Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Filosofi Teras: Seni Mengendalikan Diri dan Menemukan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian Zaman

Hasna Sarah Nur Rofiah by Hasna Sarah Nur Rofiah
April 13, 2026
in Esai, Filsafat, Narasi
0
Filosofi Teras: Seni Mengendalikan Diri dan Menemukan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian Zaman
15
SHARES
89
VIEWS

Oleh: Hasna Sarah Nur Rofiah

Halaman pertama buku filosofi teras diawali  dengan sebuah ungkapan  “If you live according to what others think, you will never be reach“-seneca (Letters). Ungkapan ini mengandung pesan filosofis yang kuat, bahwa kehidupan yang terlalu bergantung pada penilaian orang lain akan menjauhkan seseorang dari makna kekayaan sejati. Kekayaan dalam hal ini tidak semata mata bersifat material, melainkan juga mencakup kebebasan batin, ketenangan pikiran, dan kemampuan untuk hidup sesuai dengan nilai nilai diri sendiri.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Namun, realitas kehidupan di tengah ketidakpastian sosial media, banjir informasi dari berita local maupun global, serta standar hidup yang seolah terus meningkat, sehungga rasa cemas (anxiety) dan kelelahan mental (burnout) menjadi semakin akrab.

Ada tekanan tak kesat mata, di usia sekian harus sudah mencapai ini dan itu, harus terlihat berhasil, kehidupan stabil, dan  harus selalu terlihat baik baik saja. Dalam kondisi seperti ini, ketenangan bukan lagi sesuatu yang datang dengan sendirinya, tapi menjadi sesuatu yang harus diusahakan, bahkan diperjuangkan.

Disinilah filosofi teras (stoisisme) karya hanry manampiring hadir untuk membantu kita  menjalani hdup dengan lebih tenang dan rasional. Filosofi teras atau stoisisme adalah aliran Yunani romawi kuno yang sudah berusia lebih dari 2.000 tahun, tetapimasih relavan untuk kondisi manusia zaman sekarang.

Ada tiga poin utama yang akan dibahas dari buku filosofi teras (stoisisme) teras ini, salah satunya adalah tentang cara pandang memahami kebahagian. Dalam filosofi teras (stoisisme),  kebahagiaan tidak dipandang sekedar sebagai perasaan , melainkan sebagai sebuah keterampilan (skil) yang bisa dilatih. Keterampilan ini membantu kita menjadi lebih tenang dalam dalam menghadapi berbagai maalah, tidak mudah baper, tidak reaktif dalam hal hal sepele, serta mampu mengendalikan emosi dengan lebih baik. Dengan demikian, kita tidak lagi jadi budak dari emosi, tetapi justru mampu mengelolanya secara sadar.

Pertama, kunci ketenangan (Dikotomi & Trikotomi)

Salah satu konsep paling penting dalam filosofi teras (stoisisme)  adalah dikotomi kendali, yaitu cara membedakan secara jelas antara hal-hal yang bisa kita kendalikan dan yang tidak bisa kita kendalikan. Konsep ini penting karena banyak emosi negatif seperti cemas, marah, kecewa, dan frustrasi sebenarnya muncul bukan dari kejadian itu sendiri, tetapi dari cara kita memandang dan meresponsnya.

Kita sering terjebak memikirkan hal-hal di luar kendali, seperti penilaian orang lain, reputasi, cuaca, atau situasi yang sudah terjadi, padahal semua itu tidak bisa kita ubah. Sebaliknya, yang benar-benar berada dalam kendali kita hanyalah pikiran, penilaian, persepsi, sikap, dan tindakan kita sendiri. Misalnya saat terjebak macet, marah atau mengeluh tidak akan membuat jalan menjadi lancar, justru hanya menghabiskan energi dan membuat suasana hati semakin buruk.

Namun, jika kita memilih untuk menerima keadaan dan mengalihkan fokus pada hal yang masih bisa kita kendalikan seperti menenangkan diri, mendengarkan musik, atau menikmati waktu kita bisa tetap merasa lebih tenang.

Selain itu, Willian irvine memperluas konsep ini melalui trikotomi kendali, yaitu adanya hal-hal yang sebagian bisa kita kendalikan, terutama dalam urusan yang melibatkan usaha dan hasil. Contohnya dalam mencari pekerjaan atau menjaga kesehatan, kita bisa mengontrol usaha seperti belajar, berlatih, dan menjaga pola hidup, tetapi hasil akhirnya tetap dipengaruhi banyak faktor lain di luar kendali kita.

Karena itu, Stoisisme mengajarkan kita untuk fokus pada usaha terbaik yang bisa dilakukan, tanpa menggantungkan ketenangan pada hasil, sehingga kita tidak mudah stres saat gagal dan tidak berlebihan saat berhasil.

Kedua, seni mengendalikan emosi (Persepsi & Makna)

Dalam bagian ini, kita belajar bagaimana menjadi pribadi yang tidak mudah baper, berlebihan, atau emosional. Dalam Stoisisme dikenal prinsip bahwa bukan peristiwa yang mengganggu kita, melainkan penilaian kita terhadap peristiwa tersebut. Artinya, kejadian pada dasarnya bersifat netral, sedangkan emosi yang muncul berasal dari cara kita memaknainya. Misalnya, saat mengalami hal kecil seperti menginjak kotoran atau hal besar seperti kehilangan pekerjaan, kita bisa menafsirkannya sebagai sesuatu yang buruk atau justru melihatnya dari sisi lain.

Perbedaan makna inilah yang menentukan apakah kita merasa marah atau tetap tenang. Untuk melatih hal ini, digunakan teknik S.T.A.R: Stop (berhenti sejenak agar tidak reaktif), Think and Assess (menilai apakah emosi itu wajar dan apakah situasi tersebut dalam kendali kita), lalu Respond (memberi respons secara sadar dan lebih bijak). Dengan latihan terus-menerus, kita dapat mengendalikan emosi dengan lebih baik, karena pada dasarnya ketahanan mental itu seperti otot yang semakin kuat jika sering dilatih.

Ketiga, Amor Fati (masa lalu sudah mati)

Dalam Stoisisme, kita diajarkan untuk mencintai dan menerima segala hal yang telah terjadi, tanpa menuntut hidup berjalan sesuai keinginan kita. Kebiasaan berandai-andai seperti “seandainya dulu…” justru bisa mengikis kebahagiaan, karena masa lalu tidak bisa diubah. Yang bisa dilakukan hanyalah menerima dan mengambil pelajaran.

Dari sinilah muncul konsep amor fati, yaitu mencintai takdir. Konsep ini bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menerima kenyataan sambil belajar darinya. Misalnya saat mengalami musibah seperti kecopetan, kita bisa memilih meratapi nasib atau menjadikannya pelajaran agar lebih berhati-hati ke depan. Dengan memberi makna yang lebih baik, kita bisa tetap tenang dan berkembang. Seiring waktu, kita sering menyadari bahwa kejadian buruk justru membawa hikmah. Karena itu, daripada terus bertanya “kenapa ini terjadi?”, lebih baik bertanya “apa yang bisa saya pelajari dari ini?”.

Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada Henry Manampiring atas karya yang begitu bermanfaat dan relevan dengan kehidupan saat ini. Melalui bukunya, pembaca diajak untuk memahami cara berpikir yang lebih tenang, rasional, dan tidak mudah terombang-ambing oleh emosi maupun keadaan.

Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, ajaran dalam buku ini menjadi bekal berharga, khususnya bagi generasi muda, untuk menghadapi berbagai tantangan dengan sikap yang lebih bijak, kuat, dan terkendali. Dengan demikian, diharapkan pembaca tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir

Terkait

Tags: filsafatstoisisme
Previous Post

Self-love Vs Hubbud Dunya

Next Post

Hanum Rais Tekankan Transformasi dari Generasi Strawberry ke Coconut di Hadapan Kader IMM pada Milad IMM ke-62

Hasna Sarah Nur Rofiah

Hasna Sarah Nur Rofiah

Next Post
Seminar IMM FIK UMS: Kupas Strategi Pemberdayaan Perempuan di Era Globalisasi

Hanum Rais Tekankan Transformasi dari Generasi Strawberry ke Coconut di Hadapan Kader IMM pada Milad IMM ke-62

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.