Ngabekten: Artikulasi Harmoni Islam dan Jawa

Ngabekten adalah tradisi penghormatan keluarga kerajaan dan abdi dalem kepada sultan, sebagaimana ajaran Islam untuk saling menghormati. Secara de jure, keraton Yogyakarta dulunya adalah Kerajaan Islam. Keraton ini dibangun oleh Pangeran Mangkubumi setelah Perjanjian Giyanti yang ditandatangani oleh Pangeran Mangkubumi, Pakubuwono III, dan VOC, pada tanggal 13 Februari 1755. Isi perjanjian tersebut adalah membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Keduanya adalah warisan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopati pada abad ke-16.

Sebagai salah satu representasi Kerajaan Islam, Keraton Yogyakarta memiliki budaya-budaya tertentu yang beberapa diantaranya masih lestari hingga hari ini. Salah satu tradisi yang dilestarikan itu adalah tradisi Ngabekten. “Ngabekten” berasal dari Bahasa Jawa yaitu kata bekti. Bekti berarti “tingkah laku seseorang untuk menghormati orang lain yang lebih tua, atau yang dituakan, atau orang lain yang dihormati”.

Sejarah Ngabekten

Dalam Javanese-English Dictionary, ngabekten berarti “to show respect by kissing the knee of an older person. On occasion for show one’s respect as above”. Dalam Bahasa Indonesia dikenal istilah “bakti”. “Bakti” dalam KBBI diartikan dengan “pernyataan tunduk dan hormat; perbuatan yang menyatakan setia”

Tidak ada literatur yang menyebutkan secara detail kapan tradisi ngabekten ini dimulai. Hal ini dikarenakan masyarakat Jawa zaman dahulu lebih dekat dengan tradisi lisan daripada tradisi baca-tulis. Sumber-sumber yang ada hanya memberikan keterangan bahwa tradisi ini dimulai “sejak zama dahulu” atau “sejak zaman para leluhur”. Tidak jelas leluhur yang mana yang dimaksud.

baca juga: Persaudaraan Sejati Manusia Lintas Agama

Sultan adalah tokoh yang sentral dalam tradisi itu. Inti dari tradisi ngabekten adalah memberikan penghormatan terhadap sultan. Hamengkubuwono I adalah raja pertama yang menggunakan gelar sultan setelah Sultan Agung pada sekitar abad ke-17. Sultan adalah gelar bagi raja-raja Yogyakarta yang berbeda dengan gelar raja Surakarta yang menggunakan “susuhunan”.

Gelar lengkap yang diberikan bagi raja-raja Yogyakarta adalah Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah. Senopati berarti sultan adalah penguasa di alam fana. Ing alaga berarti memiliki kekuasaan untuk perdamaian dan peperangan atau panglima perang. Sayyidin panatagama berarti pengatur agama. Misalnya disebut dengan Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah V.

Prosesi Pelaksanaan

Tradisi ini dilakukan selama dua hari. Hari pertama adalah untuk laki-laki, dan hari kedua untuk perempuan. Hari pertama jatuh pada setiap tanggal 1 Sawal penanggalan Jawa, hari kedua jatuh pada setiap tanggal 2 Sawal penanggalan Jawa.

Waktu-waktu tradisi ngabekten dibagi menjadi tiga kelompok. Hari pertama di pagi hari (pukul 09.00) Ngabekten dilakukan oleh kelompok pertama, yakni para pengeran, sebagian para putra sultan yang telah dewasa tetapi belum diangkat menjadi pengeran, para menantu/suami putri sultan yang bergelar kanjeng pangeran harya, dan para abdidalem bupati sampai dengan abdidalem berpangkat kanjeng pangeran harya.

Selanjutnya siang hari (pukul 13.00) Ngabekten dilakukan oleh para abdidalem yang berpangkat bekel enom sampai dengan wadana. Sedangkan pada sore hari (pukul 15.00) Ngabekten dilakukan oleh para putra sultan yang belum dewasa, para cucu sampai canggah laki-laki sultan, para suami cucu sampai canggah perempuan sultan, dan para duda dari cucu sampai dengan duda dari canggah sultan yang belum kawin lagi. Pembagiannya untuk perempuan kurang lebih sama dengan laki-laki. Tradisi ini dilakukan di bagian utama Keraton.

Prosesi pelaksanaan ngabekten secara sederhana adalah, para peserta ngabekten yang hadir, berjalan dengan berjongkok satu-persatu menuju sultan yang duduk di kursinya, kemudian melakukan sungkem sambil mencium lutut sultan. Urutannya dimulai dari peserta dengan status sosial paling tinggi, hingga yang rendah.

Beberapa perlengkapan yang digunakan ketika ngabekten dilakukan adalah permadani, kursi, meja, dan gemelan, selain juga busana yang dikenakan sultan dan pihak-pihak yang melakukan ngabekten. Semuanya dipersiapkan satu hari sebelum berlangsungnya acara. Gamelan dibunyikan dan dimainkan ketika proses ngabekten berlangsung.

Para pihak yang melakukan ngabekten mengenakan pakaian yang telah ditentukan, mulai dari sultan hingga abdidalem. Sultan memakai busana surjan, kain, keris, dan blangkon (udheng). Para pangeran dan abdidalem yang ngabekti kepada sultan juga menggunakan busana yang sudah ditentukan, mulai dari baju, kain, keris, dan blankon (udheng) yang masing-masing kelompok memiliki cirinya masing-masing. Khusus untuk keris, karena menjadi larangan selama ngabekti, ketika mendekat untuk mencium atau bersalaman lutut sultan, keris terlebih dahulu ditanggalkan.

Nilai-Nilai Ngabekten

Tentu tradisi ini dilakukan tidak berangkat dari ruang kosong. Selain ia merepresentasikan budaya Islam, yaitu tradisi saling memaafkan di hari raya idul fitri, ia juga memiliki beberapa fungsi. Pertama, tradisi ini dapat menanamkan nilai kedisiplinan. Hal ini berangkat dari aturan-aturan yang harus ditaati oleh peserta ngabekten. Semakin sering peserta terbiasa menaati aturan, maka mereka akan semakin disiplin.

baca juga: Corona & Perintah I’tikaf di Rumah

Kedua, tradisi ini memiliki fungsi menanamkan nilai sopan santun, terutama sopan santun terhadap orang yang lebih tua atau yang status sosialnya lebih tinggi. Ketiga, menanamkan nilai ketertiban. Bahwa setiap peserta ngabekten harus tertib satu-persatu menghadap sultan, sesuai urutan yang telah ditentukan.

Keempat, tradisi ini berfungsi menanamkan nilai kesabaran. Kesabaran didapatkan ketika menunggu antrian, berjalan jongkok menghadap sultan, dan lain-lain. Kelima, tentu saja nilai persaudaraan. Ketika tradisi ngabekten, seluruh keluarga besar kerajaan beserta peserta ngabekten bertemu untuk saling bersilaturahmi, saling menanyakan kabar dan beramah tamah.

Nilai-nilai tradisi ini secara substansial lekat dengan nilai-nilai Islam. Bahwa Islam juga mengajarkan umatnya untuk disiplin, menghormati waktu, sopan terhadap orang lain, tertib, sabar, dan saling menyambung silaturahmi.

What's your reaction?
1So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment