Melalui coronavirus, hari ini kita semua ‘dipaksa bercadar’ setelah sekian bulan, sekian tahun ada yang menzalimi cadar dengan berbagai stigma yang kurang patut. Bahkan termasuk saya, dalam beberapa kali tulisan yang saya buat saya termasuk kelompok yang tidak ramah dengan cadar.
Berbagai alasan dikemukakan untuk menampik cadar dari soal budaya dan tradisi Arab. Seperti cadar digunakan oleh istri nabi hanya ketika hendak ke toilet, karena faktor lingkungan Arab yang berdebu, atau laki laki Arab yang kerap tak tahan dan bernafsu ketika melihat perempuan, hingga alasan gender dan diskriminasi atas kaum perempuan.
Tidak hanya itu, perempuan bercadar juga kerap menerima intimidasi, perkusi, dan perlakuan buruk termasuk dianggap perempuan tradisional yang merendahkan dirinya dihadapan kaum maskulin hingga disebut perempuan fanatik, radikal, fundamentalis, hingga teroris.
baca juga: Ahmad Khan: Umat Islam Tertinggal Karena Tidak Punya Ilmu
Pendek kata, ‘sehelai kain’ yang dipakai untuk menutup mulut dan hidung bisa membuat seantero negeri heboh. Polisi menjadi ketakutan, para politisi kebingungan, aktivis feminisme terus mencela, para pembesar negara paranoid dan lain sebagainya. Berbagai cara dilakukan untuk membendung laju para perempuan bercadar ini agar tidak terus membesar.
Para petinggi negeri tak kalah garang. Perempuan bercadar seperti pesakitan bahkan lebih sadis dianggap bersalah sebelum terbukti bersalah, asas ‘praduga tak bersalah’ hanya slogan.
Tamparan Coronavirus
Hari ini coronavirus seperti menampar muka. Mereka yang kemarin anti cadar sekarang malah membuat edaran memaksa siapapun yang keluar rumah harus pakai cadar bahkan diancam denda bagi yang nekat tak mau pakai cadar, meski dengan model yang sangat buruk, tidak sedap dipandang karena kering sentuhan fashionable.
Ironisnya, cadar yang semula hanya disyariatkan terhadap kaum feminin sekarang malah ngawur, kaum Maskulin juga dipaksa pakai cadar, meski tak pantas, termasuk saya kemanapun pergi pakai cadar. Ini memang Tuhan sedang mengajak bercanda dan mentertawakan siapapun yang pernah perkusi dan membully cadar.
Tuhan saya minta ampun atas kesombonganku melecehkan syariat-Mu.