Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Self-love Vs Hubbud Dunya

AdminKS by AdminKS
April 13, 2026
in Esai, Narasi
0
Self-love Vs Hubbud Dunya
13
SHARES
77
VIEWS

Oleh: Zahrotun Iftinan

Seringkali muncul anggapan bahwa berbelanja barang mewah atau menghabiskan waktu berjam-jam di kafe adalah cara terbaik untuk menyembuhkan diri dari kepenatan tugas kuliah.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Di era media sosial, istilah self-love atau mencintai diri sendiri telah menjadi mantra populer dikalangan anak muda, terutama mahasiswa. Narasi “You deserve this” atau “Self-reward itu perlu” kerap muncul sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras yang telah dilakukan. 

Namun, jika tidak hati-hati, batasan antara menghargai diri sendiri dan sekadar menuruti hawa nafsu menjadi sangat tipis. 

Dalam perspektif Islam, terdapat kekhawatiran bahwa trend self-love yang berlebihan justru dapat menjerumuskan seseorang pada penyakit hubbud dunya, yakni kecintaan yang berlebihan terhadap materi dan kenyamanan duniawi. Jika standar mencintai diri sendiri diukur dari seberapa banyak keinginan fisik yang terpenuhi tanpa memperhatikan kesehatan iman, maka manusia sebenarnya sedang terjebak dalam lingkaran trend konsumerisme yang melelahkan.

Sehingga, menyeimbangkan praktik self-love sebagai bentuk rasa syukur atas amanah tubuh dan jiwa yang diberikan Allah menjadi hal yang harus bisa dikendalikan. Mencintai diri yang sesungguhnya bukan tentang memanjakan ego secara membabi buta, melainkan  menjaga diri agar tetap berada di jalur yang diridhoi oleh-Nya. 

Lalu, seperti apa Self-love yang baik dan benar?

Dalam dunia psikologi, mencintai diri sendiri seringkali direpresentasikan melalui konsep self-compassion. Dimana, Kristen Neff (2003) dalam jurnalnya Self-Compassion: An Alternative Conceptualization of a Healthy Attitude Toward Oneself  mengemukakan bahwa, mencintai diri sendiri juga melibatkan kemampuan untuk memahami diri dengan penuh kebaikan, saat menghadapi kegagalan, alih-alih terus-menerus menghakimi diri dengan keras. 

Definisi tersebut sejalan dengan prinsip Islam yang memandang diri sebagai amanah yang harus dijaga. Sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Tin ayat 4, manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, yang berarti ada tanggung jawab besar untuk merawat titipan tersebut agar tidak rusak. 

Oleh karena itu, merawat kesehatan fisik, menjaga penampilan agar tetap rapi, serta memastikan mental tetap stabil adalah bagian dari ibadah. Tujuannya jelas, agar setiap individu memiliki energi dan kesiapan yang optimal untuk menjalankan peran sebagai hamba Allah sekaligus pemimpin atau khalifah di muka bumi.

Jebakan Hubbud Dunya di Balik Tren Narasi

Namun, narasi self-love sering kali mengalami pergeseran makna ketika bertemu dengan budaya tren masa kini. Salah satu yang paling nyata adalah fenomena self-reward yang dilakukan secara berlebihan. Mengatasnamakan apresiasi diri, pengeluaran yang tidak terkontrol atau gaya hidup konsumtif sering kali dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal dalam pandangan Islam, perilaku ini sangat dekat dengan konsep tabzir atau pemborosan. Dimana seseorang menghabiskan sumber daya untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat jangka panjang bagi jiwa maupun raganya.

Jebakan lain juga muncul melalui keinginan mendapatkan validasi eksternal atau yang sering disebut sebagai narsisme digital. Keinginan agar dianggap telah “mencintai diri sendiri” melalui unggahan di media sosial tanpa sadar bisa menjebak manusia pada penyakit hati seperti riya’ (pamer) dan sum’ah (mencari popularitas). 

Ketika fokus utama mencintai diri sendiri adalah demi pujian dan tanda suka dari orang lain, maka esensi ketenangan batin yang dicari justru hilang dan berganti menjadi rasa haus akan pengakuan duniawi yang tidak pernah cukup. 

Dampak spiritual dari pergeseran ini sangat terasa ketika kenyamanan duniawi mulai dijadikan tujuan utama. Saat seseorang terlalu terpaku pada upaya memanjakan diri, ada resiko besar ia menjadi lalai terhadap kewajiban agama atau bahkan menjadi tidak peduli pada lingkungan sekitarnya. Jika kecintaan pada kenyamanan materi sudah menguasai hati, empati terhadap sesama seringkali terkikis karena fokus hidup tertuju pada pemuasan ego pribadi.

Inilah wujud nyata dari hubbud dunya yang dibungkus dengan label modern, yang alih-alih memuliakan diri, justru membuat seseorang semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan ketaatan kepada Sang Pencipta.

Strategi Menyeimbangkan Keduanya

Dalam menghadapi tantangan tersebut, muhasabah atau evaluasi diri menjadi salah satu langkah agar manusia tidak terjebak pada arus trend yang kerap terjadi. Sebelum memutuskan untuk melakukan self-reward, ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya pada hati nurani, “apakah tindakan ini benar-benar dibutuhkan untuk memulihkan kesehatan mental, atau jangan-jangan hanya sekedar menuruti keinginan nafsu yang tiada habisnya?”.

Kejujuran pada diri sendiri inilah yang akan menjadi filter agar setiap apresiasi tetap berada pada porsinya.

Selain itu, memegang prinsip qana’ah atau merasa cukup akan apa yang dimiliki juga menjadi kunci ketenangan batin yang sesungguhnya. Di tengah gempuran trend yang menuntut seseorang untuk selalu memiliki lebih, qana’ah menawarkan kemerdekaan dari rasa iri dan haus akan validasi. Dengan begitu, kebahagiaan pun tidak lagi digantungkan pada benda atau orang lain, melainkan pada rasa syukur.

Karena pada akhirnya, self-love yang baik adalah tentang bagaimana mencintai diri dengan cara menjaganya dari hal-hal yang dapat merusak kehormatan jiwa di mata Sang Pencipta. Dan kebahagiaan sejati tidak akan pernah ditemukan dalam tumpukan materi atau pengakuan dilayar kaca, melainkan dalam ketenangan hati yang mengenal dan merasa dekat dengan Tuhannya.

Terkait

Tags: AgamaAl-QuranIslamMuhammadiyah
Previous Post

Tabah dan Bersyukur: Dua Pilar Ketenangan Jiwa dalam Mengarungi Kehidupan

Next Post

Filosofi Teras: Seni Mengendalikan Diri dan Menemukan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian Zaman

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Filosofi Teras: Seni Mengendalikan Diri dan Menemukan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian Zaman

Filosofi Teras: Seni Mengendalikan Diri dan Menemukan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian Zaman

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.