Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Menjadi Muslim di Era Overthinking: Antara Iman dan Healing

Septian Chaerunnisa Pangestu by Septian Chaerunnisa Pangestu
Oktober 15, 2025
in Esai, Narasi
0
Menjadi Muslim di Era Overthinking: Antara Iman dan Healing
20
SHARES
117
VIEWS

Oleh: Septian Chaerunnisa Pangestu

Hidup di era digital terasa seperti berjalan di tengah kebisingan yang tak pernah usai. Notifikasi datang tanpa henti, berita muncul setiap detik, dan ekspektasi sosial membuat kita seolah harus selalu tampil sempurna. Di tengah derasnya arus informasi, banyak anak muda kini hidup dengan kepala yang penuh, penuh akan rencana, kekhawatiran, dan perbandingan. Tak heran, istilah overthinking menjadi bahasa sehari-hari generasi ini.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Namun di balik istilah itu, ada kegelisahan yang lebih dalam, perasaan kehilangan kendali atas hidup. Kita terus berpikir untuk mencari kepastian, padahal semakin dicari, arah dan makna justru makin kabur. Di sinilah menjadi seorang Muslim di era overthinking bukan hanya tentang menjaga iman, tapi juga menjadikan iman sebagai ruang healing bagi jiwa yang lelah.

Kita sering merasa berpikir tanpa henti adalah tanda produktivitas. Padahal, ketika pikiran mulai mengulang kekhawatiran yang sama, menyesali keputusan yang telah diambil, atau takut pada hal yang belum terjadi di situlah overthinking tumbuh. Islam mengajarkan bahwa tugas manusia adalah berusaha, bukan menguasai hasil. Allah berfirman:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini tampak sederhana, tetapi justru menyimpan makna yang mendalam. Ketenangan hidup sering lahir dari kemampuan untuk melepaskan. Manusia tidak dituntut memahami segala hal, karena memaksakan diri untuk mengerti semuanya hanya membuat hati semakin cemas. Sumber dari overthinking kadang bukan kurangnya iman kepada Allah, melainkan kurangnya penerimaan atas keterbatasan diri. Maka langkah awal menuju ketenangan adalah belajar ikhlas terhadap batas-batas itu.

Istilah healing kini menjadi bagian dari budaya populer anak muda. Ada yang menenangkan diri lewat bepergian, menulis sajak, atau mendaki, semua itu wajar dan baik. Namun Islam menawarkan bentuk penyembuhan yang lebih dalam menenangkan hati dengan mengingat Allah.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Dzikir, shalat, dan sabar bukan hanya ritual, tapi terapi spiritual yang membantu manusia kembali ke pusat dirinya. Dalam dzikir, kita belajar fokus menarik perhatian dari kekacauan luar menuju kedalaman batin. Dalam shalat, kita belajar berhenti sejenak, memberi ruang bagi pikiran yang terus berlari. Healing dalam Islam bukan berarti melarikan diri dari kenyataan, tapi menemukan ketenangan di tengahnya. Di saat dunia terus menuntut untuk bergerak, iman justru mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dan menata ulang arah hidup.

Generasi kita tumbuh dengan pesan “cintai dirimu sendiri.” Sebuah pesan yang penting, karena banyak di antara kita lupa bagaimana menghargai diri sendiri. Namun, Islam mengingatkan bahwa cinta pada diri tidak boleh mengalahkan ketundukan kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.”
(HR. Bukhari)

Menjaga kesehatan mental dan fisik adalah bagian dari ibadah. Tetapi mencintai diri bukan berarti menuruti semua keinginan. Kadang, mencintai diri justru berarti berani menegur diri sendiri, menolak dorongan ego yang ingin segalanya sempurna. Iman menjaga agar self-love tidak berubah menjadi self-centeredness. Islam tidak menolak perasaan, namun mengajarkan keseimbangan antara kasih kepada diri dan kepasrahan kepada Tuhan.

Media sosial membuat kita bisa merasa dekat sekaligus jauh. Di satu sisi, kita mudah terhubung, di sisi lain, kita cepat merasa kurang karena terus membandingkan diri dengan orang lain. Di tengah kondisi ini, melakukan digital detox bisa menjadi bentuk jihad kecil bukan menolak teknologi, tapi memberi ruang bagi diri untuk bernapas tanpa tekanan algoritma. Terkadang, bentuk healing terbaik justru sederhana, mematikan ponsel selama satu jam, membaca satu halaman Al-Qur’an dengan perlahan, atau menulis rasa syukur di penghujung hari. Langkah-langkah kecil seperti itu mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tak perlu selalu tampak di layar.

Menjadi Muslim di era overthinking bukan berarti berhenti berpikir. Islam justru mendorong kita untuk berpikir, tapi dengan arah dan makna. Iman hadir sebagai penyeimbang agar akal tidak tersesat dalam keresahan. Berpikir dengan iman berarti percaya bahwa setiap persoalan memiliki ruang untuk doa. Bahwa setiap kekhawatiran dapat ditenangkan dengan kedekatan spiritual. Bahwa tidak semua hal harus kita kendalikan, karena sebagian justru lebih indah bila diserahkan kepada Allah.

Overthinking hanyalah tanda bahwa manusia sedang mencari makna. Kita ingin merasa cukup, diterima, dan yakin akan masa depan. Namun dalam pencarian itu, iman menjadi rumah tempat kita pulang. Ketika pikiran terlalu bising, iman menawarkan keheningan. Ketika hati terasa sempit, iman memberi ruang untuk bernapas. Dan ketika dunia terasa berat, iman mengingatkan bahwa semua ini sementara dan Allah tak pernah meninggalkan kita sendirian.

Mungkin sudah saatnya kita mengganti overthinking dengan overtrusting. Bukan berhenti berpikir, tapi mempercayakan hasil kepada Allah. Karena di tengah dunia yang serba cepat dan bising, menjadi Muslim berarti belajar tenang, bukan karena hidup mudah, tapi karena kita tahu, Sang Pemilik hidup selalu menggenggam kendali atas segalanya.

Editor: Dwi Kurniadi

Terkait

Tags: IslamMuslimoverthinkingPeradaban
Previous Post

Antara Haru dan Harapan, Pondok Shabran UMS Mulai Bangun Gedung Baru

Next Post

Strategi Pengembangan Materi Pembelajaran Al-Qur’an di Era Distraksi Digital

Septian Chaerunnisa Pangestu

Septian Chaerunnisa Pangestu

Next Post
Strategi Pengembangan Materi Pembelajaran Al-Qur’an di Era Distraksi Digital

Strategi Pengembangan Materi Pembelajaran Al-Qur’an di Era Distraksi Digital

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.