Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Tantangan Pendidikan Islam Era Milenial

RedaksiKS by RedaksiKS
November 30, 2019
in Ulûm ad-Dîn
0
Tantangan Pendidikan Islam Era Milenial
156
SHARES
920
VIEWS

Oleh: Imron Rosyadi[1]

Trisentra pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat harus dihadirkan kembali bagi generasi era milenial. Tujuannya agar terwujud generasi emas masa depan yang unggul intelektual dan anggun moral. (Prof. Dr. Din Syamsyudin)

TulisanTerkait

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

Secara umum tantangan tidak hanya pendidikan saja sebetulnya, di era milenial adalah bagaimana mengemas pembelajaran Islam yang tepat dengan generasi milenial. Kalau menurut saya generasi milenial adalah generasi yang tertarik dengan media sosial (medsos). Medsos itu kemasan yang harus kita ketahui, namun kontennya itulah yang harus kita isi juga dengan nilai-nilai Islam atau nilai-nilai kebaikan lainnya.  

Sebagaimana dalam konsep dakwah, Islam dari dulu ya gitu-gitu saja, jangan ditambahi ataupun dikurangi. Islam itu sudah sempurna. Jika isinya dikurangi, maka jadi tidak sempurna. Dan jika ditambahi maka jatuhnya menjadi bid’ah. Maka seperti dalam konsep majelis tarjih itu harus jelas, mana yang purifikasi dan mana yang dinamisasi. Oleh karena itu di era milenial ini yang perlu dikembangkan adalah metode dan kemasannya, menjadi lebih kreatif dan interaktif. Sehingga belajar Islam itu tidak bosan dan membosankan.  

Prinsipnya dalam teori pendidikan bahwa pembelajaran itu bukan hanya sekedar transfer pengetahuan tetapi terpenting adalah transfer nilai-nilai. Untuk mampu mentransfer nilai-nilai itu maka semua aspek dalam diri manusia harus dioptimalkan. Pendidikan itulah yang bertugas menyentuh semua aspek kemanusiaan itu. Terlebih di era sekarang yang serba digital, terkadang banyak nilai-nilai baik menjadi kabur dan terlihat abstrak. Hal ini diakibatkan adanya distrupsi kebaikan yang terjadi pada manusia diakibatkan digitalisasi manusia.  

baca juga Generasi Produktif dan Berwawasan Kebangsaan 

 

Oleh karena itu sebagai sebuah respon paling tepat dalam menghadapi tantangan era milenial seperti sekarang ini sebagaimana kaidah fikiyah yakni tetap berpegang teguh pada semboyan “Al-muhafazhah ala al-qadimi ash-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah” (menjaga perihal lama yang baik dan mengambil gagasan baru yang lebih baik). Yang baik dari adanya era milenial bisa dikembangkan, namun yang buruk dari adanya era itu harus ditinggalkan kalau misal tidak mampu diperbaiki.

Dengan demikianpun dalam dunia pendidikan Islam. Tantangan dan peluang harus dianalisa. Yang baik dari adanya era milenial ini bisa diambil. Yakni sebagai sebuah sarana dalam pendidikan yang lebih menarik dan ilustratif, sehingga membantu mempermudah pemahaman peserta didik.

Tapi yang buruk dari era milenial harus ditinggalkan, entah itu yang berupa nilai-nilai tidak baik dan materialistis maupun sikap hidup yang cenderug lebih egois dan lupa pada kehidupan sosial. Jadi demikian yang nampaknya dapat saya tulis sebagai urun-urun rembug terkait dengan respon kita (sebagai akademik) yang kecenderungannya sedang berada di era milenial.

[1] Ketua Lembaga Pengembangan Pondok Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta

Terkait

Tags: Islammilenialpendidikan
Previous Post

Di antara Nasihat Buya Hamka

Next Post

Memaafkan dalam Tradisi Jawa

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Memaafkan dalam Tradisi Jawa

Memaafkan dalam Tradisi Jawa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.