Di Surabaya umat Islam ingin saleh sekaligus kaya. Di Jogja hijrah menjadi tren—beragama memunggungi dunia dan seisinya—Dua titik sentral: Surabaya dan Jogja—Surabaya dikenal metropolis. Dinamis dan tumbuh melesat, sedang Jogja kokoh sebagai episentrum Jawa. Tertata berwibawa dan kental mistis meski dihuni banyak pelajar dan kalangan terdidik.
Mungkin saja keduanya menampilkan corak mainstream yang dianutinya. Pikiran dan harapan ke depan. Termasuk mainstream beragama yang mereka suguhkan dalam konteks aksiologisnya. Meski dalam bentuk indikator yang sangat limit tapi mencukupi sebagai bahan bincang.
Martin van Bruinessen yang baru-baru ini berkunjung ke Surabaya dan Yogyakarta. Ia menyaksikan gejala menarik tentang tema-tema buku Islam yang dipajang di toko-toko buku besar semacam Gramedia.
Dalam pengamatannya, di Surabaya tema yang tampaknya sedang naik pasar adalah tentang bagaimana menjadi saleh sekaligus kaya, menyambut berkah rezeki dengan bangun pagi, menjalankan bisnis dengan meniru Rasul, mengamalkan zikir anti -miskin dengan membaca surat Waqiáh- pokoknya menjadi kaya sambil beragama. Tema ini laku keras atau setidaknya dipajangkan gila-gilaan di Surabaya.
***
Sementara itu, tema yang gencar dijual di Jogja adalah tentang hijrah, yakni bagaimana beragama dengan membelakangi dunia, memunggungi harta-benda. Ini bertolak belakang dengan yang terjadi di Surabaya. Mengapa demikian? Martin seperti menyerahkan jawabannya kepada pembaca.
Yang pasti adalah bahwa buku-buku Islam makin didominasi oleh penulis-penulis bergaya ustadz. Literasi Islam seperti perpanjangan dari orasi-orasi panggung, dengan tema-tema populer, dan berubah-ubah sesuai selera jamaah.
baca juga Betulkah Manusia dan Alam Semesta itu Berpadu?
Yang pasti juga, telah menghilang topik-topik tentang pembaruan pemikiran Islam, gagasan-gagasan reformasi keagamaan dan sejenisnya. Seperti yang muncul pada dekade 1980an/1990an. Ini juga pertanyaan penting yang belum digali jawabannya.
Pikiran-pikiran besar pembaharuan Islam sudah semakin langka sebab para ulama digeser kebutuhan pasar—jamaah (umat Islam) tak lagi mau berpikir berat, tak suka menyimak apalagi membaca buku buku teks yang berat. Tak urung Gus Baha pun merisaukan itu—tradisi turats di pesantren pesantren NU juga mengalami gejala kurang lebih sama. Di perguruan tinggi sudah lama terjadi, gedung perputakaan besar sepi pengunjung tanyakan saja pada petugas pencatat, buku apa yang para pengunjung baca.
***
Banyak paradoks—cendekiawan Islam makin tenggelam, ulama-ulama yang mempertahankan kitab, kalah di pasaran, dianggap kuno dan tidak sesuai selera pasar. Kalah riuh dengan mubaligh puritan tapi trendi— dengan pengetahuan agama sepotong-sepotong yang diikuti banyak followers. Makin fanatik dan ghirah tinggi meski kadang lucu.
Jika disebut bahwa sejarah bakal berualang—belum ada kepastian model yang mana sebagai rujukan. Memang masih samar apakah pasar harus mengikuti ulama untuk mendapatkan keberkahan ilmu atau sebaliknya ulama yang mengikuti selera pasar agar eksistensi dan jumlah folowersnya tetap terjaga.
baca juga Pasca “Kematian Tuhan”
Mungkin ini semacam dialektik antara patron dan klien saling berpasangan untuk tujuan yang mungkin saja absurd—atau agama telah berubah menjadi industri yang tunduk pada permintaan dan kebutuhan. Entahlah kita mau jadi yang mana —Von Bruinessen mengakhiri kalimatnya dengan argumennya yang pendek tapi memikat:
The apparent popularity of the “get rich by doing your Islamic devotions” literature suggests that the targeted audience is believed to take a quite materialistic, instrumentalist view of Islamic piety.
Sumber Ilustrasi: winnetnews.com