Oleh: Achmad Fauzan
“Dalam sejarah, dehumanisasi tidak mungkin terjadi” (Kuntowijoyo)
Berbicara tentang kisah Nabi Musa (1527-1407 SM), tentunya kita tidak bisa mengabaikan konteks historis munculnya agama Yahudi. Yang kemudian juga menjadi “panutan” agama setelahnya, yaitu Kristen (Yesus) dan Islam (Muhammad).
Kata Yahudi berasal dari Bahasa Ibrani “Yehuda” yang merupakan salah satu marga dari 12 leluhur suku Israel. Dalam sejarahnya, bangsa Israel ini memiliki pengalaman yang kelam di zaman kekuasaan Ramses I – II (Firaun).
Hingga suatu saat salah satu suku bangsa Israel yang bernama Lewi melahirkan seseorang bernama Musa. Yang nantinya ia berhasil membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Firaun setelah berjalan kurang lebih selama 400 tahun lamanya.
Sosok Musa dalam Tiga Agama Ibrahim
Dalam agama Yahudi, pusat keimanannya bersandarkan dalam kitab sucinya, Taurat (Istilah lain: Pentateukh). Yang menyebutkan kisah Musa sebagai figur utama panutannya. Kisah Musa yang berhasil membebaskan Firaun berkat pertolongan Tuhan dikenang dalam beberapa agenda besar; hari raya Paskah (Passover), hari-hari raya besar (Rosh Hashanah dan Yom Kippur). Dan hari raya pondok daun (Sukkot) yang sudah berjalan selama kurang lebih 3.000 tahun.
Berbeda halnya dengan agama Kristen yang keimanannya berpusat pada Yesus (Isa). Meski begitu, agama Kristen mengagumi sosok Musa dan kisah perjuangannya. Yang nantinya salah satu hari raya umat Yahudi, Paskah, juga dijadikan pedoman dalam mendalami dogma-dogma kekristenannya (lihat Matius 26:17-30).
Agama Islam sendiri memiliki pandangan yang berbeda terhadap agama pendahulunya. Pusat keimanan umat Muslim diperantarai oleh Nabi Muhammad Saw. Umat Muslim juga mengakui mengenal Nabi Musa dalam kitab sucinya.
Peristiwa Nabi Musa ketika mendapatkan 10 perintah dari hasil dialognya dengan Allah di gunung Sinai sebagai asas ajaran Bani Israel. Mengingatkan sosok Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra Miraj (Q.S. Al-Isra’: 1-2) yang juga mendapatkan perintah melakukan shalat sebagai asas ajaran Islam dari hasil diaolognya dengan Allah di langit ketujuh (Sidratul Muntaha).
Musa dalam “Alkitab”
Dalam Alkitab, Pentateukh terletak dalam Perjanjian Lama yang meliputi lima kitab utama, yakni Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Kisah Musa sendiri banyak diceritakan dalam Kitab Keluaran. Dalam keempat puluh pasalnya, secara umum Kitab Keluaran menggambarkan tiga aspek keselamatan.
Baca Juga: Bala: Siksaan atau Kenikmatan?
Bagian pertama (Kel 1-18), mengisahkan proses keluarnya (Eksodus) budak-budak Ibrani dari Mesir. Bagian kedua (Kel 19-24), menceritaka bagaimana Allah mengikat diri dalam perjanjian dengan umat yang telah berhasil dibebaskan. Bagian ketiga (Kel 25-40), berkaitan dengan pembangunan “tempat suci” yang digunakan untuk melakukan ritual pengkudusan (Harley, 2017).
Struktur narasi yang termaktub dalam Kitab Keluaran berbeda jauh dengan struktur narasi Alquran. Jika Alkitab membicarakan kisah Musa yang kebanyakan terangkum dalam satu surat. Sementara Alquran membicarakannya dalam 30 surat yang berbeda-beda secara segmentatif. Menurut penulis, terdapat tiga poin utama yang dapat dijadikan pembelajaran yang sangat berarti dari kisah Musa.
Anti Kolonialisme
Pertama, sikap anti terhadap bentuk kolonialisme. Berawal dari bangsa Israel yang telah dijanjikan oleh Allah sebagai bangsa yang “utama” (Q.S. Al-Baqarah: 47) yang kemudian diperlakukan secara tidak manusiawi oleh Firaun. Waktu itu bangsa Israel tidak hanya dijadikan sebagai tumbal peradaban Mesir, mereka juga diperintahkan untuk menyembah dewa-dewa Firaun (Kejadian 12:1-13; 15:13-14).
Untuk bisa mengakhiri kekejaman Firaun tersebut, Allah mengutus Nabi Musa untuk membebaskan bangsa Israel dari penindasan fisik dan juga spiritual. Musa diberkati oleh Allah memiliki beberapa mukjizat, salah satunya adalah tongkat ajaibnya yang bisa digunakan melawan kekuatan Firaun.
Hal ini terbukti ampuh ketika melawan tukang sihir Firaun dan peristiwa terbelahnya lautan (Q.S. Al-Baqarah: 50 & 60). Gambaran perlawanan Musa terhadap Firaun ini jelas terbukti sebagai bentuk perlawanan terhadap berbagai penindasan terhadap rakyat.
Nasionalisme-Religius
Kedua, menggelorakan semangat nasionalisme berbasis agama. Dalam Kitab Keluaran 1:7-12, dikisahkan ketika Firaun menyuruh bidan-bidan untuk membunuh keturunan bangsa Israel, khususnya berkelamin laki-laki. Namun, mereka takut terhadap siksa Tuhan dan bersatu padu untuk menentangnya secara diam-diam.
Salah satu buktinya adalah ketika seorang dari suku Lewi melahirkan seorang putera (yang kelak dinamakan Musa). Mereka menghanyutkan ke sungai dengan harapan agar ditemukan seseorang yang dengan baik hati merawat puteranya itu (Kel 2:1-10). Ternyata harapannya terkabul.
Waktu itu Musa ditemukan oleh isteri Firaun yang pada nantinya dijadikan sebagai anak angkatnya. Ketika Musa beranjak dewasa, ia sadar bahwa ia adalah keturunan bangsa Israel. Dan sejak saat itu, Musa memiliki tekad untuk membebaskan bangsa yang sedarah dengan dia untuk menggulingkan kekuasaan Firaun.
Proses Musa melawan Firaun diawali dengan semangat nasionalis-religius dari hasil dialognya dengan Allah di gunung Sinai (Kel 3:6-22; 4:1-17). Allah memerintahkan Musa untuk mengajak Firaun menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Jika Firaun dan kaumnya berpaling, maka mereka akan diberikan musibah tiada henti.
Faktanya, Firaun menolak menyembah Tuhan yang diagungkan oleh Musa. Semenjak itu, perlawanan demi perlawanan mulai mengemuka di ruang publik. Hingga pada akhirnya, Firaun kalah di saat lautan yang dibelah oleh Musa sebagai jalan keluar menenggelamkan Firaun dan kaumnya (Kel 14:15-31).
Patuh kepada Kemaslahatan
Ketiga, patuh terhadap peraturan dari perintah atasan yang tidak menimbulkan mudarat bagi kebanyakan orang. Ketika bangsa Israel berhasil dibebaskan oleh Musa, mereka diajak ke gunung Sinai atas perintah dari Allah. Selama perjalanan, bangsa Israel mengalami pengalaman yang ajaib.
Ketika makanan dan minuman hampir habis di tengah perjalanan, mereka diberikan Manna (roti) dan Salwa (burung puyuh) sebagai tambahan bekal agar bisa sampai ke gunung Sinai (Kel 16:1-36 & Q.S. Al-A’raf: 160). Setibanya di gunung Sinai, bangsa Israel mengalami pengalaman spiritual yang membuat mereka merasa memiliki Tuhan yang sebenar-benarnya.
Baca Juga: “Nikmat Aman” yang Kadang Terlupakan
Sayangnya, ketika bangsa Israel ingin merayakan pengalaman spiritualnya itu. Justru mereka membuat patung emas dari anak lembu (Kel 32:1-10) yang jelas ditentang oleh Musa ketika mendakwahkan 10 perintahnya.
Kecerobohan Sumber Malapetaka
Salah satu perintah tersebut termaktub dalam Kitab Keluaran 20: 4 yang menyatakan bahwa “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi”. Hal ini merupakan kecerobohan bagi bangsa Israel yang kurang bisa mendayagunakan akalnya sehingga kemudian dihukum oleh Allah sendiri (Q.S. Al-Baqarah: 63-66).
Ketiga hikmah yang sudah penulis sebutkan di atas, secara turun temurun diperjuangkan oleh tiga agama besar Ibrahim. Dan sudah sepantasnya kita menyegarkan kembali ingatan kita tentang Nabi Musa yang sangat visioner dan dicontoh oleh Yesus dan Nabi Muhammad sebagai basis dari titik temu tiga agama ibrahim itu.
Terutama yang terkait dalam melawan berbagai bentuk kekerasan dan penindasan, menggelorakan semangat nasionalis-religus dan taat terhadap peraturan yang sudah diberlakukan demi kesejahteraan masyarakat secara kolektif.
Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Sumber Ilustrasi: islamaktual.net