Oleh: Syahfa Tacita Anastasya
Apa benar semua manusia dimuka bumi ini sempurna? Atau apakah hanya nabi Muhammad SAW yang sempurna?
Yap betul, manusia yang sempurna dimuka bumi ini hanyalah nabi Muhammad SAW. Beliau sempurna karena pilihan Allah SWT, sedangkan Allah SWT sempurna sebagai sang pencipta. Manusia diciptakan sebaik mungkin penciptaan untuk menghormati perbedaan. Manusia juga diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Istilah difabel mengingatkan kita untuk menghargai perbedaan kemampuan setiap individu.
Difabel dan disabilitas menjadi dua kata yang sangat identik pada orang dengan keterbatasan fisik. Akan tetapi dua kata tersebut berbeda. Disabilitas berasal dari kata inggris (disability) yang berarti (ketidakmampuan) tapi lebih sering digunakan dalam konteks medis. Sedangkan, difabel merupakan singkatan dari (different ability) atau (kemampuan yang berbeda) difabel bukanlah orang yang tidak mampu, tetapi terbatas dalam melakukan sesuatu dan kata ini lebih sering digunakan untuk menciptakan citra yang positif.
Kisah Elo Kusuma Alfred Mandeville, mahasiswa program studi desain grafis fakultas vokasi di Universitas Brawijaya Malang dengan ipk 3,47 menjadi perhatian banyak orang karena sosoknya yang sangat inspiratif. Tubuhnya yang tidak memiliki kedua lengan membuat eko harus bersalaman memakai kaki dengan Rektor Prof.Widodo saat wisuda dan beliau juga bisa berenang dengan berbagai gaya. Bahkan setelah lulus pada bulan Juli tahun 2023 ia langsung diterima kerja pada dua instansi.
Yakni, di Australia Indonesia disability research pusat di Australia dan sebuah industri kreatif sebagai sosial media officer dan content maker. Elo mengaku bisa ditarik seperti ini karena selalu ada orang tua dan keluarga yang terus memberi dorongan untuk percaya diri dan mendapat pesan dari orang tuanya bahwa jangan selalu banyak mengandalkan orang lain, sebisa mungkin mandiri dan membangun rasa percaya diri dengan belajar menerima. Sosok Elo membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan semangat meraih impian untuk terus berkarya.
Begitu juga dengan Anggi wahyuda yang tidak kalah keren, beliau seorang stand up komedi dan berhasil menaklukan gunung hanya dengan satu kaki. ”tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kalau kita mau, yakin aja dulu kan ada Allah ” ucapnya pada saat sampai di gunung leuser. Anggi mempunyai kekurangan bukan karena bawaan, pada awalnya Indonesia sedang dilanda kabut asap Riau karena kebakaran hutan dan asapnya sampai ke kota Binjai dimana itu adalah kota dimana Anggi tinggal.
Pada saat itu Anggi sedang berangkat kesekolah menggunakan sepeda motor dalam keadaan berkabut. Di arah berlawanan ada truk tangki lalu ketabrak. Pada saat sadar Anggi merasa sedih dan harus merelakan kakinya. Bahkan Anggi sempat tidak percaya tuhan dan hampir bunuh diri karena banyak tekanan dari luar yang selalu mengejek Anggi, termasuk gurunya sendiri. Anggi bukan hanya depresi tapi juga takut. Pada saat orang tua Anggi sakit lalu, Anggi bangkit untuk meyakinkan dirinya bahwa dia bisa mandiri tanpa membebani mereka. Menurut Anggi kunci keberhasilan itu adalah yakin, berdamai dengan diri sendiri dan berani untuk memulai.
Kisah mereka adalah inspirasi. Semangat belajar dan kontribusi positif bisa datang dari siapa aja, Kalau kalian mempunyai mimpi besar dan banyak orang yang menyepelekan mimpi itu jangan takut, apapun keadaannya jangan pernah malu dan minder dengan kekurangan karena batas kemampuan manusia itu bukan pada fisiknya tapi pada kemauannya.
Difabel yang merasa minder menjadi isu sosial yang cukup kompleks dan relevan di masyarakat. Dan sering kali menghadapi stigma sosial dari masyarakat karena perbedaan mereka yang menyebabkan mereka rendah diri dan meragukan kemampuan. Kurangnya dukungan dari keluarga, teman, masyarakat pun dapat menyebabkan rasa minder pada mereka. Dukungan emosional dan fisik sangat penting dalam membantu mereka mengatasi tantangan dan mengembangkan kepercayaan diri.
Kepercayaan masyarakat kepada disabilitas menjadi masalah yang terjadi di Indonesia. Kurangnya kepercayaan ini termanifestasi sebagai keraguan atau penilaian negatif terhadap kemampuan potensi, dan kontribusi penyandang disabilitas dalam berbagai aspek kehidupan. Terutama dalam hal pekerjaan. Diskriminasi yang mereka lakukan dalam perekrutan pekerjaan menganggap bahwa penyandang disabilitas kurang produktif dalam melakukan pekerjaan dan juga masyarakat sudah beranggapan bahwa disabilitas tidak mampu melakukan dan hanya bisa meremehkan. Banyak sekali masyarakat yang tidak melihat potensi dari disabilitas tapi hanya melihat fisiknya.
Dalam hal hubungan masyarakat, sering kali kurang terwakili dalam media dan Sebagian masyarakat juga beranggapan tentang kemampuan masyarakat disabilitas dapat menghambat untuk membangun citra positif. Contohnya Ketika ada sekelompok orang menghindari untuk berinteraksi dengan seseorang penyandang disabilitas di acara komunitas. Mereka mungkin merasa tidak nyaman atau tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan orang tersebut, atau mereka mungkin memiliki prasangka bahwa orang tersebut tidak dapat berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan sosial namun, di posisi penyandang disabilitas merasa terisolasi dan tidak diterima masyarakat. Mereka kehilangan kesempatan untuk menjalin hubungan sosial dan berpartisipasi dalam kegiatan komunitas yang bermanfaat.
Seorang difabel harus mendapat peluang yang sama dengan teman-teman sebayanya untuk tumbuh juga berkembang di tengah kehidupan masyarakat lingkungannya. Jika difabel mendapatkan kesempatan yang sebaik-baiknya, maka mereka akan berkembang dengan baik bahkan bisa mengembangkan bakat dan kemampuannya untuk hidup mandiri dan juga tidak bergantung kepada orang lain. Apapun keterbatasannya, mereka juga mempunyai undang-undang yang akan memberikan jaminan kesamaan hak dan kedudukan yang sama dalam kehidupan. Supaya para difabel dapat diterima dan bisa hidup berkembang ditengah masyarakat.
Allah menetapkan sesuatu itu pasti mempunyai tujuan kenapa menciptakan manusia yang berbeda kan? Ya pastinya, yaitu agar manusia bisa mengenal satu sama lain untuk bekerja sama dan saling menolong. Ayat ini mengajarkan kesetaraan, toleransi, dan kerja sama serta menghapus diskriminasi. karena seharusnya para kaum difabel mendapatkan hak yang sama dan tidak ada diskriminasi. Akan tetapi, hanya sedikit orang menyadari hal ini sehingga kesenjangan pada masyarakat masih terjadi hingga saat ini. Dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 puun dijelaskan tentang perbedaan dalam penciptaan manusia, yang menekankan bahwa perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan perpecahan atau penghinaan. Penciptaan manusia yang berbeda adalah ujian ketakwaan kepada Allah SWT, sehingga manusia tidak seharusnya saling mendiskriminasi.
Kaum difabel dalam al-Qur’an sama dengan orang normal lainnya dalam mendapatkan hak-hak yang menunjang kehidupan kaum difabel. Mengutamakan atau menghormati kaum difabel dengan mempermudah para kaum difabel ini sangat dianjurkan. Difabel sering dianggap lemah karena keterbatasan mereka. Namun, kondisi eksternal yang membuat mereka lemah adalah tanggung jawab bersama masyarakat untuk memastikan pemenuhan hak-hak mereka.
1. Hak rezeki dan kesejahteraan
Kelompok difabel sesungguhnya adalah manusia sebagaimana manusia lainnya, yang Allah muliakan di atas makhluk lainnya. Allah berikan segala keutamaan bagi manusia agar mampu mengemban misi kekhalifahan di muka bumi.
Dalam QS al Isra ayat 70 dikatakan:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَـٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلْنَـٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍۢ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًۭا
Artinya:
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan laut, dari Kami beri mereka yang baik-baik dan Kami lebihkan di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”.
Ayat ini menegaskan tentang Allah telah memuliakan manusia dan memberikan rezeki yang baik. Hal ini pun berlaku untuk seluruh manusia termasuk kaum difabel yang berhak mendapatkan kesejahteraan yang layak
2. Hak atas perhatian dan mendapatkan Pengobatan
Dalam QS. Abasa (80) : 1-4 menceritakan bagaimana Nabi Muhammad SAW sempat berpaling dari seorang tunanetra yang datang bertanya, kemudian Allah menegurnya. Ayat ini mengajarkan bahwa kaum difabel juga berhak mendapatkan pertolongan dan perhatian dan tidak boleh diabaikan. Semua yang terjadi pada manusia sudah ditentukan oleh Allah SAW. Tapi kita bisa merubah menjadi lebih baik jika kita niat dan mau mengusahakan itu. Oleh karena itu, para disabilitas tidak boleh dikucilkan. Kita tidak tahu apa yang mereka bisa, dan mungkin mereka mempunyai kemampuan yang tidak kita miliki. Jadi, kita harus tetap rendah hati, tidak sombong atas pencapaian yang sudah kita dapatkan. Bersyukurlah karena kebahagiaan ada di dalam hal-hal sederhana dan selalu ada disekitar kita
3. Hak atas ibadah
Hak difabel mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengajaran, walaupun tidak secara eksplisit disebutkan didalam Al-Quran, tapi prinsip-prinsip islam mengakui bahwa kaum difabel berhak melaksanakan ibadah dengan fasilitas yang disesuaikan dengan kondisi mereka. Seperti, orang buta yang dapat membaca Al-Quran braille dan orang pincang dapat melakukan shalat dengan posisi yang sesuai. Hal ini juga dijelaskan oleh para ulama yang menyatakan bahwa pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memberikan akses bagi kaum difabel dalam melaksanakan ibadah.
4. Hak kesetaraan
Di dalam QS. An-nur: 61
Ayat ini menyatakan bahwa tidak ada halangan bagi orang buta , pincang, sakit untuk makan Bersama orang sehat, begitu juga dijelaskan dalam surat Al-Hujurat (49): 13 Islam mengajarkan bahwa standar kemuliaan dan derajat manusia disisi Allah itu berdasarkan ketakwaan, bukan kemampuan fisik, yang berarti semua manusia setara di hadapan tuhan kita untuk menjaga kehormatan, martabat, kesetaraan, keadilan, dan perasaan di antara kita, termasuk terhadap saudara-saudara kita para penyandang disabilitas.
Kesimpulan
Disabilitas bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan di dunia kerja. Kisah-kisah sukses kaum difabel membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat, mereka mampu berkontribusi secara baik. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung kaum difabel untuk mengembangkan potensi mereka. dengan memberikan kesempatan dan dukungan yang tepat, kaum difabel dapat menjadi mandiri dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Al-Qur’an memberikan perspektif yang jelas tentang hak-hak kaum difabel.
Islam mengajarkan bahwa semua manusia setara di hadapan Allah, dan kaum difabel memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang layak. Tidak lupa bahwa Islam selalu mengedepankan keadilan dalam hubungan sosial bahkan harus menghormati sesama manusia. Manusia diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan sehingga mempunyai pemikiran dengan menghormati perbedaan yang ada. Mereka tidak boleh dilihat sebagai beban tapi lihatlah mereka sebagai individu yang memiliki potensi dan martabat yang sama dengan orang lain. Pemenuhan hak-hak ini akan memberikan rasa nyaman dan tidak dibeda-bedakan bagi kaum difabel, Kaum difabel seharusnya mendapatkan hak yang sama dan tidak ada diskriminasi lagi.
Editor: Arsy Sekar Kemuning