Dunia hari ini sedang disibukkan dengan pandemic virus corona. Terlihat dari berbagai Negara mengalami korban yang tidak sedikit. Diantaranya Negara-negara besar seperti China sebagai asal virus tersebut, di susul Amerika Serikat, Italia, Jerman dan lain sebagainya.
Tidak ada yang mengetahui kapan pastinya virus tersebut mulai menjangkit manusia, tetapi telah terkorfirmasi dari WHO (World Health Organisation) bahwa sedikitnya 1 juta manusia di bumi menjadi korban virus corona tersebut.
Indonesia sendiri tergolong Negara yang lambat dalam menangani arus virus ini, sehingga ketika virus tersebut mulai menjangkit, langkah-langkah yang di jalani masyarakat terlihat gagap. Akibat dari sikap Pemerintah yang terlalu abai dalam menyikapi kondisi tersebut. Dan barulah mulai mengambil sikap ketika para pejabat negeri mulai terjangkit, seperti menteri, artis dan para pejabat daerah.
Padahal dalam hal ini seharusnya pemerintah menjadi garda terdepan untuk memberikan edukasi kepada Masyarakat. Dalam upaya penanganan maupun pencegahannya agar tidak sampai menyebar ke seluruh negeri.
Sebagai contoh karena kelambanan pemerintah misalnya langkah perlindungan diri bagi masyarakat yang muncul dengan berbagai persepsi. Yang tidak sedikit mendapatkan informasinya berdasarkan dari perederan dari media daring yang sumbernya tak jarang belum bisa dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: Virus Khilafah Lebih Ganas dari Virus Corona
Asal ada judul anti corona masyarakat antusias untuk mempraktekkan. Padahal saat itu bisa saja pemerintah sudah ambil peran terlebih dahulu sebelum kabar tersebut merebak dan meluas. Pemerintah sebenarnya cukup mampu untuk melakukan langkah-langkah preventive untuk pencegahan awal sebelum virus tersebut benar-benar menyebar dan masuk ke dalam negeri ini.
Media Daring bagi Masyarakat
Tidak bisa dipungkiri bahwa hari ini, media Daring sudah menjadi Kitab kedua setelah kitab suci yang dijadikan pedoman bagi masyakarat. Tidak memandang dari agama apapun media Daring seperti membius masyarakat karena senantiasa menyajikan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Masyarakat butuh apa? Media Daring langsung menjawab.
Sungguh ironis memang bilamana keadaan ini terlalu bebas dan pemerintah tak mampu membendung. Alih-alih akan membendung justru peran pemerintah malah tergerus dan tergantikan oleh media Daring yang bebas tersebut karena pemerintah ketinggalan dalam mengontrol kondisi yang ada.
Sebagai contoh di atas, dijelaskan bahwa bagaimana masyarakat lebih mengimani apa yang tersebar di media Daring yang belum jelas asal-usulnya ketimbang pernyataan pemerintah itu sendiri. Seperti pernyataan Deutsch (dalam yilmas dan atalay, 2009) bahwa kepercayaan adalah perilaku individu, yang mengharapkan sesuatu dapat memberikan manfaat positif.
Revolusi Industri 4.0 Mengancam Kedaulatan
Sehingga sudah menjadi barang tentu bilamana pemerintah yang seharusnya menjadi lembaga terpercaya di tengah masyarakat malah kalah cepat dari media Daring yang tidak jelas tersebut, yang notabene sudah lebih dulu membius masyarakat secara luas.
Media Daring bak sebuah pisau bermata dua yang bilamana dimanfaatkan dengan baik akan dapat membantu manusia dalam memotong buah dan sayuran. Tetapi bilamana salah digunakan pisau itu dapat digunakan untuk saling menyerang di antara manusia. Logika ini seharusnya betul-betul di pahami oleh Pemerintah mengingat dunia akan memasuki revolusi industri 4.0 yang senantiasa akan memanfaatkan media daring sebagai media penghubung.
Baca Juga: Kebangkitan Aksi Mahasiswa: Belajar dari Ketika “Gejayan Kembali Memanggil”
Bakal berakibat fatal bilamana masyarakat sudah terlanjur mempercayai media daring ketimbang pemerintah itu sendiri. Bisa jadi nantinya tidak akan ada lagi sebuah kedaulatan bangsa yang ada hanya kedaulatan masing-masing Individu saja.
Bisa saja lagu kebangsaan akan diciptakan oleh masing-masing individu mengingat genre yang mereka sukai berbeda-beda, atau bahkan kitab hukum yang diyakini akan semakin multi-tafsir mengingat sudah hilangnya kedaulatan tadi. Kenyataan yang sungguh ironi.
Revolusi Industri 4.0, Indonesia Harus Apa?
Pemerintah sebaiknya memang harus bekerja lebih keras ke depan, entah dalam kondisi yang seperti apapun terlebih dalam situasi yang genting seperti saat ini. Sebab dalam jurnal design principles for industrie 4.0 scenarions.
Hermann, etc (2016) mengatakan ada 4 prinsip dalam menjalani revolusi industri 4.0 nantinya yaitu Kesesuaian, transparansi Informasi, bantuan teknis dan keputusan mandiri.
Dari 4 prinsip ini sepertinya pemerintah Indonesia belum memilikinya. Terbukti dari bagaimana cara pemerintah Indonesia menghadapi virus corona dibandingkan dengan dengan negara sekitar seperti Malaysia, Singapura, Korea Selatan yang mereka tergolong lebih siap dalam menghadapi wabah yang ada.
Sebagai contoh dalam kesesuaian, pemerintah Indonesia lebih memilih mengabaikan himbauan internasional sebagai lockdown untuk antisipasinya. Tetapi hanya mengeluarkan keputusan darurat sipil. Dalam konteks transparansi informasi, masyarakat lebih dulu mendapatkan informasi dari media daring non pemerintah ketimbang pemerintah itu sendiri karena keterlambatan dalam pembahasannya.
Butuh Kesiapan dan Kecepatan
Terlebih update dari media informasi corona terbilang lamban menurut masyarakat. Dalam konteks bantuan teknis, sudah terbukti dengan sempat langkanya APD bagi tenaga medis karena perilaku masyarakat banyak yang menimbun untuk diperjualbelikan. Apalagi dengan harga yang melambung tinggi.
Begitupun dalam edukasi masyarkat tentang pencegahannya yang tergolong kurang massif. Dan dalam keputusan mandiri mungkin pemerintah Indonesia lebih unggul dari negara-negara lain tetapi pemerintah tidak mempertimbangkan kondisi masyarakatnya sendiri yang tergolong belum mapan untuk bisa berjuang sendiri dalam menghadapi serangan virus corona tersebut.
Baca Juga: Ki Bagus Hadikusumo: Kecewa, Namun Tetap Setia
Revolusi Industri 4.0 memaksa siapapun untuk berbenah tak ketinggalan pemerintah Indonesia, yang mengharuskan untuk siap dan menyesuaikan arus yang ada bila tak ingin tergerus. Corona adalah satu contoh kecil di mana dalam menghadapinya butuh kecepatan dan ketepatan dalam menanganinya.
Tak sedikit negara-negara besar juga kualahan dalam menghadapinya tetapi mereka lebih siap baik secara SDM maupun fasilitas pendukungnya. Indonesia punya modal itu semua, tinggal pisau ini mau dihunuskan ke arah mana?
Penulis adalah Aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Tengah
Sumber Ilustrasi: nu.or.id