Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Hikmah dan Resep Mengisi Waktu Ketika “di Rumah Aja”

Novriyani by Novriyani
April 24, 2020
in Narasi
0
Klaten tanggal 25 Maret 2020 telah menetapkan perpanjangan masa libur anak-anak sekolah usia TK, SD MI sampai pada 13 April mendatang.

Klaten tanggal 25 Maret 2020 telah menetapkan perpanjangan masa libur anak-anak sekolah usia TK, SD MI sampai pada 13 April mendatang.

28
SHARES
162
VIEWS

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Corona virus telah menjadi sesuatu yang sangat kita waspadai akhir-akhir ini. Meningkatnya jumlah pasien yang ditetapkan positif oleh tim medis membuat pemerintah semakin gerah dan kalang kabut untuk menyadarkan semua lapisan masyarakat tetap stay at home.

Sekolah-sekolah diliburkan, tempat ibadah menjadi sepi, mal-mal pusat perbelanjaan sepi pengunjung, tempat-tempat wisata senyap tak ada yang mau menyambangi. Dan semua warga di Klaten khususnya (di mana tempat saya tinggal) sangat dianjurkan untuk stay at home. Dan dilarang keras untuk keluar rumah demi mengurangi lonjakan pasien corona yang semakin meningkat.

Klaten tanggal 25 Maret 2020 telah menetapkan perpanjangan masa libur anak-anak sekolah usia TK, SD MI sampai pada 13 April mendatang. Sontak saja setelah pengumuman tersebut dikabarkan kepada masing- masing grup WA banyak sekali mengundang komentar yang lucu-lucu menggemaskan. Ada yang langsung komentar ,”Wahhh libur diperpanjang anak-anak pada suka simboknya pusing.”

Respon Masyarakat Libur Diperpanjang

Ada juga yang langsung komentar di grup, “ walah. libur maneh dawa maneh. mumet slirae.” Ada juga yang langsung nyetatus“ Kuatno atiku ya Allah“. Dan masih banyak lagi komentar ataupun unggahan status dari orang tua wali murid yang beragam. Hal tersebut sebenarnya dapat diprediksi oleh para guru dan pemangku kebijakan. Pasalnya sebelum tanggal ditetapkan masa libur panjang tersebut telah diberlakukan libur selama 14 hari.

Dalam 14 hari itulah warga sekolah mengalami hal yang menarik yaitu seolah secara tiba-tiba masyarakat diminta untuk tetap berhubungan dengan handphone setiap waktu. Tugas dan soal-soal memang diberikan secara daring via WA grup. Sebagai masyarakat yang masih banyak hidup di pedesaan hal tersebut tentunya akan menjadi kendala.

Baca Juga: Fatwa MUI: Tata Cara Salat Tenaga Medis Pengguna APD Covid-19

Belum lagi orang tua wali murid hanya mampu mengandalkan satu HP dan itupun di bawa kerja oleh ayah atau ibunya. Belum selesai sampai di situ tugas-tugas tersebut memaksa para orang tua untuk ikut “nimbrung pusing” memikirkan jawabannya.

Sebagai seorang pendidik menurut pengamatan saya, dengan munculnya wabah corona ini selain menjadi kekhawatiran juga menjadi jalan masuk untuk mengubah keadaan menjadi  lebih baik di sisi yang lain. Paling tidak ada beberapa hal yang dapat kita ambil dari kebaikan si Corona ini yaitu;

Mengembalikan Fitrah Madrasatul Ula untuk Anak

Ibu sebagai tokoh utama pembentuk watak dan akhlak anak-anaknya yang akan menjadi generasi penerus peradaban. Corona seolah ingin mengembalikan fungsi para ibu dalam mendidik putra-putrinya untuk mengarungi kancah peri kehidupan di dunia ini. Bukan berarti ingin mengalihkan fungsi guru karena seorang gurupun sekaligus menjadi madrasatul ula di rumahnya di tengah-tengah keluarganya.

Corona seolah ingin mengabarkan pada anak-anak bahwa ibu adalah tempat paling nyaman meluapkan suka duka dalam keseharian. Tak ada kasih sayang selembut kasih sayang Ibu dan jika anak-anak mendapatkannya, maka kelak anak-anak yang dibesarkan dengan kasih sayang Ibu ini akan menjadi anak-anak yang hebat anak-anak yang tangguh dan kuat sebagaimana Ibunya.Yang dulu mengandung merawat dan mendidiknya, menjadi generasi yang hebat.

Corona seolah mengabarkan bagi para ibu-ibu bahwa ada tugas yang sangat penting yang sangat mulia dari sekedar “bersosialita” dalam kesehariannya. Kembali mengurusi anak-anak tercinta, kembali pada rutinitas menjadi guru di rumah karena sesungguhnya menjadi apapun kita, maka jadilah guru.

Jika kita menjadi ibu rumah tangga ya jadilah ibu rumah tangga yang guru. Jadi guru yang guru, menjadi karyawan yang guru, menjadi apapun yang guru. Artinya menjadi apapun kita dalam profesi kehidupan ada satu sisi kita yang dapat dijadikan teladan kehidupan.

Membangun Pola Komunikasi Anak dan Wali  Murid

Masa-masa tanggap dan peka terhadap corona yang masih berlaku ini sesungguhnya membuka ruang gerak baru untuk para guru membangun kedekatan dengan wali murid. Melalui media sosial misalnya melalui Whats App grup. Komunikasi yang lebih intensif dari hari-hari sebelumnya tentunya akan berdampak pada kedekatan dan kepuasan para wali murid menyekolahkan putra-putri mereka.

Bercengkerama dengan mereka dapat mempererat hubungan tali silaturrahmi. Dan hal ini juga dapat disebut sebagai “manajemen kekerabatan” seperti yang dipaparkan oleh Mulyana AZ dalam bukunya Reformating Marketing School. Namun satu hal yang tidak boleh luput adalah cara kita menyikapi komentar-komentar mereka yang beragam di grup tentu hal ini membutuhkan skill.

Budaya saling menyapa dan saling memberikan komentar pasti akan terbangun di sini. Untuk itu sebagai guru semestinya pandai dalam bersikap dan berkata-kata melalui bahasa tulis yang sopan namun menyenangkan. Hal ini memerlukan latihan untuk terus mengasah kepekaan.

Kepekaan dalam bertuturkata, kepekaan untuk menghargai pendapat, kepekaan untuk menganulir berita hoax yang disebarkan tanpa menyakiti hati wali murid tersebut. Untuk itu sangat penting bagi guru memperbarui semangat berliterasi guna mengasah keterampilan dalam memberikan informasi kepada warga anggota grup.

Guru Dipaksa keluar dari “Zona Nyaman”

Corona telah menjadikan generasi milenial menjadi kaffah pada maqamnya. Berpijak pada pakar pendidikan Diana G Oblinger and James L Oblinger dalam Eduacating the Net Generation ada tiga ciri perubahan yang sangat tampak pada era milenail ini yaitu;

Pertama,dari kompetisi menuju kolaborasi. Di zaman old untuk dapat survive dan eksis seseorang harus memiliki competitive Advantages atau keunggulan kompetitif. Namun di zaman now untuk dapat berkiprah maka yang dibutuhkan adalah collaborative Advantage. Ataupun keunggulan kolaboratif yang dengan kata lain guru semestinya memiliki kemampuan berjejaring  dan berkolaborasi.

Kedua, dari relasi menuju ruang berbagi, di antara ciri generasi milenial adalah sangat suka berbagi dan menjadi relawan. Ketiga, Dari panggung tertutup menuju panggung terbuka. Artinya semua ruang gerak guru di era ini lebih terbuka dengan memanfaatkan fasilitas yang ada baik itu akses internet ataupun untuk promosi prestasi melalui media sosial.

Baca Juga: “Pendidikan Islam” dalam Dilema

Faktanya saat Corona datang langsung menyebabkan keluarnya kebijakan pemerintah untuk belajar di rumah. Sementara hak pendidikan harus tetap diberikan menjadikan semuanya ikut “berpusing ria” melakukan pembelajaran secara daring baik murid, orang tua bahkan guru.

Masa-masa lockdown dan stay at home seperti ini juga semestinya dimanfaatkan guru secara online memberikan tugas yang berkaitan dengan isu-isu terkini tentang perkembangan Corona. Mengemasnya dengan unik dan asik dan tidak terlalu membebani orang tua.

Bagi guru SD/ MI seperti saya memiliki sudut pandang bahwa SD/MI adalah jenjang sekolah yang sangat dinamis, eksploratif, inspiratif bagi siswanya. Sebab mereka dalam puncak masa pertumbuhan aspek fisik, psikis, otak dan kognitif. Sampai-sampai ahli pendidikan Thomas Armstrong menyebutkan bahwa SD itu “Belajar Alam.” Belajar mengenal Corona ciri-ciri dan pencegahannya, hal apa yang dapat kita lakukan paling tidak untuk diri kita dan untuk keluarga sebagai bentuk peduli sesama.

Menghadirkan Konsep “Baitii Jannatii” di dalam Keluarga

Tentunya tidak mudah di awal saat secara mengagetkan sekaligus alami ini menjadikan semua anggota keluarga berkumpul menjadi satu dalam wadah rumah yang kita tinggali bersama. Ayah yang bekerjapun dianjurkan bekerja dari rumah. Ibu yang bekerjapun dianjurkan untuk back to home dan anak-anak yang bersekolah ataupun mondok pesantren pun dianjurkan untuk kembali ke rumah. Dibutuhkan kerjasama yang bermodalkan saling pengertian untuk menjalani hidup selama masa Corona Covid-19 masih ditugaskan mengintai kita.

Yang perlu diperhatikan, sebagai seorang ibu di rumah ada hal-hal yang harus dibangun untuk kenyamanan bersama; pertama, buat kesepakatan dan pemahaman kepada seluruh anggota keluarga bahwa kita bersama-sama dalam masa sulit yang membutuhkan energi, emosi dan keselerasan dari hari-hari sebelumnya.

Buat jadwal kegiatan dengan melibatkan seluruh keluarga dan membagi tugas sesuai kemampuan masing-masing. Kedua; sesekali dalam sepekan ubah mood keluarga dengan mengubah atau menyetting baru ruangan keluarga sehingga tidak ada rasa bosan di dalam rumah.

Karena gemar rapi menata hunian rumah yang nyaman dan memiliki tempat tinggal yang nyaman merupakan dambaan setiap orang karena dapat membuat seisi rumah betah dan berlama-lama di dalamnya juga dapat menjadikan semakin khusu’nya dalam beribadah. Memasak bersama anak perempuan dan menyajikan masakan empat sehat lima sempurna. Sesekali juga ajak anak-anak untuk menanam pohon atau bunga di rumah.

Quality Time

Ketiga, sebagai keluarga Islami wajib menerapkan back to home back to Qur’an. Semua anggota keluarga diwajibkan untuk bersama Qur’an dalam keseharian. Selain itu juga mengisahkan kisah-kisah Islami pada anak di saat waktu luang mengetahui isi hati anak-anak dengan memaksimalkan quality time bersama keluarga. Apalagi di saat-saat kita harus stay at home seperti sekarang ini.

Akhirnya, corona menjadi wabah. Wabah yang memaksa kita untuk berubah. Wabah yang memaksa untuk kita untuk belajar. Belajar untuk menambah kesabaran ketika Allah pulangkan amanah kita itu selama 24 jam. Belajar memahami bahwa tugas guru adalah tugas yang mulia karena baru sehari saja dengan anak-anak kita yang jumlahnya 4 atau lima kita sudah teriak-teriak marah-marah sepanjang hari bagaimana mereka mendidik 25 murid di sekolah dengan karakter yang berbeda-beda.

Baca Juga: Ngabekten: Artikulasi Harmoni Islam dan Jawa

Selain itu, memahami untuk bekerjasama dengan pasangan memiliki quality time bersama-sama menumbuhkan anak-anak dengan penuh kasih sayang sebagaimana harapan di masa yang akan datang. Adalah langkah tepat mengisi kekosongan ketika kita harus di rumah aja.

Penulis adalah seorang guru di MI Muhammadiyah Srebegan-Klaten

Sumber Ilustrasi: souvenirtasdompet.com

Terkait

Tags: CoronaDirumah AjaHikmahKeluarga
Previous Post

Fatwa MUI: Tata Cara Salat Tenaga Medis Pengguna APD Covid-19

Next Post

Agar Tidak “Ekstrim Jabariyah dan Ekstrim Qadariyah” dalam Menghadapi Corona

Novriyani

Novriyani

Next Post
Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar UGM oleh Kuntowijoyo: Periodisasi Sejarah Kesadaran Keagamaan Umat Islam Indonesia: Mitos, Ideologi, dan Ilmu

Agar Tidak “Ekstrim Jabariyah dan Ekstrim Qadariyah” dalam Menghadapi Corona

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.