Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Agar Tidak “Ekstrim Jabariyah dan Ekstrim Qadariyah” dalam Menghadapi Corona

Agusliadi by Agusliadi
Maret 29, 2020
in Narasi
0
Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar UGM oleh Kuntowijoyo: Periodisasi Sejarah Kesadaran Keagamaan Umat Islam Indonesia: Mitos, Ideologi, dan Ilmu

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar UGM oleh Kuntowijoyo: Periodisasi Sejarah Kesadaran Keagamaan Umat Islam Indonesia: Mitos, Ideologi, dan Ilmu

41
SHARES
241
VIEWS

Manusia adalah khalifah di muka bumi. Namun titah Allah ini sebagaimana Q.S. Al-Baqarah: 30 menimbulkan keraguan bagi Malaikat. Kesangsian Malaikat, mungkin saja karena ada referensi atau preseden historis tentang jenis atau spesies manusia sebelum Adam yang menjadi antitesa dari khalifah.

Mandat Khalifah bagi manusia di muka bumi bukanlah berdasarkan seleksi alam sebagaimana teori Darwin. Manusia diutus ke muka bumi yang sebelumnya transit di surga (Adam dan Hawa) bukan tanpa alasan. Namun membawa kelebihan dan sekaligus menjadi kekuatan baginya.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Eko Prasetyo dengan tafsir progresifnya dalam buku karyanya: Kitab Pembebasan Tafsir Progresif atas Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an (2013) mengulas secara menarik dan menakjubkan. Di dalamnya, saya menemukan bagaimana memahami kekhalifahan itu dalam perspektif yang relevan dalam konteks kontemporer hari ini.

Mandat Kosmis

Manusia memiliki kelebihan dan kekuatan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain sehingga layak menerima mandat khalifah atau mandat kosmis. Manusia dibekali akal, dan pengetahuan. Bahkan pengajaran yang Allah berikan kepada Adam adalah pengetahuan ihwal segala sesuatu. Yang dalam istilah Al-Qur’an disebut al-asma kullaha, Q.S.Al-Baqarah:31.

Manusia diberikan wahyu yang terlembagakan dalam bentuk agama. Sebagaimana dalam pandangan Asratilah (2014), dengan agama manusia akan mampu membaca makna yang tidak terbatas (infinitum meaning). Ia memahami posisi dirinya dalam kosmos dan mengingatkan relasi antara manusia dan dunia yang profan dengan sesuatu yang transenden.

Selain itu manusia juga diberikan kehendak bebas oleh Allah meskipun kebebasan yang dimiliki bukanlah kebebasan mutlak. Kita memahaminya dengan adanya larangan bagi Adam dan istrinya di surga untuk tidak mendekati pohon atau “buah khuldi”.

Modal Teologis dan Psikologis Manusia

Ruh ilahiah, pengetahuan, kehendak bebas dan agama adalah modal teologis manusia dalam mengarungi kehidupan di muka bumi sebagai hamba Allah sekaligus, menjalankan mandat kosmis sebagai khalifah.

Selain daripada itu ––jika meminjam istilah Asratillah dalam menjalani kehidupan manusia bukan hanya hidup dalam konteks vegetatif (nutritive, reproduksi dan tumbuh) maupun hidup dalam konteks animalia (instingtif, sensasional dan mobile)–– bagi saya manusia juga dalam dirinya telah built-in modal psikologis.

Baca Juga: Hikmah dan Resep Mengisi Waktu Ketika “di Rumah Aja”

Modal psikologis yang saya maksudkan antara lain adalah bahwa dalam diri manusia ada kekuatan pikiran dan perasaan, frekuensi otak, mekanisme on-off DNA. Dan kekuatan alam bawah sadar yang memiliki pengaruh dan dapat menentukan seperti apa kehidupan yang sedang dirasakan dan akan dirasakan.

Modal psikologis ini dan hukum-hukumnya yang berlaku di dalam mikrokosmis (diri manusia) memiliki relasi dan korelasi positif dengan hukum alam yang berlaku di makrokosmos. Dan ini adalah satu kesatuan sunnatullah.

Covid-19: Bencana Kemanusiaan

Virus Corona yang juga dikenal dengan sebutan Covid-19 telah menjadi pandemic global, bencana kemanusiaan yang menimbulkan dampak dahsyat dalam kehidupan manusia. Wabah ini telah menelan korban jiwa (meninggal) ribuan orang untuk skala global dan untuk skala Indonesia sebanyak 78 orang per tanggal 26/3 versi https://m.cnnindonesia.com.

Berbagai kebijakan telah dikeluarkan, khususnya oleh pemerintah Indonesia dalam bentuk penanggulangan dan pencegahan secara medis. Termasuk pencegahan berdimensi kebijakan dan sosial. Yang diikuti himbauan dari berbagai lembaga dan ormas, di antaranya social distancing, Work From Home, memindahkan ruang belajar ke rumah, terakhir physical distancing.

Dalam tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa manusia yang hidup dalam jarring-jaring makna, tidak boleh melupakan bahwa dalam dirinya bersama eksistensinya dalam kehidupan dunia telah built-in modal teologis dan psikologis.

Solusi Terhadap “Ekstrim Jabariyah” dan “Ekstrim Qadariyah”

Kedua modal ini: modal teologis dan modal psikologis sangat dibutuhkan dalam mengarungi kehidupan termasuk dalam menghadapi Covid-19. Modal teologis selain bisa berdiri sendiri sebagai modal kehidupan. Juga bisa menjadi pemantik energi untuk semakin memperkuat dan/atau membangkitkan modal psikologis.

Wabah Covid-19 bukan hanya memberikan dampak biologis pada diri manusia tetapi yang paling terasa bagi masyarakat adalah dampak psikologis. Memunculkan kepanikan dahsyat, perilaku irrasional dan abnormal. Dari dimensi inilah modal teologis dan psikologis tersebut menemukan ruang urgensi dan relevansi-nya dalam penanggulangan dan pencegahan covid-19.

Modal teologis: dengan pengetahuan yang berdasarkan akal sehat (rasional dan logis). Dan kesadaran relasi kehidupan profan dan transenden akan melahirkan sikap yang tidak “ekstrim jabariyah” dan tidak pula “ekstrim qadariyah” dalam menyikapi wabah Covid-19. Mampu menyatukan antara pikir dan dzikir. Mengintegrasikan akal sehat dan hati suci.

Dengan modal teologis pula, maka wabah ini akan menjadi jalan untuk memantik kesadaran akan keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki manusia. Tidak ada jalan untuk menyombongkan diri dan terbukti makhluk kecilpun (sejenis corona) telah membuat manusia terpapar dan terkapar tidak mempu melakukan aktivitas sehari-hari.

Mencegah dan Melawan Covid-19

Selain modal teologis, modal psikologis penting menjadi perhatian dalam upaya menghadapi wabah Covid-19. Dalam era digital hari ini, informasi mengalir begitu deras, bukan hanya informasi positif terkait corona tetapi termasuk informasi negatif dan hoax. Tak sedikit informasi negatif dan hoax. Ada yang menggerogoti modal teologis manusia, menggerogoti keimanan kepada Allah tanpa kecuali menggerogoti modal psikologis itu sendiri.

Dalam hukum Law of Attraction (LoA), Law of Spiritual Attraction (LoSA) sebagaimana digambarkan oleh Priatno H. Martokoesoemo (2008) bisa disimpulkan bahwa pikiran dan emosi itu bisa mempengaruhi apa yang ada di luar diri kita. Dalam kesimpulan riset Robert Brenda pikiran dan emosi bahkan bisa mempengaruhi mesin elektronik apalagi relasi lainnya.

Baca Juga: “Nikmat Aman” yang Kadang Terlupakan

Dari satu modal psikologis ini bisa memberikan gambaran bahwa pikiran dan emosi bisa menjadi pemantik atas dampak Corona terhadap diri. Dr. Ibrahim Elfiky, ––penulis buku Internationl Bestseller Terapi Berpikir Positif –– mengatakan bahwa sesuatu datang ke dalam diri kita tanpa bertanya terlebih dahulu apakah anda suka atau tidak. Tetapi sesuatu datang berdasarkan apa yang paling sering kita pikirkan. Di sinilah pula relevansinya “segala sesuatu tergantung daripada niat”.

Mekanisme Pertahanan DNA

Dalam diri kita ada DNA yang dalam sains modern tidak lagi dilihat hanya dalam perspektif biologis dan material tetapi di dalamnya terdapat informasi dan di dalamnya berlaku mekanisme on/off DNA. Dalam mekanisme tersebut kita bisa menciptakan imunitas dalam tubuh dengan meng-On-kan DNA positif dan tentunya bermanfaat sebagai pencegahan Covid-19.

Dan sebaliknya bisa saja terjadi proses meng-off-kan DNA positif sehingga imunitas kita semakin lemah dan memudahkan Covid-19 menular dalam tubuh. Mekanisme on-off DNA Positif sangat dipengaruhi oleh pikiran positif, suasana hati dan lingkungan. Do’a mampu memantik pikiran positif dan suasana hati  (Q.S. Ar-Ra’d: 28) sehingga memberikan dampak lanjutan untuk meng-On-kan DNA Positif untuk imunitas tubuh.

Dari gambaran sederhana ini pula sehingga kita sebaiknya bersikap bijak dan cerdas dalam mengshare informasi Covid-19 di media sosial untuk menjaga dan memperkuat modal psikologis. Dalam pandangan saya, bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah, begitupun himbauan beberapa lembaga dan ormas yang substansinya terkait Social Distancing relevan dengan modal teologis dan modal psikologis untuk kita perhatikan.

Penulis merupakan Komisioner KPU Bantaeng-Sulawesi Selatan

Terkait

Tags: Bencana KemanusiaanCoronaModal PsikologisModal Teologis
Previous Post

Hikmah dan Resep Mengisi Waktu Ketika “di Rumah Aja”

Next Post

Bala: Siksaan atau Kenikmatan?

Agusliadi

Agusliadi

Next Post
Hatib, covid-19 adalah bala dari Allah

Bala: Siksaan atau Kenikmatan?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.