“Ide Kuntowijoyo” dalam Pendemik Covid-19

Oleh: Asep Saepullah

Beberapa hari/Minggu/Bulan ini masyarakat dunia, khususnya Indonesia digemparkan dengan merebaknya wabah virus corona (Covid 19). Tercatat 16.497  kasus kematian akibat virus Corona di dunia, dan di Indonesia tercatat ada 514 positif Corona dengan korban meninggal 48 orang. Jumlah tersebut diyakini akan terus bertambah mengingat belum ada vaksin khusus untuk membunuh virus tersebut.

Beberapa negara yang terjangkit virus Covid-19 melakukan sistem lockdown terhadap daerah atau kota yang disinyalir memiliki potensi penyebaran virus covid-19. Kecuali Indonesia yang hanya meliburkan berbagai macam bentuk aktifitas di luar rumah saja.

Berbagai macam mediapun ramai gencar memberitakan dan menginformasikan virus Covid-19 ini. Dari mulai televisi hingga grup whatsap pribadi. Hal tersebut dikarenakan adanya sebuah pergeseran kesadaran. Khususnya umat Islam Indonesia dari kesadaran mitos menuju kesadaran ideologi yang diawali sekitar abad 19 sampai 20.

Meskipun demikian, ada kekhawatiran dari masyarakat Indonesia terhadap oknum yang memanfaatkan situasi ini untuk menakut-nakuti masyarakat oleh dampak dari virus corona ini.

Kuntowijoyo Sang Intelektual

Bagi seorang akademisi, nama Kuntowijoyo tentu sudah tidak asing lagi untuk didengar. Terutama para akademisi di kota Yogyakarta dan sekitarnya. Kuntowijoyo yang lahir di Bantul 18 Desember 1943 merupakan sejarahwan Indonesia terkemuka. Juga dikenal sebagai sastrawan, budayawan, filosof dan intelektual yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar dan melakukan banyak kegiatan akademisi di almamaternya (UGM).

Karya beliau yang paling monumental adalah buku trilogi sejarah: Pengantar Ilmu Sejarah, Metodelogi Sejarah, dan Penjelasan  Sejarah. Sedangkan karya monumental lainnya adalah buku Paradigma Islam.

Tiga Model Kesadaran

Menurut Kuntowijoyo ada tiga model kesadaran dalam diri masyarakt yaitu kesadaran mitos, kesadaran ideologi dan kesadaran ilmu.

Mitos dapat diartikan sebagai gagasan-gagasan di tengah masyarakat yang berhubungan erat dengan nilai-nilai spiritual dan dipercaya begitu saja tanpa di uji secara rasional atau masuk akal. Dari mulai mitos lama yang kebanyakan berupa legitimasi. Mitos baru yang berupa mitos politik hingga mitos kontemporer yang bersifat komersial. Inilah fase kesadaran mitos.

Sedangkan pada fase kesadaran ideologi, orang bergerak tidak hanya sekedar mengikuti apa kata pemimpin tetapi mulai menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang jelas dan masuk akal.

Sementara kesadaran level tertinggi yaitu berada pada kesadaran ilmu, yang melihat fakta dari sudut objektif (faktual). Hal tersebut pula yang membedakannya dengan kesadaran ideologi yang bersifat subjektif (normatif).

Sosial Profetik Solusi Isu Corona

Kuntowijoyo memiliki tawaran epistemologi terhadap fenomana agama yang terlibat dalam setiap langkah dan setiap detik hidup manusia termasuk menangani wabah virus Corona ini, yaitu melalui ilmu sosial profetik. Lantas apa yang membedakannya dengan ilmu sosial Barat? Perbedaannya terletak pada kata profetik yang berarti melibatkan wahyu, rasional dan fakta empiris sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Sementara gagasan dasarnya yaitu ilmu sosial bukan hanya untuk ilmu. Bukan hanya untuk menghasilkan perubahan tetapi suatu perubahan masyarakat yang dikerangkai dan dipandu oleh suatu nilai-nilai profetik (baca: cita-cita etik-profetik). Maka kata kunci dari ilmu sosial profetik adalah humanisasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi munkar), dan transendensi (tu’minunah billah) yang bersumber pada Q.S Al Imran: 110.

Baca Juga: Mengapa Ada Fatwa Lockdown Masjid & Peniadaan Ibadah Berjamaah?

Dalam buku Islam sebagai Ilmu, Kuntowijoyo mengklasifikasikan empat hal yang perlu dibahas terkait dengan ilmu sosial profetik yaitu tujuan akhir paradigma Islam. Keterlibatan umat (paradigma Islam) dalam sejarah, methodological objectism. Dan sikap paradigma Islam terhadap ilmu-ilmu sekular.

Methodological Objectivism

Pertama mengenai tujuan akhir paradigma Islam yaitu semakin dekatnya manusia kepada Yang Maha Abadi. Islam menghendaki adanya transformasi menuju transendensi, bukan transformasi kemanusiaan yang menjurus ke arah masyarakat sekuler.

Kedua, keterlibatan umat Islam terutama seorang aktivis muslim, harus berjuang penuh dalam sejarah kemanusiaan yaitu humanisasi (memanusiakan manusia), liberasi (membebaskan manusia dari penindasan) dan transedensi (membawa manusia beriman kepada Tuhan).

Ketiga, paradigma Islam akan menganut “methodological objectivism”. Maksudnya, seorang intelektual muslim harus mampu menghormati objek penelitian, menjadikan objek penelitian sebagai subjek yang mandiri: menghargai nilai-nilai yang dianut objek penelitian.

Hal tersebut akan membawa paradigma Islam untuk tidak bertindak seperti ilmu sekuler yang mengaku objektif, tapi pada kenyataannya sangat subjektif dan tidak menghargai nilai-nilai yang dianut objek penelitian serta merugikan si objek (seperti halnya Snouck Hurgronje yang menyamar menjadi muslim untuk masuk Mekkah agar dapat memata-matai umat Islam).

Keempat, mengenai sikap paradigma Islam terhadap ilmu-ilmu sekular yang berupa sebuah penegasan bahwa paradigma Islam tidak akan secara apriori menolak ilmu sekular. Tetapi Islam sebagai ilmu akan selalu kritis terhadap semua pengetahuan, sekular atau tidak dan bahkan harus mampu mengkritisi dirinya sendiri.

Tradisi Profetik di Tengah Kasus Covid-19

Merujuk pada ulasan diatas, ilmu sosial profetik kuntowijoyo memiliki tawaran dalam hal menyikapi wabah virus Covid-19 ini dengan cara humanisasi, liberasi, dan transedensi. Pertama, humanisasi (memanusiakan manusia) yaitu mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk memberikan hak-hak kemanusiaan dari pasien atau keluarga Covid-19. Dengan tidak menjauhi atau bahkan mengolok-oloknya di berbagai macam sosial media maupun lingkungan.

Kedua, liberasi (membebaskan manusia dari penindasan) yaitu dengan mengikuti fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Yang menghimbau seluruh umat Islam di wilayah yang terdeteksi adanya infeksi virus Covid-19. Untuk shalat dirumah saja sebagai bentuk sosial distancing.

Baca Juga: Menghadapi Covid-19 Dengan Keberanian Terukur

Hal tersebut merupakan bagian dari membebaskan manusia dari penindasan aktifitas atau pekerjaan sehari-hari. Yang dapat membuat imun tubuh menjadi lemah dan pada akhirnya mudah terinfeksi virus Covid-19.

Ketiga, transedensi (membawa manusia kepada Tuhan). Tentunya setelah melakukan berbagai macam syariat atau usaha untuk mencegah penularan virus Covid-19 dengan di rumah saja, sosial distancing. Dan lain sebagainyanya kita juga dituntut untuk selalu berdoa kepada Tuhan sebagai bagian dari umat yang beriman dan beragama agar terhindar dari virus Covid-19.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

What's your reaction?
4So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment