Betulkah Manusia dan Alam Semesta itu Berpadu?

Jika di antara kita ada yang betanya-tanya, mengapa Al-Qur’an menggunakan dialog yang menyentuh perasaan dan emosi bahkan mengeksplorasi akal. Dan bahkan pengalaman yang mampu mengalirkan air mata dan menimbulkan getaran hati. Ketika semuanya diungkapkan secara berulang-ulang, apa spesial tentang pengulangan ayat yang menyentuh diri dan alam semesta?

Semisal di Surah Ar-Rahman, Al-Mursalat, Al-Qamar, dan seterusnya. Sesungguhnya, pengulangan gambaran manusia dan alam semesta melalui ayat Kauniah-Nya secara variatif dalam berbagai kondisi.

Tidak hanya mengenalkan aspek kekuasaan-Nya kepada manusia atau untuk dikompetisikan dengan ayat-ayat di Kitab suci yang lain. Agar keunggulan Al-Qur’an lewat logikanya dapat dipertahankan. Kemampuan argumentasinya mampu mengalahkan logika yang lain atau hanya sekedar untuk melatih akal manusia melalui hafalan dan pemahamanya.

Lebih dari itu, pengulangan tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan tersebut menjadi gerak pikiran dan perasaan yang kemudian berkembang menjadi kekuatan yang mendorong realisasi dalam dunia realitas.

Tegasnya agar manusia mewujudkan penghambaan kepada Allah Swt. Ia yang tidak menjadikan alam semesta yang  mengagumkan ini kecuali untuk manusia yang belum tersentuh kepada Allah Swt.

Ayat-ayat Semesta

Sayyid Qutub mengungkapkan, penyajian ayat-ayat tentang alam semesta agar umat manusia kembali kepada Allah. Dan kepada ketinggian dan kemuliaan dalam hidup yang sejalan dengan kemuliaan yang ditetapkan Allah. Bagi manusia dalam suatu periode sejarah agar gambaran tersebut menjadi sebuah kenyataan.

Hal itu akan tergambar pada suatu umat yang akan memimpin umat manusia lain menuju kebaikan, kemaslahatan dan perkembangan kemuliaan. Manusia akan menyaksikan realitas sebagai bahan perenungan secara tabiat psikologis dan fitrah keyakinan manusia.

Jika seorang manusia merenungkan firman Allah dia akan menemukan bahwa Al-Qur’an menjadikan dirinya sebagai obyek perenungan, sehingga dia mampu melihat bagaimana Allah menciptakan dirinya dari segumpal darah. Kemudian mengajarinya membaca, menulis dan mengeksplorasi semesta.

Islam menampilkan menusia sesuai dengan hakikatnya, menjelaskan asal-usul, keistimewaan, tugas, hubungannya dengan alam semesta. Atau kesiapa untuk menerima kebaikan dan keburukan dari lingkungan. Hakikat manusia bersumber dari dua asal. Pertama, ashal al-ba’id (asal yang jauh), yaitu penciptaan pertama dari tanah dan kemudian Allah menyempurnakan dan meniupkan kepadanya sebagian ruh-Nya.

Kedua, ashal al-qarib (asal yang dekat), yaitu penciptaan manusia dari nutfah (Q.S As-Sajdah 7-9). Al-Qur’an mengarahkan pandangan manusia pada kehinaan (congkak dan lemah) dan juga makhluk yang mulia, istimewa dan terpilih.

Keadaan natural seperti inilah yang menjadikan manusia adalah makhluk terdidik. Satu-satunya makhluk yang dibekali dengan kemampuan untuk belajar dan berpengetahuan.

Manusia Makhluk Berpengetahuan

Al-Maududi mengatakan: “pendengaran merupakan pemeliharaan pengetahuan yang diperoleh dari orang lain. Dan penglihatan merupakan pengembangan pengetahuan dengan hasil observasi dan penelitian yang berkaitan denganya. Hati merupakan sarana membersihkan ilmu pengetahuan dari kotoran dan noda sehingga lahirlah ilmu pengetahuan yang murni”.

Jika ketiga pengetahuan itu dipadukan, terciptalah ilmu pengetahuan yang sesuai dengan apa yang dikaruniakan Allah Swt kepada manusia. Hanya dengan pengetahuan itulah manusia mampu mengatasi dan menundukkan makhluk lain agar tunduk pada kehendak-Nya. Ini hanya dimiliki oleh makhluk yang berpendidikan yaitu manusia.

Islam bukan hanya mengunggulkan, memuliakan, dan mengistimewakan manusia atas makhluk lainya. Beriringan dengan itu, sesungguhnya Islampun memberikan tanggung-jawab yang begitu berat dengan beban penerapan nilai-nilai Islam dan tugas penghambaan kepada-Nya. Karena makhluk lain tak mampu memikul beban tersebut.

Rasa tanggung jawab itu akan terpelihara di dalam diri manusia yang sadar, ingat, adil, jauh dari penyelewengan. Tidak tunduk pada hawa nafsu, jauh dari kedzaliman dan kesesatan, serta istiqamah dalam segala perilaku. Implikasi seluruh tanggung jawab manusia ini berakumulasi hanya untuk beribadah. Dan mengesakan Allah sebagai tugas dan tanggung jawab tertinggi manusia.

Dalam Islam, pandangan terhadap alam semesta bukan hanya berdasarkan akal semata. Alam semesta difungsikan untuk menggerakkan emosi dan perasaan manusia terhadap keagungan Al-Khaliq. Alam semesta diciptakan untuk satu tujuan berdasarkan Q.S. Ad-Dukhan; 38-39 dan Q.S. Al-Ahqaf: 3 yakni sebagai renungan logis ilmiah.

Bukti Penciptaan: Logis dan Ilmiah

Dengan berbagai fenomena semesta melalui cara yang serius, tidak main-main, tidak senda gurau dan kesia-siaan. Bahwa semesta ini adalah perenungan yang logis dan ilmiah. Tunduknya alam semesta adalah takdir Allah.

Peredaran matahari dan bulan pada garis edarnya tidak akan menyimpang dan tidak akan terjadi beda musim. Masing-masing berjalan menurut sunnah kauniah yang selaras dengan ketetapa-Nya.

Pandangan Al-Qur’an tentang alam semesta memiliki dua prinsip ilmiah yang melengkapi aspek pasivisme, finalitas dan logika. Dua prinsip itu, pertama berulangnya berbagai kejadian semesta melalui sunnah yang ditetapkan Allah. Dia yang maha agung dan maha tinggi berkuasa mengubah sunnah itu jika Dia berkehendak.

Kedua, sesungguhnya sunnah-sunnah semesta dengan segala kejadian, fenomena dan wujudnya, mulai dari yang berupa atom hingga yang terbesar merupakan ciptaan Allah yang diturunkan sesuai dengan kadarnya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Allah adalah penata semesta yang dengan kekuatan-Nya. Dia menjalankan dan mengatur semesta sebagaimana ditegaskan dalam Firman-Nya “Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya” (Q.S. Al-Hajj: 65).

***

Agar hidup manusia teratur, Allah telah memberikan sunnatullah untuk manusia. Dengan sunnah itu Allah berhak membinasakan umat, mengazab umat, menetapkan ajal dan mengubah qada dan qadar. Keistimewaan dalam Islam melalui pengarahan manusia telah diberi kekuasaan oleh Allah untuk mengelola alam semesta.

Islam mengamanatkan manusia untuk memanfaatkan segala potensi alam semesta ini. Yang jelas, Allah telah menakhlukan alam semesta ini untuk manusia. Mulai dari yang paling kecil hingga yang tak terjangkau oleh akal manusia.

Dilihat dari segi konsepsi, Islam telah mendidik manusia dalam pemanfaatan alam semesta melalui cara yang baik dan tidak melampaui batas. Dengan kata lain, pemanfaatan itu tidak dzalim dan dusta. Melalui konsep Islam manusia diperintahkan untuk memanfaatkan alam semesta sesuai dengan perintah dan batasan tertentu.

Allah tidak mentoleransi kezaliman dan permusuhan, bahkan Dia menyerukan agar manusia saling mengasihi dan menyayangi. Agar manusia menjadi manusia yang bertanggung jawab. Sebagai misinya Islam rahmatan lil ‘alamin.

Sumber Ilustrasi: dialogilmu.com

What's your reaction?
8So Happy1Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment