Oleh: Elika Wahmi Rahmatulloh
Identitas Buku
- Judul buku: Filosofi Teras
- Pengarang: Henry Manampiring
- Penerbit: Penerbit Buku Kompas
- Tanggal Terbit: 26 November 2018
- ISBN: 9786024125189
- Tebal halaman: 320 halaman
- Lebar: 13 cm
- Panjang: 19 cm
Intisari Buku
Kita hidup di era dimana kebahagiaan seolah-olah bergantung pada jumlah likes dan pencapaian eksternal, padahal kunci kedamaian sejati justru terletak pada hal-hal sederhana yang selama ini sering kita abaikan di dalam diri sendiri, sebuah prinsip yang dikupas tuntas dalam buku ini. Filosofi teras atau yang membahas mengenai sebuah aliran filsafat kuno yakni stoicism yang ternyata masih sangat relevan jika kita kaitkan dengan banyaknya permasalahan yang ada pada masa-masa ini. Banyak orang telah mengakui bahwa stoicism dapat menjadi obat ditengah permasalahan sosial yang ada.
Stoicism adalah sebuah aliran filsafat yang membahas mengenai way of life atau jalan hidup, dimana kita tidak perlu memusingkan segala hal kehidupan. Ada sebuah teori yang menjadi prinsip utama stoicism yakni dikotomi kendali. Terdapat 2 hal mengenai pengendalian ini, hal-hal yang ada di bawah kendali kita (internal) dan hal-hal yang tidak dibawah kendali kita (eksternal). Yang termasuk dalam kategori internal adalah semua hal yang berada dalam diri kita, seperti opini, pendapat atau sesuatu hal yang akan kita lakukan untuk merespon sesuatu. Lalu hal-hal yang termasuk kategori eksternal adalah hal-hal di luar itu, seperti opini dan tindakan orang lain terhadap kita. Penulis menambahkan beberapa hal yang termasuk dalam kategori eksternal yakni kesehatan, kekayaan dan popularitas. Dan poinnya disini adalah ketika kita memusatkan kebahagiaan pada hal-hal eksternal, kita tidak akan pernah menjadi bahagia.
Terdapat pula trikotomi kendali atau dari dua yang telah disebutkan sebelumnya, ditambah dengan hal-hal yang sebagian berada dalam kendali kita. Lebih mudahnya untuk memahami hal ini adalah melibatkan situasi dimana tindakan kita bisa mempengaruhi hasil, tetapi tidak menjamin hasil tersebut. Atau sesuatu hal yang melibatkan keduanya, antara hal-hal yang ada dalam kendali kita dan yang tidak. Oleh karena itu, kunci dalam menghadapi kategori ini adalah dengan ‘menginternalisasi tujuan’. Alih-alih mematok kebahagiaan pada hasil akhir yang tidak pasti, kita fokus memberikan upaya terbaik yang sepenuhnya berada dalam kendali kita. Dengan begitu, apapun hasil akhirnya—baik atau buruk—kita tetap memiliki ketenangan batin karena sadar bahwa kita telah menuntaskan kewajiban kita secara maksimal.
Dalam buku tersebut pula banyak dicatat ketika penulis melakukan berbagai wawancara ke beberapa tokoh-tokoh ternama mengenai stoicism ini. Terdapat sebuah adagium atau pepatah mengatakan “10% masalah dalam hidup kita adalah masalah itu sendiri, 90% sisanya adalah how we react to the problem”. Dari pepatah tersebut dapat kita pahami bahwa sebenarnya bukan hal-hal eksternal yang menyakiti atau membuat kita jatuh, tapi interpretasi atau respon kita menanggapi hal-hal yang kita temui.
Mengenai toxic positivity yakni desakan (baik dari diri sendiri maupun orang lain) untuk tetap merasa bahagia dan berpikir positif, sambil menolak, menekan, atau meremehkan emosi negatif yang sebenarnya valid bisa kita alihkan ke premeditatio malorum. Premeditaio malorum ini justru malah berkebalikan sekali dengan hal-hal seperti positif thinking. Kita diperintahkan untuk membayangkan situasi terburuk ketika akan melakukan sesuatu, tapi dengan tujuan supaya kita lebih siap menghadapi situasi terburuk itu yang akhirnya menjadikan kita berusaha maksimal sesuai kemampuan agar tidak gagal nantinya.
Secara keseluruhan pembahasan dalam buku ini, penulis yakni Henry Manampiring menyampaikan sebuah aliran filsafat ini dengan ringan dan mudah dipahami. Gaya bahasa penulisannya yang tidak kaku, penuh ilustrasi (komik/meme), dan riset medis yang mendukung (terapi kognitif perilaku) menjadikan buku ini best seller dan layak dibaca di semua kalangan bahkan untuk pemula yang baru atau hendak belajar filsafat.
Buku ini sangat membantu dalam menghadapi kekacauan dalam diri dan membuat kita sebagai pembaca mencapai ataraxia (ketenangan batin). Dan untuk kamu yang sering merasa stres, overthinking, atau merasa cemas dengan berbagai dinamika yang ada di media sosial sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Karena hidup harus selaras dengan alam, orang yang selalu menggantungkan kebahagian pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan maka ia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan.
Analisis Buku
Mengenai buku ini banyak hal yang dapat saya ambil. Stoikisme jika dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam jangka waktu yang lama, hal ini akan terlihat sangat berdampak bagi diri terutama dalam hal pengendalian emosi atau istilah kerennya emotional intelligence (kecerdasan emosional). Kecerdasan emosional menentukan seberapa baik seseorang dalam menggunakan keterampilan yang dimiliki, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain sangat diperlukan oleh kita manusia yang fitrahnya sebagai makhluk sosial.
Kebanyakan orang menganggap bahwa kecerdasan intelektual (IQ) adalah penentu utama kesuksesan seseorang terutama di dunia kerja, sehingga banyak orang berlomba-lomba melatih daya pikirnya hingga bisa mencapai IQ yang mereka inginkan. Bahkan banyak orangtua yang rela memberikan beragam les untuk meningkatkan IQ anaknya. Dalam beberapa dekade terakhir, semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosional (emotional intelligence atau EI) justru memiliki peran yang tak kalah, bahkan seringkali lebih besar, terutama dalam hal kepemimpinan, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan.
Kesimpulan
Perjalanan Panjang dari tokoh Zeno dalam Buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring berhasil mengemas ajaran Stoisisme yang kuno menjadi panduan praktis yang sangat relevan bagi masyarakat modern. Kesimpulan utama dari buku ini adalah bahwa kebahagiaan sejati tidak bersifat eksternal, melainkan berakar pada dikotomi kendali. Dengan membedakan apa yang bisa kita kontrol (pikiran dan tindakan sendiri) dan apa yang tidak (opini orang lain atau hasil akhir), seseorang dapat mencapai ataraxia atau ketenangan batin.
Buku ini juga menegaskan bahwa penderitaan sering kali muncul bukan dari peristiwa itu sendiri, melainkan dari interpretasi negatif kita terhadapnya. Melalui teknik seperti premeditatio malorum, pembaca diajak untuk lebih tangguh secara mental daripada sekadar terjebak dalam toxic positivity. Secara keseluruhan, resensi ini menunjukkan bahwa memahami filosofi Stoa bukan hanya tentang belajar filsafat, tetapi tentang melatih kecerdasan emosional agar kita mampu hidup selaras dengan alam dan tetap tenang di tengah hiruk-pikuk dunia digital.