Said Aqil & Ma’rifat Hasyim Asy’ari tentang Khilafah

Pada tanggal 9 Februari 2020, Fakultas Pasca Sarjana Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia mengadakan Simposium Nasional Islam Nusantara dengan Tema “Islam Nusantara dan Tantangan Global”. Yang menjadi pemateri pada kesempatan itu adalah Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama.

Dalam simposium itu, Said Aqil bercerita bahwa pada abad 15 M – 17 M, Islam dipimpin oleh penguasa tunggal bernama khalifah di Turki. Namun khalifah ini, di akhir kekuasaannya sudah tidak sehat, karena semua wilayah Islam dikangkangi oleh penjajah. Inggris menjajah Irak, Mesir, dan Sudan. Prancis menjajah Suriah, Aljazair, Lebanon, dan Tunisia. Italia menjajah Libya. Dan seterusnya. Khalifah sudah tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan wilayah yang sangat luas ini.

Menurut Said Aqil, Kiai Hasyim Asy’ari sudah ma’rifat, sudah mengatakan bahwa nanti khilafah akan bubar, akan hilang. “Padahal ulama Arab belum ada yang berpikir seperti ini. Maka, buru-buru ia mengeluarkan jargon hubbul wathon minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman) kira-kira pada tahun 1916”, ujar Said Aqil.

baca juga: Dua Varian Islam dalam Isu Corona

Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa hubbul wathon minal iman ini merupakan ijtihad Hasyim Asy’ari, bukan dalil. Bahkan Hasyim Asy’ari mengatakan:

man mata li ajri wathonihi, mata syahidan. (Barangsiapa mati ketika membela negara, maka ia mati syahid)

Said Aqil: Upaya Mengembalikan Kedigdayaan Utsmani Gagal

Tahun 1924 M kekhalifahan Turki Utsmani runtuh, dibubarkan oleh seorang nasionalis sekular bernama Mushtofa Kemal Attaturk. Dia mendeklarasikan Republik Turki modern bercorak nasionalis sekular. Yang pertama dilakukan Attaturk, sebagaimana yang diceritakan oleh Said Aqil, adalah membubarkan Kementrian Agama.

Setelah itu, ia mengganti semua yang berbau Arab, seperti nama Muhammad diganti dengan Mehmed, Rajab diganti dengan Recep, Thayyib diganti dengan Tayyip. Adzan di beberapa kota dikumandangkan dengan bahasa Turki. Simbol-simbol khilafah dilarang. Kopiah hanya boleh digunakan didalam masjid.

Kemudian bagaimana dengan wilayah lain bekas kekuasaan Utsmani? Said Aqil mengatakan bahwa daerah lain diserahkan kepada kedaulatan rakyat masing-masing. Artinya, daerah lain ini dilepaskan dari Turki. Tahun 1925 M, beberapa ulama berkumpul di Al-Azhar, Kairo untuk mengembalikan konsep khilafah. Forum itu dihadiri oleh ulama-ulama dari India, Arab, Mesir, dan lain-lain. Mereka berdebat selama 2 hari 2 malam, membahas tentang apa saja kriteria khalifah, siapa yang mengesahkan khalifah, bagaimana cara memilih, dimana ibukota kekhalifahan, dan lain-lain.

“Akhirnya mereka ittafaqu ‘ala an laa yattafiqu (sepakat untuk tidak bersepakat), bubar jalan”, ujar Said Aqil. Pada tahun 1931 M, muncul ideolog Kristen Ortodoks, Michael Aflaq, mendirikan partai nasionalis sekular sosialis bernama Partai Ba’ath. Ia berasal dari Damaskus. Ia mendidik pemuda-pemuda Arab untuk melawan penjajah dengan semangat nasionalisme. Dari hasil didikan partai ini, di Iraq muncul Ahmed Hassan Al- Bakr, Saddam Husain, dan lain-lain. Di Mesir muncul Anwar Sadat, dan lain-lain.

Kemunculan Ikhwanul Muslimin & Upaya Menyelamatkan Timur Tengah

Orang-orang ini adalah kader-kader partai Ba’ath Nasionalis Sosialis Sekular, sehingga mereka bukan aktivis Islam. Mereka menolak agama diorganisir, karna agama yang diorganisisr dapat menyebabkan konflik. Baru setelah itu, aktivis-aktivis Islam di Timur Tengah baru sadar bahwa mereka membutuhkan partai. Lahirlah Ikhwanul Muslimin. Ikhwan (sebutan ringkas Ikhwanul Muslimin) didirikan oleh seorang ulama kelahiran Maroko yang tinggal di Mesir, Hassan Al-Banna. 

Said Aqil menyampaikan bahwa Hassan Al-Banna mengkader pemuda-pemuda dan membuat cabang partai di seluruh Timur Tengah. Partai ini berhaluan moderat dan toleran. Pada tahun 1942 M, ada seorang aktivis Ikhwan yang membunuh perdana Menteri Mesir. Melihat kejadian ini, Hassan Al-Banna marah. “bukan begitu yang saya maksud berjuang. Kamu bukan membunuh Perdana Menteri, kamu membunuh Ikhwan, kamu membunuh saya!” ujar Hassan.

Pada tahun 1944 M, Hassan Al-Banna terbunuh. Ia digantikan oleh Sayyid Quthb. Menurut Said Aqil, Quthb bukan ulama, namun seorang jurnalis dan ahli sastra. Ia menulis buku Ma’alim Fi Ath-Thoriq yang sangat terkenal di kalangan aktivis Tarbiyah di Indonesia. Buku ini berisi doktrin yang kurang lebih isinya menyatakan bahwa jahiliyah bukan kondisi masyarakat primitif, buta huruf, miskin, dan tertinggal.

Jahiliyyah menurut Quthb adalah an-nizam al-hukm ghoiro al-Islam (sistem politik selain Islam), yaitu komunisme, kapitalisme, sosialisme, dan nasionalisme. Singkat cerita, tahun 1965 M Ikhwan memberontak dan kemudian dibubarkan. Tokoh-tokohnya digantung, termasuk Quthb. Bubarnya Ikhwan tidak berarti hilangnya ideologi mereka.

Pada tahun 1969 M lahir jamaah at-takfir wa al-hijrah yang sedikit banyak meneruskan ideologi Ikhwan dengan lebih ekstrim. Pendirinya adalah mantan aktivis Ikhwan yang selamat, Syukri Ahmad Mushtofa. Gerakan ini memiliki ideologi yang menyatakan bahwa semua orang adalah kafir kecuali kelompok mereka. Di Indonesia, gerakan ini bermetamorfosa menjadi Anshoru Daulah yang dibawa oleh Amman Abdurrahman.

Urgensi Relasi Agama-Negara

Said Aqil kembali menceritakan tentang Hasyim Asy’ari. Hasyim Asy’ari mengatakan:

jangan sampai pasca khilfahah di Turki bubar, masyarakat Islam Jawi menjadi masyarakat sekular.

Hal ini karena hubungan agama dan negara bagi Hasyim Asy’ari sudah selesai. Dan konsep hubbul wathon minal iman yang dipopulerkan oleh Hasyim Asy’ari ini diamini oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah, tokoh-tokoh Al-Irsyad, dan tokoh-tokoh Islam yang lain pada waktu itu. Jadi, tidak bisa dipisahkan antara agama yang turun dari langit dengan budaya kreativitas manusia, dalam hal ini adalah nasionalisme.

baca juga: Hak Anak yang Diabaikan

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa di Timur Tengah konflik tak kunjung selesai? Said Aqil mengatakan bahwa salah satu faktornya adalah karena belum selesainya hubungan agama dan negara. Padahal mereka satu bangsa dan satu agama, namun terus-menerus berkonflik selama kurang lebih 40 tahun, mengorbankan 1,5 juta nyawa.

Sayangnya, ada kelompok-kelompok kecil yang membawa pemikiran dari Timur Tengah ke Indonesia. Mereka ingin melakukan arabisasi, sehingga setiap hari bicara teologi dan mengatakan bahwa bumi pertiwi itu adalah musyrik, menyanyikan lagi Padamu Negeri musyrik, menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak perlu berdiri, hormat kepada sang saka Merah Putih juga musyrik.

reporter: Yusuf R Yanuri

What's your reaction?
2So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment