Oleh: Rifky Maulana
Imam al-Ghazali yang dikenal di kalangan mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai Hujjatul Islam (yang berarti pembela Islam), lahir di kota kecil yang terletak di dekat kota Thus provinsi khurasan, Republik Islam Iran (kini wilayahnya bernama masyhad), pada tahun 450 H/1058 M. Ia di kenal sebagai tokoh tasawuf dengan karya-karyanya yang monumental. Hidup di masa dinasti kaum Saljuk, yang saat itu kawasannya meliputi seluruh kawasan iran dan sebagian wilayah Anatolia (Turki).
Imam al-Ghazali lahir dari keluarga pecinta ilmu. Ayahnya, Muhammad al-Ghazali adalah seorang yang taat beribadah, cinta ilmu pengetahuan dan juga seorang sufi di zamannya. Al-Ghazali memiliki kakak laki-laki yang bernama Ahmad al-Ghazali, yang juga seorang alim dan taat beragama. Namun, di balik semangat dan cinta mereka terhadap ilmu, kondisi ekonomi mereka tak sebaik semangat mereka belajar.
Hal itu yang membuat ayah mereka menitipkannya pada seorang sufi yang juga sahabat ayah mereka untuk belajar ilmu-ilmu agama. Pada tahap ini, Al-Ghazali ditempa oleh sang sufi yang mendidiknya dengan keteladanan akhlaq, mengajarinya bahasa Arab dan Persia, juga membaca Al-Quran.
Pengembaraan Intelektual
Besarnya rasa cinta sang Ayah pada kedua anaknya, hingga ia pun mewasiatkan sedikit hartanya seraya berpesan pada sang sufi, “Aku menyesal sekali karena tidak belajar menulis. Aku berharap kelak kemampuan itu ada pada putraku ini”. Tak lama berselang, sang ayahpun meninggal dunia.
Al-Ghazali hidup dalam kemiskinan karena harta peninggalan ayahnya habis untuk biaya menimba ilmu. Akhirnya, guru mereka, yang juga karena keterbatasan ekonominya, menyarankan keduanya untuk melanjutkan belajar ke sebuah sekolah di kotanya. Mereka beruntung karena sekolah yang disarankan guru mereka ini tidak dipungut biaya.
Pada usia sekitar 7 tahun, al-Ghazali berguru pada salah seorang Ulama terkemuka di kota Thus-Iran, Ahmad Ibn Muhammad al-Radzakani atau yang dikenal dengan Imam al-Radzakani. Padanya Al-Ghazali mempelajari ilmu fiqih, tafsir dan hadits.
Mengembara Ke Jurjan
Belum puas dengan ilmu yang dimiliki, 8 tahun kemudian atau sekitar umur 15 tahun, Al-Ghazali mengembara demi memperdalam ilmu fiqihnya ke kota Jurjan (Kini terletak di Provinsi Golestan-Iran) yang berjarak 160 km dari kota Thus. Di sana Al-Ghazali berguru pada Abu Nashr Ismai’li sealama lima tahun.
Baca Juga: Agar Tidak “Ekstrim Jabariyah dan Ekstrim Qadariyah” dalam Menghadapi Corona
Pengembaraan ilmu Al-Ghazali tidak cukup sampai di Jurjan, pada usia 23 tahun ia bertolak ke Nisyapur. Al-Ghazali menjadi murid Abu al-Ma’ali al-Juwaini atau Imam al-Haramain, seorang ulama terkemuka yang menjabat sebagai Kepala Madrasah Nizhamiyyah di kota Baghdad-Irak.
Darinyalah Al-Ghazali menimba berbagai macam ilmu seperti ushul fiqh, manthiq (logika), kalam (teologi), filsafat dan juga tasawuf. Pada masa ini pula, di samping mempelajari filsafat, Al-Ghazali juga mempelajari praktik dan metode sufi kepada seorang guru yang bernama Al-Farmadzi.
Kecerdasan Logika Imam Al-Ghazali
Rupanya sebagai seorang yang tekun dalam menuntut ilmu serta berdialog, Mujadalah (retorika perdebatan). Al-Ghazali melibatkan diri dalam perdebatan yang sering dilakukan dengan para Ulama terkemuka, hingga tak jarang mengalahkan mereka dengan mematahkan argumentasi-argumentasinya.
Dengan kemampuan tersebut, banyak diantara ulama pada saat itu tak segan-segan mengakui kehebatan intelektual Al-Ghazali. Dengan kecemerlangan berfikirnya, serta karena ilmu Manthiq yang dikuasainya, akhirnya membuat nama Al-Ghazali masyhur di kawasan Dinasti Saljuk.
Karena bakat intelektual Al-Ghazali yang mencolok, akhirnya terlihat oleh wazir Nizam al-Mulk yang pada saat itu diberi kepercayaan oleh Sultan Saljuk sebagai Khalifah Abbasyiah di Baghdad. Akhirnya pada tahun 484 H/1091 M. Al-Ghazali diangkat sang wazir sebagai guru besar di Nizhamiyyah. Al-Ghazali menjabat sebagai guru besar selama 4 tahun lamanya.
Pada usia 33 tahun ia mendapatkan salah satu kedudukan yang sangat istimewa di dunia akademis. Periode ini menandai suatu tingkat yang menentukan dalam hidupnya. Sebab universitas memberinya fasilitas yang sangat menguntungkan untuk mengembangkan dan menyinari kepribadiannya.
Al-Ghazali adalah seorang ulama yang kritis terhadap berbagai pemikiran, hal ini karena pada zamannya banyak berkembang golongan-golongan dengan berbagai pemahaman. Sehinnga ia harus berhati-hati dan memilah mana yang harus dijadikan pegangan.
Berbagai golongan pemahaman yang timbul itu lantas tidak membuat Al-Ghazali anti terhadap perbedaan, justru ia berupaya mencari kebenaran dengan menyelami satu-persatu ajarannya.
Imam Al-Ghazali dalam Pencarian
Sebagaimana manusia pada umumnya, Al-Ghazali juga mengalami masa-masa perjalanan spiritual. Kegalauan yang luar biasa pernah menghampiri hidupnnya dalam mencari jati diri.Al-Ghazali mengalami rihlah thalabul ilmi yang panjang dan pastinya melelahkan. Barangkali, hal yang menimpa Al-Ghazali ini belum tentu sanggup untuk kita jalani. Karena hampir semua bidang ilmu pengetahuan Islam ia lalui dengan berbagai perdebatan. Sebagaimana ia ungkapkan dalam otobiografi spiritualnya, Al-Munqidz min Ad-Dhalal:
“Sebelum meningkat ke umur 20 tahun hingga kini, dimana umurku sudah lebih 50 tahun, aku telah mengarungi samudera yang luas dan dalam. Dengan keberanian yang tiada taranya. Setiap kepercayaan dari berbagai golongan aku selidiki. Aku mencoba menyelami kepercayaan masing-masing golongan agama sedalam-dalamnya sampai ke rahasia hati mereka.
Semua itu aku lakukan semata-mata terdorong untuk menarik suatu perbandingan antara yang haq dan yang bathil, yang sunnah dan yang bid’ah. Maka tatkala aku bertemu dengan kaum kebatinan (bathiniyyah), akupun tertarik untuk menyelidiki kebatinan itu. Dmikian pula ketika aku bertemu kaum lahir (dzahiriyyah), akupun tertarik untuk menyelidiki apa sesungguhnya yang dianut oleh mereka itu, dan apa ajaran yang dimilikinya.
Apabila mereka itu dari golongan filsafat, maka aku salami pula apa hakikat kefilsafatan mereka. Begitupun ketika aku bertemu dengan orang dari golongan ilmu kalam (teologi), maka aku uji dan selidiki pokok-pokok pemahamannya. Demikian pula apabila yang aku temui golongan ahli tasawuf, maka aku jangkau inti dan rahasia-rahasia kesufiannya itu.
Baca Juga: Kisah Nabi Musa Sebagai Titik Temu “Tiga Agama Ibrahim”
Apabila aku bertemu dengan golongan ahli ibadah (muta’abbid), aku tidak tinggal diam. Melainkan aku pegang dasar-dasar praktek peribadahannya. Manakala aku bertemu dengan golongan zanadiqah dan mu’athilah (kafir atau atheis), maka aku pun mencoba memeriksa apa saja sebab-sebab juga latar belakang yang menjadi pegangan mereka itu.”
Terjadi Pergolakan Batin
Setelah sukses menjadi orang yang mapan secara ekonomi dan intelektual, pertanyaan muncul dalam benaknya, mengapa selama ini ia disibukkan dengan mengajar ilmu dan perdebatan ilmiah yang hanya mengundang kesombongan. Lambat laun ia mengakui, bahwa aktivitasnya itu sangat mungkin disalahfahami oleh banyak orang.
Orang lain bisa saja menganggap kesibukan dirinya dalam berkarir di Madrasah adalah untuk kemasyhuran dan menaikan citra politik, sehingga menarik hati para penguasa. Akhirnya, kondisi ini membuatnya sadar, bahwa dirinya sudah terlalu jauh sibuk dalam kegiatan duniawi, “wa anni qod asyfaytu ‘alan nar (sesungguhnya aku hampr saja terjatuh dalam neraka)”, demikian ungkapannya.
Pada titik ini, ia menyadari bahwa tugas manusia yang paling penting adalah menghindari neraka dan memperoleh surga. Namun, ia sangat menyadari bahwa saat itu hidupnya terlalu duniawi untuk mengharapkan pahala keabadian.
Batinnya mengalami pergolakan yang luar biasa antara memilih kemegahan duniawai atau kekekalan ukhrawi. Sehinga pada suatu kejadian, saat Al-Ghazali ingin memberikan kuliah pada murid-muridnya tiba-tiba lidahnya kelu dan tak sanggup berucap walau sepatah kata.
Sejak saat itu, Al-Ghazali selalu dirundung kesedihan, hal ini berakibat pada jasmaninya hingga dayanya untuk mengunyah makanan dan minuman air sangat lemah. Akhirnya hilanglah nafsu makan dan minumnya. Keadaannya membuat ia harus berkonsultasi pada tabib (dokter). Sang tabib memahami bahwa penyakit yang diderita Al-Ghazali tak bisa diobati dengan obat-obatan fisik, melainkan harus diobati secara batiniyah.
Tabib itu berkata padanya, “kesukaran penyakit ini datangnya dari dalam hati anda sendiri. Dari hati itu kemudian menyebar dan menyelinap ke seluruh jiwa, satu-satunya jalan untuk mengobatinya adalah anda harus menenangkan juga meredam keraguan yang menjangkiti hati itu.”
Dari Akademisi Menjadi Seorang Sufi
Sejak itu al-Ghazali memantapkan diri untuk menempuh jalan sufi. Akhirnya, ia menyingkir dari kursi kebesaran akademisnya dan pergi meninggalkan Baghdad menuju Syiria untuk bertafakkur. Pada tahap ini Al-Ghazali telah berpindah dari pengembaraan intelektual ke pengembaraan spiritual. Pengembaraan spiritualnya meliputi Syiria, Palestina, Mekkah dan Madinah hingga ia pulang ke tanah kelahirannya. Perjalanan spiritualnya itu memakan waktu hingga sepuluh tahun.
Sepulangnya dari pengembaraan, Al-Ghazali masih tetap melakukan khalwat di rumahnya, jalan sufi makin sempurna dalam kehidupannya. Al-Ghazali sadar bahwa selain menempuh hidup dengan jalan sufi, ia juga tak boleh membiarkan dirinya tidak mengajarkan ilmu. Akhirnya ia mendirikan sebuah perguruan tinggi di samping rumahnya dan tempat tarekat bagi kaum sufi.
Baca Juga: Membumikan Budaya Literasi: Bergerak dan Menghampiri
Al-Ghazali kembali mengajar, namun kegoncangan hati yang dulu sempat menimpa batinnya kini telah hilang dan terobati oleh jalan sufinya. Ia juga makin produktif dengan menulis karya-karya sufistik. Nampaknya ini menandakan bahwa Al-Ghazali bukanlah seorang sufi murni ataupun filusuf murni tapi dia melampaui keduanya. Dimana ia belajar dalam pengembaraannya menggunakan rasionya tapi juga mengasah batinnya. Ia lebih tepat disebut sebagai seorang rasional sufi, ataupun sufistik-rasional.
Perjalanan hidup Imam al-Ghazali menyiratkan bahwa sebagai seorang penuntut ilmu, jangan terlalu cepat merasa puas dengan ilmu yang sudah dicapai. Bahkan ia mencontohkan untuk mempelajari bidang ilmu tertentu terlebih dahulu sebelum menilainya.
Di samping itu, keutamaan mengasah akal dan memperkaya ilmu juga harus dibarengi dengan penyucian jiwa, agar tidak timbul kesombongan dalam hati. Sebagaimana imam Al-Ghazali yang dirinya berangkat dari seorang intelektualisme, tapi juga melengkapinya dengan spiritualisme.
Sumber Ilustrasi: tongkronganislami.co