Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Islam Jawa Islam Jabbariyah

Nurbani Yusuf by Nurbani Yusuf
Maret 24, 2020
in Narasi
0
Apakah kita sudah memuliakan bumi sebagai "masjid"? Apakah kita memuliakan ekosistem di muka bumi ini sebagai wujud kita bersujud mengagungkan-Nya?

Apakah kita sudah memuliakan bumi sebagai "masjid"? Apakah kita memuliakan ekosistem di muka bumi ini sebagai wujud kita bersujud mengagungkan-Nya?

21
SHARES
122
VIEWS

Islam di Indonesia dan Negara Indonesia umumnya memang berbeda. Kita buukan Cina yang biasa hidup sendiri-sendiri. Indonesia itu karakternya ditakdirkan untuk berkoloni, bersosial, dan guyub rukun. Susah memang disuruh untuk tidak takziah, tidak kondangan, tidak pengajian, tidak tahlilan, tidak menolong, tidak bergerombol. memang sifat dasar kita selalu bersama.

Budaya: Strategi Dakwah Walisongo

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Bagi saya dan keluarga bergerombol di masjid itu hobi. Salat jamaah hanya alasan karena njagong (ngobrol) usai salat jauh lebih lama ketimbang durasi shalat dan dzikir. Masjid bukan saja tempat untuk salat tapi sekaligus untuk bergerombol bahkan tempat tidur paling nyaman.

Budayawan Umar Kayam dan Kuntowidjojo seperti bersepakat, bahawa tradisi ngumpul orang Jawa bukan sekedar kebiasaan, bahkan bisa dikatakan sudah menjadi semacam ritual yang tidak mungkin dipisah, dalam pandangan ini, seperti yang disampaikan Kanjeng Sunan Kalijogo kepada gurunya Kanjeng Sunan Ngampel bahwa orang Jawa tak mungkin dipisah dari tradisi sebagai pilar penyangga. Artinya Jawa jangan dipisah dari budayanya. Sebab memisah berati melawan. Orang Jawa bakal ‘mati’ tanpa budaya.

baca juga: Said Aqil & Ma’rifat Hasyim Asy’ari tentang Khilafah

Artinya budaya awalnya adalah ngumpul, njagong, kenduri, kondangan, baru kemudian diberi sentuhan ajaran Islam. Maka jadilah tahlilan, yasinan dan puluhan varian majelis lainnya. Disinilah  kecerdikan Kanjeng Sunan Kalijogo mendakwahkan Islam, yaitu tidak mengambil sikap antitesis terhadap budaya tapi mengilfitrasi dan menjadikanya sebagai media. Dan berhasil.

Islam Jawa Islam Jabbariyah

Dengan budaya ngumpul atau bergerombol maka amat sulit kemudian ketika ada upaya untuk merumahkan (stayhome, lockdown) sebagai pilihan memutus sebaran virus. Mana bisa dilarang tidak ngumpul orang yang punya kebiasaan skak (bermain catur), karambol, atau jaga ronda.

Dengan budaya seperti ini maka Jawa adalah masyarakat paling rentan terserang ‘pageblug’ atau ‘aratan’. Fahri Ali salah seorang peneliti LIPI lantas menyebut bahwa Islam yang masuk Indonesia adalah Islam yang sudah ‘terkalahkan’ dalam konteks teologis telah terpapar paham Jabary, yang diwujudkan dalam bentuk sikap ‘sumeleh’. Dalam bahasa Jawa ringkas bisa disebut: ‘tumbu oleh tutup’

Nerimo ing pandum juga bagian dari tradisi yang mengakar. Sebab itu, sekeras apapun bekerja, orang Jawa sebenarnya tidak punya etos kompetitif dan enggan bersaing. Tidak punya target, karena hidup ‘apa adanya’ jauh lebih menentramkan. Puncak spiritualitas Jawa adalah ‘sumeleh’ pasrah, atau menghamba dan itulah Islam dengan makna generik.

baca juga: Tauhid Yang Membebaskan Manusia

Kadang malah berperilaku paradoks—saat terjadi krisis moneter malah mantu besar-besaran, urunan bikin karnafal atau sedekah bumi. Jawa memang menarik dalam berbagai hal termasuk tradisi mangan ora mangan penting ngumpul (makan atau tidak makan tidak terlalu penting, yang penting adalah tetap berkumpul).

Jadi semoga pageblug corona segera lenyap diangkat dari bumi pertiwi berganti keberkahan dan karunia. Semoga pula Allah Gusti Kang Akarya Jagat (Yang Maha Menciptakan Alam Semesta) segera memberi pitulungan (pertolongan).

Terkait

Tags: budayaCoronajawalockdownTradisi
Previous Post

Tauhid Yang Membebaskan Manusia

Next Post

Pesan Buya Syafii Hadapi Covid-19

Nurbani Yusuf

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Next Post
Buya Syafii Maarif

Pesan Buya Syafii Hadapi Covid-19

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.