ke surga dan menjaukan dari siksa. Kedua, kemudian pendidikan adalah dalam rangka melestarikan ajaran Islam, pendidikan diarakan sebagai sebuah pelestarian faham agama dan sarana ekspansi secara damai guna kepentingan agama.
Ketiga, Penguatan doktin tauhid, tauhid dalam faham umat Islam sangatlah fundamental. Dengan demikian penguatan tauhid berimplikasi pada jiwa militansi beragama, mencari ilmu. Dan secara emosional para pemeluk agama atau orang-orang yang belajar dalam pendidikan Islam tradisional akan mampu mengemban amanah agama dikemudian hari.
Baca Juga: Mengapa Ada Fatwa Lockdown Masjid & Peniadaan Ibadah Berjamaah?
Keempat, Terfokus pada metodologi keilmuan Islam, pendidikan Islam tradisional, mendikotomi antara pendidikan agama dan umum, dunia dan akhirat. Dengan demikian terlihat sangat jelas pendikotomian tersebut. para pencari ilmu di pendidikan Islam tradisional hanya mempelajari ilmu-ilmu agama dan yang dianggap menghantarkan ke suga dan yang menjauhkan siksa, lalu menafikan yang lainya.
Pendidikan Terpusat pada Guru
Kelima, pendidikan terfokus pada guru, dalam pendidikan Islam tradisional murid tidak ada hak untuk mempertanyakan sesuatu, mengeksplor keilmuan, tanpa seizin guru. Guru dianggap sosok yang sangat ideal sebagai manusia yang berilmu tanpa perlu dikoreksi. Keenam, Sistem belajarnya memakai halaqoh, bekumpul, mengelompok setelah itu maju satu persatu (konvensional).
Sehingga bisa dikatakan bahwa sistem yang dijalankan dengan memakai dua pendekatan, kelompok dan individual. Dalam istilah pesantren ada “sorogan” dan “bandongan”. Sistem sorogan lebih berorientasi pada pendekatan individual, bimbingan pribadi sedangkan sistem bandongan adalah bimbingan kelompok.
Ketujuh, metode pengajaran ialah mengunakan metode ceramah, ada juga metode imla (mencatat) dalam kaitannya hal tersebut adalah dari dampak karakteristik-karakteristik pendidikan Islam tradisional yang telah dijabarkan sebelumnya. Setidaknya beberapa hal itulah yang menjadi ciri konservatifnya sebuah pendidikan.
Pendidikan Islam Modern
Pendidikan Islam modern adalah bentuk progresifitas yang telah diraih dari pendidikan Islam sebelumnya. Setidaknya ada sebuah upaya memperbaiki menuju yang lebih baik. Pendidikan Islam modern hadir sebagai antitesis dari pendidikan Islam tradisional.
Di mana pendidikan yang dianggap membutuhkan pembenahan guna mengimbangi kemajuan zaman dan relevansi manfaatnya. Secara historis keduanya tidak dapat dipisahkan. Pendidikan Islam modern adalah mata rantai selanjutnya setelah sebelumnya adalah pendidikan Islam tradisional.
Di antara ciri khas pendidikan Islam modern adala tidak mendikotomi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, ataupun duniawi dan ukhrawi. Dalam pendidikan Islam modern, dunia adalah sarana guna mendapatkan kehidupan bahagia di akhirat, dan Islam lebih di pandang secara luas. Sehingga tidak ada pendikotomian antara agama dan dunia, ilmu agama dan ilmu-ilmu umum.
Humanisasi Sebagai Manifestasi Pendidikan Islam Modern
Sedangkan humanisasi atau hablu minannas adalah manifestasi dari dari kedalaman seseoranng beragama. Semakin dalam seseorang beragama, maka makin luas pula manfaatnya untuk seluruh makhluk.
Jadi dalam kostruksi pendidikan Islam sudah seyogyanya terjadi sebuah relasi yang erat antara dunia dan akhirat, ilmu umum dan agama, hablum minannas dan hablumminaullah. Meminjam istilah konsep pemikiran intelektual Amin Abdullah yaitu dengan integrasi interkoneksi. Sehingga jangan sampai pendidikan Islam dilema dalam masa lalu, namun tak mampu bersaing dengan Barat.
Baca Juga: “Ide Kuntowijoyo” dalam Pendemik Covid-19
Integrasi interkoneksi harus dimasifkan guna penguatan keilmuan Islam yang telah jauh tertinggal dan dalam rangka kaitanya mengurangi paradoksnya dari satu cabang ilmu dengan ilmu lainya. Kembali mengutip perkataan Soekarno:“Islam harus berani mengejar zaman, bukan seratus tahun, tetapi seribu tahun Islam ketinggalan zaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuan buat mengejar seribu tahun itu, niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali pada Islam glory yang dulu, bukan kembali pada ‘zaman chalifah’, tetapi lari ke muka, lari mengejar jaman,”.
“Itulah satu-satunya jalan buat menjadi gilang gemilang kembali. Kenapa toch kita selamanya dapat ajaran, bahwa kita harus mengkopi ‘zaman chalifah’ yang dulu-dulu? Sekarang toch tahun 1936 dan bukan tahun 700 atau 800 atau 900?”.