Masa-masa ini, salah satu dari beberapa organisasi besar seperti Muhammadiyah sangat mewaspadai segala macam dampak dari covid-19. Wabah ini dapat menjadi ancaman serius apabila tak benar-benar dihadapi secara serius pula. Sebab, nyata telah jamak nyawa terenggut olehnya. Tak hanya di Indonesia, wabah ini bahkan telah menjadi musuh dunia. Dan tampaknya ia bukanlah musuh yang main-main.
Dalam kondisi zaman yang tak terprediksi serta arus keinginan untuk lebih rasional tanpa variable lain selain sains. Tentu ada banyak celah untuk timbulnya satu kerusakan maupun hal-hal yang tidak sejalan dengan ajaran Islam.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, tentu gerakan Islam besar seperti Muhammadiyah tak boleh lengah sedikitpun. Sekali Muhammadiyah lengah, maka akan muncul satu atau lebih hambatan baru bagi keberlangsungan dakwah Muhammadiyah itu sendiri.
Wabah covid-19 merupakan satu ajang pembuktian bagi segenap elemen di seluruh dunia perihal keseriusan untuk berbenah dan berfikir jernih dalam setiap agenda besar umat manusia. Dan jernih tidak berarti hanya mengandalkan rasio semata. Namun, tak sedikit yang terlalu memaksakan diri secara berlebihan demi terlihat selangkah di depan. Di tengah wabah ini, gesekan antara dua hal yang cukup kuat kembali bersi tegang dan saling beradu.
Selalu Muncul Pergesekan
Di era modernitas, dapat dipastikan terjadinya pertemuan atau bahkan gesekan antara sains dan agama. Dalam setiap gesekan, menang dan kalah menjadi satu konsekuensi logis. Jika demikian, maka yang manakah yang akan memenangkan gesekan tersebut? Apakah sains? Atau agama?
Atau mungkin gesekan tersebut akan berkolaborasi dan melahirkan satu sintesa baru? Dan inilah yang menjadi salah satu tugas besar Muhammadiyah untuk memastikan agar setidaknya kedua hal tersebut dapat berdamai selepas pertarungan besar pada abad renaissance tempo lalu.
Baca Juga: Ahmad Khan: Umat Islam Tertinggal Karena Tidak Punya Ilmu
Modernitas dapat menjadi ancaman besar apabila tak mampu dimanfaatkan dengan baik dan benar. Di tengah hingar-bingar dunia dalam mengejar kemajuan dengan mengintegrasi segala aspek yang ada. Namun agama seringkali tak dilibatkan bahkan kerap menjadi variable yang diasingkan.
Maka kita perlu sesuatu yang dapat menjadi pedoman ideal agar tidak kebablasan dalam menyikapi tawaran konsep hidup yang disangka akan lebih baik dari sebelum abad renaissance.
Modernitas Harus Ada Otoritas Ilmu
Abad dimana otoritas ilmu melakukan pemberontakan besar atas otoritas agama. Hal inilah yang kemudian menjadi fokus utama dalam setiap penerjemahan makna dan langkah modernitas kini. Maupun beberapa masa yang akan datang yaitu metode untuk menuju tatanan yang lebih baik tanpa melepaskan nilai filosofis serta hakikat sebagai makhluk yang berketuhanan.
Perkembangan teknologi serta kemampuan kognitif telah memungkinkan kita untuk terhubung dengan dunia luar tanpa batasan dan hampir tak terkendali. Di era digital ini pula kita dapat dengan leluasa mengakses berbagai informasi dari belahan dunia manapun dengan sangat mudah.
Saking mudahnya dapat diibaratkan membuka jendela kamar maka kita telah dapat melihat bagaimana kehidupan global bekerja. Bagaimana mereka saling terintegrasi, mencipta pola yang dapat membentuk satu tatanan baru.
Modernitas Gerak Muhammadiyah di Tengah Wabah
Dalam pola integrasi tersebut, tak jarang kita menjumpai hal-hal kontroversial, ulah nakal politik global, perang dagang dan agama, konspirasi dunia. Dan dari sini pulalah kita menemukan sebuah realitas baru kehidupan masyarakat modern.
Dalam menyikapi hal ini, beban besar diletakkan di pundak Muhammadiyah sebagai pengemban gerakan dakwah Islam amar makruf nahi mungkar, dan tentu Muhammadiyah tak dapat bersikap bodo amat atas benturan sains dan agama yang kian menguat.
Salah satu tantangan global yang cukup besar hari-hari ini adalah upaya untuk tetap menjaga kecendekiawanan di tengah wabah covid-19. Nampak dalam pemberitaan media dari berbagai penjuru dunia tentang sikap masing-masing pihak terkait wabah ini. Dapat kita lihat bahwa umat manusia telah nyata terbelah menjadi dua kubu, yaitu kubu ilmuwan dan kubu agamawan.
Ilmuwan vs Agamawan
Kubu ilmuwan menganggap bahwa wabah ini murni persoalan sains dan cenderung menganggap bahwa penyakit dan mati hanyalah soal-soal teknis yang seharusnya dapat ditanggulangi manusia tanpa campur tangan dan kuasa Tuhan. Mereka menganggap bahwa masa depan umat manusia ada di laboratorium sains. Dan perihal mati atau bertahan hidup itu bergantung pada ketersediaan alat serta kemampuan kognitif tenaga medis.
Sedangkan kubu agamawan beranggapan bahwa wabah ini merupakan murni azab, bahkan ada yang menganggap bahwa covid-19 merupakan “tentara Allah”. Mereka hanya menghabiskan waktu dengan doa dan cenderung menyalahkan kelompok lain atas merebaknya virus ini. Cap kafir ada di mana-mana dan objek azab dengan sangat enteng dilemparkan ke kelompok-kelompok tertentu.
Baca Juga: Jabariyah dan Qadariyah Kembali Bertengkar
Sungguh dua kubu ini bukanlah apa yang dibutuhkan hari-hari ini. Mereka hanyalah produk dari pongahnya sains, dan pemahaman agama yang tidak tepat. Kubu ilmuwan mengabaikan wahyu, dan kubu agamawan telah mengabaikan akal. Tak ada hal yang lebih menyedihkan daripada hilangnya spiritual ilmuwan, dan matinya nalar agamawan.
Persoalan yang terus bermunculan hari-hari ini akan menjadi babak baru bagi pembuktian Muhammadiyah perihal sejauh mana ia mampu bertahan dan berjalan walau harus tertatih. Melangkah tertatih akan jauh lebih berarti daripada langkah yang terhenti.
Selalu Merefresh Strategi Dakwah di Tengah Wabah
Sebagai sebuah organisasi Islam yang besar, tentu Muhammadiyah tak lekang dari hambatan. Namun, hal tersebut takan pernah menjadi hambatan yang berarti apabila Muhammadiyah senantiasa me-refresh strategi dakwah dengan tetap berpegang teguh pada pedoman ideal yang diyakini sedari awal, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah.
Keinginan masyarakat untuk terus mencipta kemajuan selaras dengan visi dan misi Muhammadiyahpun selalu berupaya untuk maju dan mengimbangi perkembangan zaman. Namun, dengan ciri khasnya sebagai gerakan tajdid, tentu Muhammadiyah tak dapat dengan gegabah menghanyutkan diri dalam kemajuan zaman dan sekadar ikut arus semata.
Muhammadiyah harus mampu mencetak kader yang ilmuwan sekaligus agamawan, dan kader yang agamis sekaligus ilmuwan. Sungguh sangat dinantikan peran kecendekiawanan di masa-masa ini. Dengan demikian, diharapkan Muhammadiyah akan tetap eksis dan konsisten dalam melaksanakan visi misi serta cita dan tujuan gerakan.
Baca Juga: Kesiapan Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 dalam Isu Corona
Tak berhenti disitu, Muhammadiyah harus dapat tetap berpegang teguh pada pedoman ideal yang diyakini sedari awal serta mampu menyelaraskan antara akal dan wahyu. Mari terus pupuk harapan bahwa Muhammadiyah akan tetap hidup dan mewarnai gerak dakwah Islam. Tetap konsisten menginterupsi zaman dan mampu hadir sebagai sebenar-benarnya Sang Pencerah.